Archive for December, 2006

I Give Thank You God, For Your Born! (Mery Christmas Prenn!!)

Sunday, December 24th, 2006

Katakan padaku,
  wahai maut,
  Jawablah aku dengan terus terang, wahai kematian,
  Apakah yang kau dapat hari ini,
  Tangis dan ratap jiwa-jiwa yang fana?
  Tak ada tangis hari ini, kawan


  Karena sengatmu telah tumpul
  Dan menjadi tertawaan segenap alam.
  Lihatlah, langit cerah dan sang surya bersinar riang,
  Sang bayu melantunkan pujian di antara rindangnya pepohonan hijau
  Tak ada tangis dan ratap hari ini, kawan.

Dengarkan aku, wahai maut,
 
  Pasang telinga pada apa yang kuucapkan, wahai kematian,
  Untuk mendapat jawab atas keherananmu hari ini.
  Dia yang pergi hari ini adalah pahlawan kami
  Dia berjuang sampai mati bagi kami.
  Dia membawa cahaya kehidupan ke dalam kegelapan kami
  Dia menolong kami berjalan di bawah cahaya itu.

Dia yang pergi hari ini adalah
  gembala kami
  Dia menemukan kami di sudut-sudut negeri
  Ketika kami dalam kesakitan dan sepi
  Dia mengambil kami dan mengasuh kami
  Sampai kami menjadi kuat dan sehat lagi
  Dia membimbing dan menolong kami
  Berdiri di atas kaki kami, berjalan, dan berlari.

Dia yang pergi hari ini adalah
  guru kami,
  Dia melatih kami jati diri dan kebanggaan,
  Dia membawa kami mengepakkan sayap,
  Dan terbang ke awan dengan manuver-manuver sulit,
  Dia mengajarkan kami untuk terbang tinggi

Dengarkan aku, wahai maut,
 
  Pasang telinga pada apa yang kuucapkan, wahai kematian,
  Mengapa tak ada tangis dan ratap hari ini.
  Pahlawan kami, gembala kami, guru kami,
  Memang telah pergi,
  Tapi dia tidak pergi kepadamu, hai kematian.
  Dan dia tidak direnggut olehmu, wahai maut.

Dia memang pergi hari ini.
 
  Tapi dia pergi untuk mendapat mahkota kekal miliknya
  Dia pergi ke dalam kemewahan yang disediakan baginya,
  Disambut para malaikat dengan kidung surgawi
  Di antara tempik sorak orang-orang kudus,
  Senyum sang Bapa yang memeluknya dan berkata,
  "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia"

Dia telah menyelesaikan perlombaan,
 
  Dan Dia telah menjadi pemenang
  Mahkota kekal abadi dan kemuliaan sorga
  Telah menjadi kepunyaannya
 

Karena itu, kawan, tak ada tangis dan ratap hari ini.

PS: Merry Christmas buat semua yg merayakan. Selamat merayakan Natal dalam anugerah Nya. GBU All Abudantly!

Tiba-Tiba Rindu Pembangunan

Saturday, December 23rd, 2006

Ceritanya sore kemarin, aku bareng Ipan, Hendi, dan Rio menjelajah pedalaman Samarinda bak pasukan pramuka. Niatnya sih mau memancing (makanya dibela-belain pulang kantor jam 2). Tapi dasar pentium q ini memorinya pendek, jadi yg namanya mengingat sesuatu yg detail2, apalagi itu lampau,  memang butuh perjuangan hehe. Alhasil jadilah kami terputar-putar di dalaman Berambai (satu kampung di pelosok Samarinda) untuk nyari lokasinya. Kenapa aku sok tahu? Karena daerah ini memang lokasi KKN ku dulu, jadi ya memang kerap kesini. Tau banget kalau di pedalamannya ada bendungan yg sering dijadiin tempat mancing karena ikannya banyak. Cuma itu kan tahun 2003, nah sudah selang berapa lama, coba? (hehe…in fact, belum terlalu lama ya?). Syukuurr, setelah 1 jam-an putar2, ahirnya jalan ke bendungan tsb ketemu juga, dan kita berempat bisa memuaskan hasrat yg sudah menggantung itu.

Selama menunggu kail ku disambar ikan, aku jadi merenungi sesuatu. Perjalanan yg ‘tersesat’ tadi (sebenarnya nggak kesasar sih! Mereka aja mendramatisir!), membuatku tercenung. Bahwa diriku pelupa dan susah mengingat hal-hal yg detil, memang iya, namun sebenarnya keadaan di daerah tsb tidak berubah sama sekali dari 2003 silam. Semuanya masih tampak sama…kurang terawat, ndeso, tingkat kesejahteraan para penduduk juga terlihat jelas… Banyak memori selama KKN  dulu berseliweran di pikiran ku, tentang teman-temanku dulu, kegiatan kami ditempat ini, dan penduduk2nya. Dan entah kenapa,  aku jadi menuliskan (memblog) yg berikut ini…

@@@@@                                   @@@@@                              @@@@@                                                 

Pembangunan adalah kata ampuh yg dulu menjadi semacam "jimat!" Orde Baru. Kata itu segera membuat "alergi" para reformis. Anehnya setelah sewindu reformasi, para reformis terheran-heran. Meminjam Indra J Piliang (Pengamat Politik), kok tidak ada pembangunan?

Lihat saja contohnya di Berambai ini, jalan-jalan rusak, gedung-gedung sekolah makin banyak yg runtuh, dan hal-hal lain yg mengesankan adanya kemunduran. Apakah tidak ada pembangunan selama sewindu reformasi ini?

Jawaban atas berbagai pertanyaan itu, ujungnya "mengecewakan". Ada yg berpendapat "tidak ada pembangunan sama sekali". Ada yg lebih halus (eufimistik), "pembangunan tetap berlangsung, tetapi mengalami hambatan , atau kurang efektif".


D
ulu, demi pembangunan terlepas dari pendekatannya yg "mengekang kebebasan", mutlak diperlukan stabilitas politik dan keamanan. Sandingan kata pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi. Kue harus dibikin sebesar mungkin, baru dibagi-bagi. Artinya, pemerataan itu efek tetesan (trickle down effect). Itu dulu, paradigma Orde Baru.


K
enyataannya, pembangunan Orde Baru artifisial . Buktinya, di pengujung Orde Baru, kekokohan ekonomi Indonesia "terlibas habis" oleh badai krisis yg dahsyat. Ekonomi Indonesia ambruk. Kritik atas hakikat pembangunan mengemuka kembali. Ideologi pembangunanisme (developmentalism) disalahkan, dipandang sebagai "biang kerok kehancuran". Namun, kini para reformis kelihatannya harus membaca ulang sisi-sisi baik pembangunan.

Mental Penyeleweng


P
embangunan yg dimaksud berbeda dengan "pembangunan" ala Orde Baru. Pembangunan di arah reformasi sudah terdemokratisasikan. Artinya, ada suatu kemajuan yg dicapai dalam pembangunan tanpa harus meninggalkan prinsip-prinsip demokrasi, yg antara lain amat antikorupsi dan juga tidak membuat efek pemiggiran.

Terhambatnya pembangunan di era reformasi justru disebabkan oleh, ironisnya, masih bersimaharejalelanya korupsi, dengan kekuatan pelipatgandaan yg luar biasa.

Sentralisme pembangunan telah dikoreksi habis oleh para desainer pembangunan era reformasi, tetapi ironisnya, kemunculan "titik-titik kekuasaan" baru belum diimbangin dengan kehadiran mentalisme baru yg tidak korup.

Efek dari "tidak adanya pembangunan" adalah terpinggirnya rakyat, sebagai kaum marjinal. Aneh memang. Dulu pembangunan berimbas pada peminggiran kaum marjinal . Kini "ketiadaan pembangunan" juga sama.

Namun, jelasnya, rakyat tambah menderita kalau "tidak ada pembangunan" karena kondisinya stagnan. Rakyat bertahan ditengah dampak krisis yg efeknya demikian terasa. Industri kecil yg dulu sempat bertahan kini banyak yg betul-betul rontok, tak kuat menahan biaya produksi dan ongkos tenaga kerja.

Ketiadaan pembangunan, yg indikasinya juga terlihat dari mandeknya pembangunan infrastruktur, terkhusus lagi jalan raya, telah membuat aktivitas perekonomian ikut lumpuh. Biaya transportasi pengiriman barang, atau hasil2 pertanian misalnya, menjadi tinggi. Para petani, pengusaha menengah kecil, bahkan mikro, terengah-engah mempertahankan eksistensi usahanya.

Itu semua merupakan efek dari tidak bergeraknya sektor riil. Di level makro, kalaupun ada pertumbuhan, bersifat semu.

Tanggung Jawab Pemerintah

Presiden dan Wakil Presiden, Gubernur dan Wakil Gubernur, Walikota dan Wakil Walikota, serta Bupati dan Wakil Bupati  yg sekarang terpilih dalam pemilu langsung (katanya mendapat legitimiasi kuat) bagaimanapun memiliki tanggung jawab utama, yaitu menjamin terselenggaranya pembangunan nasional. Mereka punya visi dan misi yg harus diimplementasikan secara optimal, tetapi tetap berpegang pada prinsip-prinsip clean and good government. Jadi tugas pemerintah, di pusat maupun daerah, sesungguhnya berat.

Sementara itu dinamika politik harus terjaga dengan baik, agar lebih produktif dan tidak saling menyandera. "Politics", kata Bernard Crick, "can not make man good, but they can make it easier or harder for us to be good."

Reformasi sudah berjalan sewindu lebih, tetapi para elite di dalam maupun di luar institusi pemerintahan masih belum efektif. Maka, kini mereka pun meraba-raba "dalam keremangan" 

Rumah Ibadat: Ketika Tuhan-Agama Tak Berdinding

Friday, December 22nd, 2006

Tulisan ini
merupakan perspektif serta paradigma Q dalam menanggapi banyaknya sms,
keluhan, dan permohonan2 doa dari banyak rekan seiman yang  dilarang
bergereja, dan menjalankan peribadatan…dimana aku selama ini mmg
hanya bisa berdiam, berfikir, dan berdoa. (Expecially Vinie, Agung, Pien, Pdt Ardo, dan teman2 lain…terus keep on fire yach, tetap pray n’ hope! Really Love u all! GBU Abudanty!)

@@@@@                                        @@@@@                              @@@@@

Latar belakangnya memang sudah cukup lama. Bukannya mengusik lagi polemik tersebut, tapi memang semua berawal dr situ. Surat Peraturan Bersama (SPB) Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Agama Nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang Pedoman PelaksanaanTugas
Kepala Daerah/ Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat
Beragama, Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama dan Pendirian
Rumah Ibadat- yang merupakan revisi surat Keputusan Bersama (SKB)
Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 1969- telah
ter-tandatangani.

Selanjutnya, surat yg lebih dikenal sebagai sumber polemik ihwal pendirian rumah ibadah, -
termasuk yg memicu pelarangan ibadat - itu telah nyata memasuki tahap
implementasi di lapangan, dan sampai saat ini sdh cukup signifikan
menimbulkan ekses yg kurang baik dalam pengejawantahannya di dalam
kehidupan bermasyarakat yg majemuk. Seperti telah diduga sebelumnya,
reaksi yg terjadi adalah beberapa rumah yg dijadikan tempat ibadah
ditutup oleh warga. Penutupan lebih karena tidak terpenuhinya
persyaratan sesuai SPB.

Secara
tidak langsung tersirat bahwa terpenuhinya syarat sesuai SPB lebih
mulia dan tinggi nilainya daripada ibadat itu sendiri. Substansi ibadat
kepada Tuhan mengalami degradasi, tidak lebih penting dari persyaratan
pendirian rumah ibadat.

Transformasi Ibadat
T
erlepas
dari perdebatan soal perlu-tidaknya izin pendirian rumah ibadat (dalam
praktiknya mencakup pula izin beribadat), sisi positif masalah ini
membuka mata perihal keberagaman baru. Baru disini bukan berarti
pertama kali ada, tetapi baru dalam arti pemeluk agama disadarkan akan
ketidakterbatasan Tuhan yg menjadi tujuan ibadat, yg mestinya juga
terbawa dalam ketidakterbatasan cara beribadat kepada-Nya.

Mereka yg menentang SPB sebagai revisi SKB
mengatakan bahwa ibadat tidak perlu memakai izin. Setiap pemeluk agama
berhak untuk membangun rumah ibadat dan melaksanakan ibadat sesuai
keyakinannya, yg merupakan bagian dari hak asasi manusia.

Di satu sisi pernyataan ini benar dan
berupaya meletakkan konsep ideal beragama ditengah masyarakat plural.
Namun disisi lain juga menjadi absurd karena dengan menolak syarat izin
pendirian rumah ibadat yg sudah ditetapkan pemerintah, justru telah
mengingkari sifat ketidak-terbatasan Tuhan - yg berizin atau tidak ,
memenuhi syarat atau tidak,- tidak terpengaruh olehnya.
Ketidakterbatasan Tuhan mestinya akan membuka peluang, misalnya, cara
beribadat baru kepada Nya.

Bahwa
sekalipun ibadat harus mempunyai izin dengan tanda tangan ber- KTP dari
jemaah sebanyak 90 orang dan dari masyarakat sekitar sekitar 60 tanda
tangan sesuai syarat SPB, menjadi absurd jika disandingkan dengan
sifat ke-Maha-an Tuhan tadi. Izin  memang bisa menghambat pendirian
rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat dengan cara dan kebiasaan yg sudah
berjalan. Tapi peraturan yg dirasakan membatasi itu mestinya justru
membuka cara beribadah baru yg tak habis-habisnya, sesuai sifat Nya yg
Maha Tak Terbatas. Jika sudah bicara pada step
ini, urusan cara dan kebiasaan, rasanya tidak lagi menjadi hal yg esensial.

Tidak
ada alasan untuk mengatakan bahwa pendirian rumah ibadat dan
pelaksanaan ibadat terhambat soal izin diatas. Yang terhambat hanya
pendirian rumah ibadat dan pelaksanaan ibadat sebagai kebiasaan selama
ini, namun tetap tak terbatas dalam cara beribadat kepada Tuhan, yg
bebas dari ‘terkondisikan’  untuk meminta izin seperti disyaratkan.

Tuhan,
rumah ibadat, dan cara beribadat kepada-Nya bebas dari aturan politik
dan legitimasi sosial. Itu semua bukan soal perlu atau tidak perlu
surat izin , tapi memang substansinya  tidak mengenal izin karena
sifatnya yg transenden, rohaniah, bahkan imaniah, yg undang-undang pun
tak bisa menjangkaunya.

Dengan membuka wawasan dan kesadaran baru
tentang sifat kemahaan Tuhan, setiap upaya manusia  untuk membatasi
pendirian rumah ibadat (yg notabene diyakini  juga rumah untuk bertemu
dengan Tuhan, bahkan "rumah Tuhan") hanya menjadi penghambat kecil,
bahkan akan tergerus oleh sifat Maha Tak Terbatas. SPB tidak lagi
dipandang sebagai hambatan karena Tuhan akan membuka cara beribadat yg
baru dan kreatif. Sebuah transformasi ibadat. Mungkinkah? Hmm kalau kita yakin, why not? Tuhan gitu lho ;

"Tuhan Tanpa Rumah"
Pasca penandatanganan SPB yg bisa dilakukan ialah, mungkin, membuka seluas mungkin cara ber fellowship
baru yg tidak terbentur pada soal izin mendirikan rumah ibadat. Dengan
kata lain, upaya matematikanisasi  kegiatan spiritual -dengan syarat 90
jemaat ber-KTP dan 60 orang lingkungan sekitar sebagai "babtis politik"
pemerintah dan  "babtis sosial"  warga sekitar -agar ibadat aman dan
sah, perlu disikapi dengan membuka pintu "teologi" baru atas pendirian
"rumah Tuhan" dan rutinitas beribadat kepada Nya. Bagi yg memenuhi
syarat sih memang tidak menjadi masalah, namun ini kan berbicara dalam
kerangka solusi yg bisa menjadi alternatif pijakan bagi mereka yg
merasa peribadatannya terhalangi.

Perlu dilihat, bahwa sebetulnya tidak ada
yg hilang, sekalipun rumah ibadat tidak boleh didirikan atau bahkan yg
sudah berjalan ditutup. Meski rumah ibadat diidentikan sebagai "rumah
Tuhan", penutupan rumah ibadat tidak berarti "Tuhan kehilangan rumah".
Justru sebaliknya, pendirian rumah ibadat termasuk pelarangan dan
penutupan hanya karena tidak memenuhi syarat sehingga tak berizin,
mengingatkan kembali tentang substansi "Tuhan tanpa rumah".

Meminjam terminologi Kristen/ Alkitab,
dimana Anak Manusia (baca: Tuhan) tidak punya tempat untuk meletakkan
kepalanya. Jangankan rumah ibadat untuk meletakkan kepalanya, bantal
saja tidak punya untuk bersandar  :))  (Kalo ada pendeta yg baca ini, sory yach, ayat ini gua plesetin cuma buat joke aja kok, not serious). Ayat ini sebetulnya tidak berbicara di konteks ini sih, tapi rasanya ngepas aja kan?
Maksudnya adalah, "teologi Tuhan tanpa rumah"  ini justru membebaskan
agama dan umat untuk mencari cara ibadat yg tak terbatasi oleh bangunan
dan ritual-ritualnya.

Rumah ibadat adalah seluruh alam semesta,
yakni dimana saja dan ritual-ritual peribadatan langsung terefleksikan
pada keseharian hidup umat beragama dari iman, hati, pikiran,  ke
prilaku sebagai jantung dan etalase  ibadat itu sendiri. Selama ini
telah terjadi institusionalisasi ibadat, bahwa ibadat hanya dalam rumah
ibadat saja, dialuar itu dianggap belum atau tidak melakukan ibadat.

Agama Tanpa Tembok
Dalam konteks agama, matematikanisasi izin
pendirian dan kegiatan peribadatan didalamnya, justru membuka peluang
lahirnya agama tanpa tembok (religion without wall) sebagai
konsekuensi "teologi Tuhan tanpa rumah". Hal mana sejalan dengan
prinsip-prinsip universal agama bahwa bukan sekadar ditandai dengan
bangunan fisik atau ritual ibadat. Tetapi agama adalah organisme hidup,
kumpulan mereka yg percaya kepada yg transenden. Primary concern agama dalam hal ini ialah manusia dalam hubungan dengan Tuhannya, dan bukan semata tempat ibadat, dan simbol-simbol keagamaan.

Dakwah agama dengan demikian juga tidak terbatas pada komunitas jemaah lokal (at stated times), tetapi dengan terbebas dari sindrom pendirian rumah ibadat, agama justru dibukakan ladang dakwah baru dimana saja. Nah,
jika begini, sikap agama terhadap SPB yg mensyaratkan pendirian rumah
ibadat dengan demikian seharusnya disikapi kebalikannya, yakni dengan
menerima tanpa syarat (unconditional acceptance).

Saya sampai pada penerawangan, jika sudah begini maka agama
tanpa tembok dengan demikian menjadi visi dan cara baru beribadat. Ia
lebih mendorong praktik agama yg lebih inklusif dibanding sebelumnya yg
tetap mempertahankan etalase rumah ibadat, simbol dan  ritual yg
eksklusif.

Inilah
pokok terpenting  dari polemik SPB. Tidak perlu dikhawatirkan bahwa
SPB akan melarang hak beribadah seseorang. Meski fenomena rumah ibadat
ditutup dengan alasan tidak memenuhi persyaratan SPB, hal ini justru
menjadi batu penguji tingkat keberagaman seseorang.

Kita tahu bahwa memeluknya seseorang pada
suatu agama lebih karena panggilan yg bersifat transenden yg
diyakininya, bahwa dengan percaya kepada agamanya inilah ia menjadi
orang yg beruntung dan diselamatkan. Ini berarti memeluk agama
membutuhkan a call (sebuah panggilan). Dengan tidak adanya tempat ibadat, keberagaman seseorang justru dikondisikan untuk mendahulukan a call -nya (panggilan kepada agamanya) daripada sekedar tersedianya a wall (tembok rumah ibadat)

Sisi positif SPB ialah kemungkinannya melahirkan pola keberagaman baru yg kuat karena penekanan pada a call dan bukan sekadar a wall.
Panggilan agama yg tertoreh di relung hati yg paling dalam yg memancar
pada kehidupan sehari-hari dan bukan sekadar pergi kerumah ibadat
dengan mengusung simbol agama dan ritualismenya yg rentan.

Halaman Gereja Sebagai Sarana Komunikasi Yg Efektif

Tuesday, December 19th, 2006

Gereja merupakan kumpulan dari orang-orang yg dipanggil dari dunia kegelapan kedunia yg terang. Dengan kata lain orang-orang yg kebaktian didalam gereja adalah orang-orang yg diperbaharui dari dunia yg penuh dosa menjadi umat yg kudus. Dikuduskan oleh darah Kristus yg tertumpah di bukit Golgota. Yesus mati di kayu salib dan bangkit di hari yg ketiga. Umat yg percaya pada Kristus sebagai Juru Selamat patut bersyukur karena keselamatan yg diberikan Nya hanya karena anugerah semata.

Umat yg percaya kepada Kristus dosanya telah lunas dibayar. Anugerah terbesar yg telah diberikan kepada orang percaya tentunya haruslah disyukuri dengan wujud mentaati firman Tuhan. Bagaimana caranya taat kepada firman Tuhan tentu butuh proses yg amat panjang. Salah satu proses itu adalah penelaahan firman Tuhan di rumah maupun di gereja, di teras maupun di halaman gereja. Setelah keluar dari dalam gereja, jemaat amat efektif berkomunikasi di halaman gereja. Di halaman gereja bisa terjadi hubungan yg erat diantara umat percaya. Mereka bisa bernostalgia ataupun mensharingkan pergumulan masing-masing setiap hari. Para generasi muda dapat berkomunikasi untuk mengenal satu dengan yang lain. Dan, bisa saja ini berlanjut dengan pacaran hingga ke jenjang pernikahan.

Sungguh disayangkan ketika halaman gereja telah dipenuhi kendaraan jemaat. Setelah keluar gereja jemaat harus berdesk-desakan dan timbul polusi udara. Bayangkan, jika seluruh kendaraan memulai starting yg menimbulkan asap pekat yg mengandung logam berat (Pb) yg dapat merusak syaraf itu. Logam berat amat berbahaya bagi manusia, khususnya bagi ibu hamil dan anak-anak. Tidak hanya itu, kadangkala jalan raya yg dekat akan menjadi macet total. Kemacetan ini seringkali menimbulkan stres bagi jemaat yg baru pulang dari gereja maupun warga lain yg melewatinya.

Sejatinya, paradigma ini diikuti kesadaran jemaat maupun pengurus gereja. Warga gereja yg  memiliki kendaraan tidak memarkirkan kendaraannya di halaman gereja. Atau, ada kalanya warga gereja naik kendaraan umum, khususnya gereja yg tidak memiliki lahan parkir yg memadai. Keuntungan naik kendaraan umum adalah dapat berinteraksi dengan siapa saja. Interaksi ini amat penting, karena melatih kita untuk melihat masyarakat yg sesungguhnya.

Paradigma lain adalah, halaman gereja sejatinya menjadi jawaban kelalaian pemerintah yg tidak menyediakan sarana olahraga. Halaman gereja atau arsitek gereja sejatinya didesain menjadi sarana olahraga yg memungkinkan kegiatan berolahraga, seperti bola volley, basket, tenis meja, badminton, tenis lapangan, dan lain sebagainya. Sarana olahraga ini menjadi fasilitas bagi warga masyarakat siapa saja. Saya membayangkan ketika warga masyarakat diluar gereja berolahraga bersama dengan warga gereja. Jemaat lainnya menyediakan air minum atau makanan kecil bagi mereka yg lelah berolah raga. Jika demikian halnya, perlukah gereja membangun tembok yg pagarnya menjulang tinggi? Apakah gereja "diserang" masyarakat diluar gereja? Jika masih "diserang" biarlah Tuhan kita yg maha adil yg membalasnya. No other reason!

Sadar atau tidak, warga gereja seharusnya memanfaatkan olahraga sebagai sarana pencairan kebutuhan komunikasi. Dalam beberapa berita, warga yg sering "menyerang" adalah warga diluar sekitar gereja. Walaupun demikian, jika komunikasi kita erat dengan warga sekitar, maka warga sekitar yg bukan warga gerejalah yg menjadi sahabat kita. Seringkali kita baca di surat kabar, gedung gereja dijaga warga masyarakat yg bukan warga gereja. Jika warga gereja menjadi warga ekslusif, mungkinkah warga diluar gereja membantu kita?

Saya membaca, dalam seminar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Cawang beberapa waktu yg lalu, mantan bendahara umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Noviantika Nasution yg mengaku menjalankan syariat islam setiap hari, memilih UKI sebagai tempat kuliah karena olahraga basket di UKI dikenal masyarakat luas. Beberapa atlet nasional tahun di 80-an kuliah di UKI. Motivasi awalnya masuk UKI adalah sekedar menunggu satu tahun lagi untuk test masuk kedokteran perguruan tinggi negeri. Tetapi karena UKI memberi rasa nyaman dan sarana olahraga yg memadai, maka ia mengurungkan niatnya untuk ikut test lagi. "Aku amat betah di UKI karena sarana olahraga dan kehidupan yg plural. Di UKI ini saya belajar tentang makna pluralisme" katanya berapi-api.

Noviantika yg pengurus organisasi basket nasional hingga kini itu meyakini bahwa maraknya korban narkoba akibat pemerintah mengabaikan sarana olahraga bagi masyarakat luas. Pemerintah lalai membuat sarana olahraga agar masyarakat sehat dalam kesehariannya. Didalam olahraga ditanamkan jiwa sportivitas. Dengan sportivitas akan melahirkan warga masyarakat bermoral tinggi.

Warga gereja yg ada ditengah masyarakat yg multikultural harus mampu meyakinkan warga diluar gereja, khususnya kelompok masyarakat yg berpendapat bahwa iman Kristiani yg menerima keselamatan (salvation) oleh anugerah Tuhan menganggap bahwa keyakinan agama lain lebih rendah. Klaim warga gereja yg menerima keselamatan (salvation) hanya oleh anugerah Tuhan semata dapat menimbulkan kebuntuan komunikasi, dapat tercairkan oleh kegiatan olahraga. Melalui komunikasi yg eratlah, setiap warga yakin bahwa klaim keselamatan (salvation) tidak bermasalah dengan kehidupan sosial yg multikultural. Tuduhan kristenisasi dengan sendirinya terjawab oleh komunikasi dan hubungan personal yg erat.

Jikalau halaman gereja sebagai sarana olahraga bagi siapa saja, maka gereja efektif sebagai media pembelajaran kehidupan sosial yg plural.

Polemik Poligami…Please dech Infotainment!!

Tuesday, December 12th, 2006

Semalam nonton bicang2 ttg poligami di Metro.  Ada KH Abdurrahman Wahid jagoan gua!Beserta dgn KH Hasyim Muzadi. Lagi2 akur deh sama Gus Dur, yakni ttg polemik n’ ribut2 poligami ini semestinya dihentikan saja. Karena dari perkembangannya yang ada, polemik ini kecenderungannya sudah mengarah untuk mempersoalkan agama islam sebagai ajaran, bukan lagi kasuistis, dan kalau diteruskan, sangat berpotensi untuk jadi konflik.

Yang seharusnya dipahami masyarakat  dengan benar ialah, pada fase sebelum melakukan poligami, haruslah difikirkan serta mempunyai pondasi yg kuat (dlm hal kasih sayang kepada keluarga, ketaatan beragama, dan mentalitas yg baik). Praktek poligami harus dipikirkan dgn matang dan perlu pertimbangan, sebab praktek ini rawan melahirkan persaingan antar isteri dan antar anak. Jadi meski Allah tidak menghalangi, tp praktek ini harus difikirkan dulu, sebab keadilan menjadi aspek yg utama.   Nah, memperlakukan orang lain secara adil itu sangat susah, karena adil tidak hanya diukur dari hal2 yg lahiriah, tapi artinya semua pihak mendapat hak yg sama dan tidak menimbulkan keluhan. Karena mmg keadilan itu kan ukurannya dirasakan oleh yang memerlukan, bukan yg memperlakukan. Jadi kalaupun memang  berpoligami, namun tidak sekehendaknya sendiri dan  menyakiti yg lain, gitcuu..

Jadi konteksnya, seharusnya, bukan dipilah-pilah antara setuju atau tidak setuju poligami. Mendukung atau menolak. Tidak begitu. Harus dimengeti bersama juga, bahwa selain segi psikologis yg dirasakan kaum perempuan, namun penolakan poligami bisa berbahaya sebab mengarah pada penolakan hukum Allah pada agama Islam. sebab poligami diperbolehkan AlQuran. Menyitir Umar Shahab (dosen Univ.Paramadina), boleh saja isteri keberatan dimadu, karena mmg perempuan umumnya tidak mau dimadu, dan ini tidak ada hubungannya dengan hukum Allah. "Poligami berbayaha jika sampai pada sikap penentangan dan benci pada poligami. Apalagi bisa sampai mengarah pada perbuatan tidak menyenangkan pada orang yg poligami" demikian Umar Shahab.

So kalau gua sedikit  mengomentari campur tangan pemerintah ttg ini…hmm poligami tidak perlu dilarang, tapi diatur, iya. Sebab melarang dan membebaskan poligami, sama juga rentannya. Dampak sosialnya bisa sama. Dalam hal ini, kalau poligami dilarang, akan berhadapan dengan ayat2 AlQuran, namun jika tidak diatur akan menurunkan wibawa perkawinan, padahal perkawinan bukan proses melegalkan sebuah persetubuhan. Gua mengutip statement pak Nazarudin, Dirjen Bimas Islam "Jika poligami tidak diatur, orang bisa seenaknya kawin. Tidak memenuhi syarat untuk poligami, poligami lagi..Anak2 bagaimana, isteri bagaimana? Itu difikirkan. Anak2 dan perempuan itu kan juga manusia" top  banget pak Nazarudin! Jadi maksudnya, pemerintah tidak melarang poligami, karena itu kan firman, yg perlu dilakukan adalah mengatur, karena AlQuan pun sepertinya juga memberi batas yg tegas terhadap hal ini kok.

Back ke bincang2 Gus Dur dan pak Hasyim, masalah ini semua jadi ruwet karena pemberitaan media massa yg berlebihan. Terutama pemberitaan infotainment soal poligami Aa’ Gym yg cenderung kebablasan. Terlalu ngubrek-ubrek rahasia keluarga orang! Hoot shoot sih iya, tapi mestinya lbh bijaksana juga mempetimbangkan dampak sosialnya dr pemberitaan2 tersebut.
Apalagi pemberitaan ttg Yahya Zaini dan Maria Eva. Waduh dimana hal-hal begini nampak banget  melampaui kelaziman informasi. Hendaknya media massa yg ada menyadari bahwa selain tidak mendidik, penayangan yg melampaui batas tersebut juga meruakan kejahatan sosial! Penayangan gambar tanpa pakaian ‘terus-menerus’ merupakan kejahatan publisistik dan kekejaman keji terhadap keluarga yg bersangkutan, serta tidak mendidik terhadap anak-anak yg menonton di seluruh Indonesia. Dalam hal ini Yahya Zaini memang telah melakukan kesalahan besar dengan terungkapnya kasus hubungan mesumnya dengan Maria Eva. Tapi dampak penayangan yg berlebihan dr infotainment lebih besar dan masuk pd kategori kejahatan sosial. Jadi kalau kejahatan Yahya itu kesalahan saja, namun penayangan berlebihan itu kejahatan sosial.
But huuff, infotainment emang ribet sich, tayangan2 seperti itu susah juga ya menghentikannya, melalui himbauan atau jalur hukum ya gak mempan, karena infotainment adalah bisnis besar yg menghasilkan uang. Mungkin solusinya, harus ada gerakan moral melalui budaya dan kesadaran masyarakat untuk tidak menontopn tayangan infotainment. Matikan saja TV nya, atau pindahkan ke chanel lain yang lebih sopan. Gimana, ibu-ibu? ;)

Yang Dirindui

Friday, December 8th, 2006

"Aku tak bisa mencintaimu sebagaimana
aku mahu mencintai yang aku rindu"

Demi membubarkan kekaburan itu
Kusimpan tiap masa dalam cengkerang keras yang melindung
Seperti siput-siput laut di tepi pantai aku diam di gigi air
Merasakan isi hati dikikis badai yang datang menepi
Hai angin, ombak, buih-buih putih dan jerni dan batu karang kleras yang tegar,
resapkan di sukma kosong ini dengan cerita-cerita sebuah pantai sepi
Moga-moga berbaur kesedihan yang semakin pedih
pada cerita-cerita kau dan aku yang terasing dan tak pernah bersatu.

Lukaku yang terbuka kian parah waktu kusembunyikan diri
didalam cengkerang kosong menumpang kasih di daerah ini
yang tidak pernah aku jejaki, tidak pernah tanahnya aku miliki
dan tak pernah aku merasa dicintai
tak mampu menahan luka dicicipi air mata duyung berbaur dengan
kisah lampias kecewa sang kelasi lemas, aku tiba-tiba menjadi gemas dan berdoa.
Turunlah hujan, semoga bertambah penuh air laut
…semoga asin airnya takkan menjadi surut.

Tapi kenapa tetap lukaku terasa dihiris-hiris oleh ketawa alam penuh sinis?

Saat awan lebat menurunkan hujan
cengkerang terapung-apung didalam air
berpusar berpadu deru ombak dan angin
miring melintas di corong-corong udara
membawa bau asin di samudera air mata
merusuh dalam keluhan ku yang bersungguh-sungguh

Tenggelamlah aku didalam debur yang seolah menghancur
Tapi nanti! Kau harus tahu bahwa aku tidak akan apa-apa karena
sarat rindu yang kubawa itu sudah terlalu sehati dengan setia berbasa-basi

Sampai kapanpun luka itu parutnya akan tinggal dan kekal
lewat tempo waktu sembuh yang sangat perlahan dan penuh belas kasihan.

Perspektif Tentang Aa’ Gym dan Yahya Zaini

Wednesday, December 6th, 2006

 Tadi sore di kantor kita bak para pakar, membahas Aa’ Gym dan Pak Yahya Zaini, yg emg 2-2nya lg gress
beritanya. Meski rel nya berbeda; - Aa’ mempublish sendiri beritanya,
sedang Pak Yahya dipublishkan,- namun sebenarnya ada benang merah yg bs
ditarik dari kasus 2 tokoh ini. Yaitu sama2 ngeduain isteri, sama2
punya WIL, sama2 puber kedua lah istilahnya. Memang masing2 mereka
memberi ending yang berbeda pada kisah itu. Kalau Aa’ Gym setelah
menikahi secara resmi teh Rini segera mengadakan jumpa pers, guna
mengakui dan mengisyaratkan bahwa dirinya dapat berlaku adil pada kedua
isterinya…sementara Yahya Zaini sampai saat ini masih ngumpet dan
membiarkan rekaman Vcd nya memberikan penjelasan sendiri pada
masyarakat secara bebas. Sikap2 inilah yang lantas memberikan warna yg
berlainan terhadap penilaian publik bagi keduanya. Aa’ Gym relatif
susah untuk disalahkan karena, pertama sdh menikah resmi dan bersikap
terbuka. Ditambah pula, teh Ninih yg berkata menerima keputusan
suaminya. Lagipula yg plg penting disini, dalam Islam poligami memang
diperbolehkan. Jadi meskipun sebetulnya cukup banyak kaum wanita yang
menyesalkan pernikahan tersebut, tapi ya mau gimana, karena memang
sesuatu itu kalau dari dasar alasannya sudah kuat, repot juga utk terus
menerus disalahkan. Bisa saja memang, misalnya diomongin "Apa iya, Aa’ bisa adil?", atau "apa bener itu karena kepentingan dakwah, bukannya karena syahwat?",

namun seyogianya kita patut menyadari bahwa setiap orang mempunyai hak
untuk mengatur dirinya sendiri. Jika kita memiliki hak untuk menilai,
sadari juga bahwa itu karena Aa’ sdh melangkah didalam haknya untuk
menikah lagi. Terlebih, ini tidak melanggar apa-apa, dalam hal ini
peraturan agama dan hukum, apalagi isteri tua serta orang tua Aa’
menyetujui, maka jelas tidak ada yang dirugikan disini. Jadi apabila
kita belajar untuk tidak berlaku subjektif, maka sebetulnya urusan
poligami ini tidak perlu menjadi panjang. Nah, hal ini berbeda sekali
dgn wakil rakyat kita, pak Yahya Zaini yang sampai skrg masih
 to be continue, mau kemana kasus ini dihilirkan. Diluar statusnya sebagai wakil rakyat, masalahnya beliau affair,
dan terbukti melalui rekaman pornonya, melakukan hal yang zinah
dibelakang pernikahannya. Secara agama dan hukum ini pelanggaran. Dan
secara subjektif, kembali lagi kita wajar saja menggunakan hak kita
untuk ngomong "Ya ampuun, bener-bener deh,…"


Sebentar, ini bukan artinya gua bersikap membenarkan dan setuju poligami.
O nggak! Sikap diatas adalah kerangka fikir objektif yang mestinya kita
punyai bersama untuk memilah-milah suatu persoalan, diantara sekian
ragam pendapat bebas yang  dimiliki setiap orang. Ya dong, meskipun
kita punya penilaian sendiri terhadap suatu kasus nih, tapi jelas harus
ada center opinion yang bisa kita jadikan landasan untuk
bertindak, dan ini mesti dilihat dari aspek2 yang matang; misalnya
landasan, dasar teori, ukuran objektif, dll. Jadi itu yg membuat
tindakan2 kita tepat, nggak terbawa emosi, perasaan, atau sentimen2
tertentu. Ok, back to this case, seperti yg gua katakan diatas,
bahwa kesimpulannya memang begitu. Aa’ Gym tidak bisa disalahkan karena
dari apa yang dibuatnya itu tidak ada yg dilanggar, bahkan kelurganya
sendiri welcome saja. Urusan kita atau orang2 mau tidak setuju,
ya itu dipersilakan. Sementara Yahya Zaini, alih2 dilihat dari sudut
agama, yang gua yakin semua kitab suci memiliki referensi ayat yang menjudge perzinahan, tapi delik hukum nya juga sepertinya ada bahwa isteri bisa menuntut jika suami kedapatan affair
dengan org lain. Lagipula patut diingat bahwa isteri Yahya berbeda
sikap dgn isteri Aa’ yg bisa menerima diduain. Isteri Yahya sangat
menentang hubungan suaminya dgn Maria Eva, jadi ini jelas dapat
dikategorikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jadi menurut gua,
mau dibahas seperti apa juga, hasil akhirnya tetap mesti begitu. Salah
benarnya itu dilihat dari fakta yg jelas.

$$$$$$$$$$$$$ $$$$$$$$$$                            $$$$$$$$$$$

Now, dgn tidak mengurangi hormat
terhadap hal2 yg sudah gua utarakan diatas, sekarang meski tidak
penting, gua  merasajuga ingin memakai hak untuk berpendapat secara
subjektif. Bukan artinya dualisme atau mencla-mencle, tapi yang ini
pokoknya gua banget deh! Kata hati q, gitu hehe…


Bahwasanya perlu diingat antara Aa’ Gym
dan Pak Yahya Zaini itu adalah sama2 tokoh. Yg 1 pemuka agama, dan
lainnya wakil rakyat. Jadi secara serampangan saja kita dapat memandang
derajat ketokohannya. Bahwa apa-apa yg sdh mereka lakukan adalah wajar
saja jika diberikan perhatian dan menuai judgement dr publik,
namanya juga tokoh ya memang begitu.
Yang mau gua sampaikan ialah, sepertinya gua kok merasa samasekali
tidak ada perbedaan apa-apa antara yang dilakukan oleh Aa’ Gym dan
Yahya Zaini. Maksudnya, biarpun diselesaikan dgn cara yang berbeda (Aa’
Gym menikahi teh Rini, sdg Pak Yahya tidak), tapi secaea esensial,
hakekat perbuatan mereka itu sama saja.


Mari gua jelaskan. Sejujurnya ini
berangkat dari hati nurani gua yang anti poligami. Ya dong, gini2 diri
q menjunjung tinggi sebuah arti kesetiaan. Hmm bisa saja sih siapapun
berdalih bahwa ’setia’ itu artinya luas, atau gak serta merta org
menikah lagi itu bisa disebut gak setia, ya emang, tapi whateverlah.
Masalahnya, setia itu aspeknya kan hanya tertuju pada ’sesuatu’, ’satu’
(seseorang) atau ’selalu’. Nah bila ia sudah terbagi, kesetiaan
tersebut sudah tidak utuh (bah, kata apa pula itu ’setia tidak utuh’,
padahal yg ada ya ’setia’ atau ‘tidak’!). Kongkritnya, seorang suami
memberikan cinta dan kasih sayangnya (dimaksudkan adalah cinta dlm
bentuk memiliki) hanya kepada isterinya, begitu jg sebaliknya. Jadi
seorang suami merupakan milik isterinya 100 persen, sebaliknya pun
begitu. Masalahnya, begitu suami berpoligami, segala sesuatunya
otomatis berubah. Isteri jadi harus rela berbagi. Tidak lagi memiliki
suami dgn mutlak, karena isteri yg lain pun punya hak yang setara
dengan dia. Sang suami pun mesti memulai untuk membagi-bagi kasih
sayangnya dengan kedua/ atau beberapa isterinya, minimal fivety-fivety lah. Tdk bisa juga berat sebelah, karena ini jadi lebih tidak adil lagi. Mungkin ada suami2 yg berkata "O, saya nggak begitu. Saya adil, saya beri isteri tua 100 %, yg muda juga 100 %"
hehe punya cinta 100 % saja kadang2 masih suka cekcok, beda pendapat,
atau  ‘gesek2an’, nah sehebat apa pula upaya seorang laki2 untuk
meningkatkan cinta didalam dirinya shg menjadi 200% ? Dengan menikah
lagi itu kah? :). Gua cuma mengingatkan, tolong tolak ukurnya jangan
dari waktu yg ini (sdh berpoligami), namun waktu dulu sebelum anda
menikah. Dlm hal ini, jelas akan kembali pada perasaan isteri pertama
sich.  Waktu itu kan, cinta, tubuh, perhatian, dan materi suaminya
hanya untuk dia seorang…lha tapi sekarang…digilir rame2, itupun
suami masih berkata ‘itu adil’ , halah! Rasanya cukup jelas, mengapa
halnya isteri2, bagaimanapun juga tetap sulit menerima keputusan
suaminya untuk poligami. Ini memang suatu keadilan yg dipertanyakan.


Nah dr segi perasaan wanita (ceilah :p ),
sory semuanya mmg bersumber dr sana. Gua mengembalikan hakekatnya
kepada tujuan pernikahan. Apa sih yg mau dicapai? Saling mengisi,
mencintai, dan memelihara…ini bukankah untuk masing2 bertujuan
membahagiakan pasangannya?  Kalo soal mencintai saja, tapi nyatanya
pasangan kita gak bahagia, gimana? Bisa lho! Atau sama juga
persoalannya tg jawab kita merawat isteri, menyanguinya dgn materi yg
berkecukupan, bahkan bisa jadi berlebih..tapi isteri masih juga bisa
merasa tdk bahagia, ini jg gimana? Maksudnya jelas, bahwa persoalan
nikah itu tdk urusan kita mencintai, memelihara, atau mengurusi isteri
saja, tapi bagaimana saling membahagiakan satu dgn yang lain. Ini  dia
yg gua maksud, aspek yg utama disini ialah perasaan si isteri. Ingat
duong janji di depan penghulu/imam/pastor/pendeta/dll "Saya berjanji akan mencintai dalam keadaan suka, duka, miskin, kaya, senang, susah…" itu kan maksudnya tidak lain membahagiakan pasangan. Perlu recheck
lg secara mendalam, apa benar dgn menikah kembali itu membahagiakan
isteri? Jika isteri sedih, atau melepas dgn berat hati, menurut hemat
gua, itupun sdh termasuk perlakuan tidak adil!


Tadi gua baca Kaltim Post (koran lokal), 2
prof perempuan Samarinda, Prof Hj Siti Mulia (Guru Besar, Dekan Fak
Dakwah IAIN Smd) dan Prof Hj Suwinah Alwy (Ketua Aisyiah Kaltim dan
Guru Besar Fak Ekonomi Unmul) berkomentar disana. Mereka jelas2 tdk
setuju dgn tindakan Aa’ Gym yg sering mengkhotbahkan ttg keluarga,
seharusnya tdk malah berlaku demikian. Bu Suwinah mengatakan memang dlm
agama Islam, itu diperbolehkan tapi tdk dianjurkan. Artinya kalau tdk
dianjurkan, ya lebih baik jangan. "Isteri itu dimana-mana mmg
dianjurkan untuk mengalah, dalam Al’quran juga dianjurkan begitu. Kalau
menerima suami menikah lagi dgn ikhlas, itu surga upahnya. Saya salut
dgn isteri Aa’ Gym dia semoga dia menerima surga"
demikian
Bu Wien (laporan langsung neh hehe). Gua lgsg mikir, menerima dgn
ikhlas, ya karena  dia mmg harus begitu, mau gak mau krna suaminya
panutan org banyak, mau gak mau karena dia mencintai suaminya. Nah
dalam hatinya, cuma dia yg tahu. Ya, sama kaya Bu Wien, gua jg salut sm
isteri Aa’, tdk buat Aa’ nya.
 

Ada juga laki2 poligami yg pernah bilang sm gua "saya gak pernah membanding-bandingkan isteri2 saya. Masing2 punya kelebihan dan kekurangannya".  Hehe gua sih mikirnya masa iya sih kaga
dibanding-bandingkan? Wong namanya org hidup itu dimana-mana beda
banget satu dan yg lain (tubuh, karakter, dan habit), lha dlm menilai
itu saja kan sudah proses memperbandingkan. Nah kl sudah membandingkan,
jelas ada yg lebih dan yg kurang duong. Bisa jadi lbh
comfort sama yg muda, atau bs juga sm isteri tua. Next dr situ saja, sdh rentan munculnya pembeda-bedaan one and another. Mungkin dr luarnya sih bisa memperlakukan dgn sama, tapi rasa sayang itu kan timbulnya dari dalam hati, man! Ini bermula dr penilaian2 yg dilakukan kepada para isteri, rite?


   
Oia lupa, gua kutip lagi kata2 Bu Wien lagi "Bahwa
sebagai panutan masyarakat yg sering mendakwahkan kebahagiaan keluarga,
Aa’ Gym tidak semestinya poligami walaupun dia bilang itu diperbolehkan
dlm islam. Karena org itu cenderung melihat kelakuannya, bukan
omongan2nya saja"
SETUUUJUU Bu’. Mohon maaf, sedikit gua memasuki
area agama nich ya, bahwa jika dalam islam poligami diperbolehkan namun
tidak dianjurkan, artinya ya memang begitu, bukan? Tidak dianjurkan,
kemungkinan mmg dgn pertimbangan, susah umumnya bagi suami utk berlaku
adil pd isteri2nya, dan mempertimbangkan perasaan isteri juga, tentu
saja. Setahu saya Nabi Muhammad SAW juga pernah melarang menantunya
menikah lagi, karena tidak ingin perasaan puterinya (Fatimah) disakiti.
Nah, back to Aa’, dlm kapasitasnya sbg pemuka agama yg dinunut
banyak org, jelas jd susah membedakan dia menggunakan haknya
(diperbolehkan dlm agama), atau menganjurkan! Karena org pd umumnya
memanuti tokoh pujaannya tidak cuma dari omongannya saja, namun tindak
tanduknya juga.
D
isamping rasa hormat saya kepada Aa’Gym, gua
mmg merasa berkeberatan yg mutlak terhadap keputusan Aa’ Gym
berpoligami. Pd tahap ini, gua sempat membandingkan dgn kasus Pak Yahya
Zaini yang, maaf, gua rasa lbh baik cara penyelesaiannya. Lha kok? Iya
dong! Maksudnya, faktanya, pak Yahya saat ini sdh tidak pernah lagi
berhubungan dgn Maria Eva, putus hubungan. Bandingkan dengan Aa’ yg
menikahi teh Rini. Maaf, gua bicara dr sudut pandang keutuhan sebuah
keluarga. Bahwa adalah benar Pak Yahya pernah affair dgn kekasihnya
(katanya sih saling mencintai), tapi isterinya menentang keras (bahkan
mengancam si wanita), dan pak Yahya menurut, memutuskan hubungan. Apa
ini bukti ia menyayangi isteri dan keluarganya (serta reputasinya), ya
bisa jadi! Rekaman itu terjadi tahun 2004. Menurut gua, dlm hal ini,
karena keputusannya meninggalkan Maria Eva, keluarga mereka (Yahya dan
isterinya) bertendensi bisa rukun kembali. Yg jelas, dgn meninggalkan
kekasihnya, pak Yahya bisa dibilang membahagiakan isterinya…urusan
maaf-memaafkan itu urusan mereka nantinya. Gua pikir ini gak beda dgn
yg dialami Aa’ . Maaf saja, sebelum menikahi teh Rini, yg jelas mereka
sudah berhubungan (perkenalan dan proses saling cintanya itu lho), ini
bukankah sama juga dikategorikan perselingkuhan? Cuma mmg tingkatnya
berbeda, kalau Pak Yahya sdh bersetubuh (ada buktinya), Aa’ Gym belum
tentu. But for me, mereka sama2 selingkuh, yaitu sama2 punya WIL. But, endingnya
diselesaikan dgn cara itu tadi, Pak Yahya memutuskan hubungan, dan
jelas memihak pada isterinya, sementara Aa’ Gym kebalikannya menikahi
WIL nya dan menduakan isterinya.Dari pola pikir ini, saya kok justru
respek sama Pak Yahya. Urusan dia khilaf selingkuh, haha nobody;s perfect
lah. Oia, satu lagi, memang mungkin juga pak Yahya memutuskan
hubungannya itu karena faktor menjaga reputasinya sbg wakil rakyat,
takut kalau terbongkar nanti berabe. Ya, gua fikir apa salahnya, justru
baik saja dia masih memikirkan bagaimana seharusnya seorang wakil
rakyat bertingkah laku, bahwasanya yg dia buat itu parah, dan makanya
tidak bisa diteruskan! Dan dia berhenti, terus terang gau cukup
simpatik dan kasihan melihat dia dan sekeluarga sekarang tidak berani
menampakkan muka di muka umum akibat malu dgn semua yg pernah
dilakukannya. Mungkin mereka skrg sdg benar2 tertekan dan serba salah.
Dibandingkan dgn ini, Aa’ Gym jg sebetulnya sama. dia juga menokoh.
Seharusnya bisa menimbang berbagai secara matang. Terus terang gua dr
semua ucapannya waktu jumpa pers, gua blm bs menangkap alasan
sesungguhnya dari mengapa dia poligami. Dia hanya berkutat di landasan
bahwa agama Islam memperbolehkan, namun alasannya gak jelas banget.
Tapi justru dgn begitu dia sangat menjelaskan bahwa, sebenarnya mmg
tidak ada alasan lain utk pernikahan keduanya itu, selain dia memang
kecantol sm teh Rini, thats all! Nah, sebagai pemuka itu, yg
gua sesalkan, dia mestinya berfikir lbh dalam utk memutuskan sesuatu.
Gak salah kan jika gua membuat hipotesa, bahwa trend poligami di
Indonesia kedepan akan makin marak karena Aa’ Gym mencontohkan
demikian?  Ya, sgt mungkin duong.

W
aa gak terasa sdh panjang hehe…yach mmg asyik sich membahas ini,
kayak tadi dikantor juga seru banget, ngalor ngidul melebarnya. Karena
semua org bs mendudukkan persoalannya dr perspektif masing2. Secara
umum saja, pria dan wanita kemungkinan besar berbeda pandangan dlm
menanggapinya. But yg jelas, gua mikirnya, kl ditarik kesimpulan,
intinya kembali jg pada seorang manusia yg hakiki. Aa’ Gym jg manusia.
Wakil rakyat apalagi, juga manusia. Lha kita ini, ya sama juga
lhaa…manusia gitu lho! Bisa ini dan bisa itu..punya plus-minus, n’
wajar2 saja dlm melakukan berbagai khilaf dan  kekurangan. Mari kita
belajar saling memaklumi dan didewasakan melalui itu. Amieeeeen
Hahaha!!
 

Setulus Hati

Tuesday, December 5th, 2006

Ketika Langit Tak Mampu Bicara

Ketika langit tak mampu bicara
ia mengukir luka yang tak bisa diratapi
Ketika senja harus memilih,
ia selalu menoreh luka dihati sesiapa yang mencintainya

Ketika kau berkata, kau tak pernah memberiku
Buku ini menjelaskan, karena kau salah,
Kau tlah memberiku semua cintamu,
yang kusimpan dalam peti kedap berkunci
sehingga ia tak pernah bisa pergi

Kini peti itu tlah kubuka,
Dalam bisik lemahku,
"…pergilah, kemana hati membawamu…"

Ku tlah lewati masa mencintai untuk dicintai.
Walau kau pergi entah kemana
Cinta itu tetap disini
Di tempatnya

Menunggumu
Walau tak harap kau ‘kan kembali
::

“Hantu Jeruk Purut”, gak syereem…

Tuesday, December 5th, 2006

Haai!! Senangnya…akhirnya bisa memulai blog ini!  Sudah lama sih pingin nulis blog tapi terkendala mulu, ya waktu, ya sibuk, belum lg shooting, Gubrakss!! Tapi gpp, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan? Pepatah Arab kuno bilang, "Perjalanan seribu Mil dimulai dr ayunan langkah pertama" tul kan? Aduh, sory yach, gua bukan mo ngomongin filsafat kok disini, but biarlah falsafah yg baik bisa q munculkan didalam penyajian dan pengekspresian diri q melalui blog ini nantinya…
Mo cerita dulu neh, baru aja sepulang kantor, sama2 temen2 ngeceng ke SCP mall. Bayangin saudara2, mandi belum apa belum, lgsg hampir 10 org pecicilan gak karuan numprek gak jelas tujuannya di mall. Sambil semuanya pegang2 juice cup gitu, petantang/ teng  kesana/kemari serasa empunya mall :)) . Acaranya sih biasa, makan pizza, trus  naik turun puter2 sambi gosip…Nah, gak tau sapa yg mengarahkan, tiba2 kita sdh nyampe di studio 21…hayuu ngapain lg sih nginjak bioskop kalo bukan ujung2nya nonton?! Begitu Meli dan Ina sudah rentet2 ngantri karcis, gua yg tadinya interested bgt mo ntn (sdh 3 bulan gua gak ntn!), begitu liat film nya lgsg Ilfil, saudara2! Gimana tidak, 4 studio menampilkan 2 film Indo yg 2-2nya horor! Yaitu ‘Bangku Kosong’ dan ‘Hantu Jeruk Purut’ (itupun, judul yg terakhir ini diputar di studio # 1 dan 2 krn mmg new release disini).
Asli aja, gua sebenernya kurang respek sama film2 Indo, khususnya kalo itu horor. Bkn masalah tdk menghargai karya anak negeri, tapi gua merasa dari sekian film2 Indo, never once yg bisa benar2 "menggigit" ato menginfluence my self seabis gua tonton. Mmg ada c bbrp yg bs diberi kriteris ‘oke’ krn barangkali diperankan oleh aktor/tris yg kualitas actingnya lumayan, tapi tetep aja gak mengimpact gitu. Paling sepulang bioskop cuma bs dikomentari "bagus ya…", next cerita2, dan tdk lama dr itu, jelas sekali bs kita rasakan bahwa itu cuma sekedar jadi selingan otak yg mirip pesan sponsor gitu (numpang lewat)

Singkat cerita, meski gak gak minat sama film nya (coz 1 film barat yg ada, sprtinya tampilannya jg krg menjual…ttg penari2 gitu deh), akhirnya kita masuk juga. 1 banding 9 suara, Im nothing! Nahh setengah jam didalem, apa yg gua perkirakan benar2 kedapetan! "Hantu Jeruk Purut" itu MENJEMUKAAANN…Aseli, didalem bioskop gua lbh banyak Sms an dan makan!
Kenapa sih org Indo itu kalo bikin film horor sepertinya cuma nonjolin aspek kaget-kagetan aja? Ni trend atau mmg dangkal proses kreatifnya? Gua mengupasnya HJP (Hantu Jeruk Purut) aja, buanyak sekali hal2 yg gak rentet disitu, baik dalam logisme alur, konflik2 tokoh yg gak nyangkut satu sama lain, dan kagetnya itu selalu begitu (kebayanyakan ujung2nya pasti mimpi!). Iya gua ngerti kisah ini diadaptasi dr kisah nyata or legenda -lbh tepatnya Sas-Sus kali ya, yg terdapat di masyarakat, dimana pekuburan Jeruk Purut itu mmg benar2 riil. Tapi kan plot2 dan penokohannya sdh jd fiksi, mbok ya kualitas penggarapannya diperhatikan, gitu.
1. Pada bagian prolog, ada 3 abg ke TPU Jeruk Purut, itu gak bs nangkep kok tiba2 aja bs nyampe sono?
2. Mbak Ega -penulis pertama, itu novelis atau wartawan sih? Soale tulisan yg dibuatnya, beranjak dr fakta2 itu (bs dibaca yg diketiknya di laptop) itu bkn novel, tapi resume dr penelitian2nya ttg kejadian2 yg sdh terjadi. Trus coba liat deh waktu dia mati, kan janggal bgt, kok msh bisa nelpon minta tulisannya dilanjutin..ntu kapan dia call sih?
3. Liat deh mamanya Alin, konfliknya itu gak nyambung bgt dgn isi film? Seorang isteri dicerai yg terlalu dipaksakan jd ‘lemot’ gitu. Dipaksakan maksudnya buat sekedar bs nambah2 ketegangan aja, coz dia suka manyun2 gitu. Aseli gua tadinya ngira ni tante nyimpen masa lalu yg berhubungan dgn cerita hantu itu, soale karakternya sok misterius amat…eh rupanya dia cm selipan aja, alias perannya gak singkron.
4.Yg ini kurang penting…Hm konflik cinta segitiga antara Alin, sohibnya dan co sohibnya itu, gua ngerti mmg cuma bumbu cerita. Tapi yg ada disini benar2 sekedar jd bumbu banget hehe…maksudnya, bumbunya hambar. Tidak menambah kelezatan isi film. Menurut gua, sebetulnya bs diangkat lbh serius lagi biar menambah ‘gizi’ film agar gak cuma menjual jerit2, dan lari2 tunggang langgang.
5. Hmm trus pada perhatiin gak..shoot gambarnya rada kacau tuh, suka goyang2 keatas kebawah, jadi kita bisa oleng juga nontonnya. Maksud gua bukan waktu adegan lari2 gitu, tapi pas lagi diem, misalnya lg ambil gambar lokasi pekuburan, atau kota Jakarta gitu, coba deh perhatiin. Sepertinya rada gak bagus di proses editingnya juga.

Intinyaa..dlm jenis apapun, mo horor kek, action, drama, atau komedia sekaliun, bobot cerita dan silogisme sebaiknya harus dijaga  dgn cermat. Jadi gak berkesan asal jadi, ‘kalo horor ya pokoknya horor aja’. Tapi suatu karya yg baik itu, mestinya kan ada ‘oleh2′ yg bs dibawa pulang untuk diimpact dalam aplikasi hidup kita, apapun itu bentuknya. Duh, bukannya gua sok mau belajar jd kritikus sich, tapi namanya jg suara konsumen itu kan disadari ato tidak, tujuannya selalu menginginkan hasil yg lbh baik lagi utk kedepannya…
Yg pastee…gara2 kelamaan di bioskop, kita semua jd keujanan pas lari2 ke t4 parkir secara lagi hujan lebaaaat…Basaaaaaaaaahhhhh