Tadi sore di kantor kita bak para pakar, membahas Aa’ Gym dan Pak Yahya Zaini, yg emg 2-2nya lg gress
beritanya. Meski rel nya berbeda; - Aa’ mempublish sendiri beritanya,
sedang Pak Yahya dipublishkan,- namun sebenarnya ada benang merah yg bs
ditarik dari kasus 2 tokoh ini. Yaitu sama2 ngeduain isteri, sama2
punya WIL, sama2 puber kedua lah istilahnya. Memang masing2 mereka
memberi ending yang berbeda pada kisah itu. Kalau Aa’ Gym setelah
menikahi secara resmi teh Rini segera mengadakan jumpa pers, guna
mengakui dan mengisyaratkan bahwa dirinya dapat berlaku adil pada kedua
isterinya…sementara Yahya Zaini sampai saat ini masih ngumpet dan
membiarkan rekaman Vcd nya memberikan penjelasan sendiri pada
masyarakat secara bebas. Sikap2 inilah yang lantas memberikan warna yg
berlainan terhadap penilaian publik bagi keduanya. Aa’ Gym relatif
susah untuk disalahkan karena, pertama sdh menikah resmi dan bersikap
terbuka. Ditambah pula, teh Ninih yg berkata menerima keputusan
suaminya. Lagipula yg plg penting disini, dalam Islam poligami memang
diperbolehkan. Jadi meskipun sebetulnya cukup banyak kaum wanita yang
menyesalkan pernikahan tersebut, tapi ya mau gimana, karena memang
sesuatu itu kalau dari dasar alasannya sudah kuat, repot juga utk terus
menerus disalahkan. Bisa saja memang, misalnya diomongin "Apa iya, Aa’ bisa adil?", atau "apa bener itu karena kepentingan dakwah, bukannya karena syahwat?",
namun seyogianya kita patut menyadari bahwa setiap orang mempunyai hak
untuk mengatur dirinya sendiri. Jika kita memiliki hak untuk menilai,
sadari juga bahwa itu karena Aa’ sdh melangkah didalam haknya untuk
menikah lagi. Terlebih, ini tidak melanggar apa-apa, dalam hal ini
peraturan agama dan hukum, apalagi isteri tua serta orang tua Aa’
menyetujui, maka jelas tidak ada yang dirugikan disini. Jadi apabila
kita belajar untuk tidak berlaku subjektif, maka sebetulnya urusan
poligami ini tidak perlu menjadi panjang. Nah, hal ini berbeda sekali
dgn wakil rakyat kita, pak Yahya Zaini yang sampai skrg masih to be continue, mau kemana kasus ini dihilirkan. Diluar statusnya sebagai wakil rakyat, masalahnya beliau affair,
dan terbukti melalui rekaman pornonya, melakukan hal yang zinah
dibelakang pernikahannya. Secara agama dan hukum ini pelanggaran. Dan
secara subjektif, kembali lagi kita wajar saja menggunakan hak kita
untuk ngomong "Ya ampuun, bener-bener deh,…"
Sebentar, ini bukan artinya gua bersikap membenarkan dan setuju poligami.
O nggak! Sikap diatas adalah kerangka fikir objektif yang mestinya kita
punyai bersama untuk memilah-milah suatu persoalan, diantara sekian
ragam pendapat bebas yang dimiliki setiap orang. Ya dong, meskipun
kita punya penilaian sendiri terhadap suatu kasus nih, tapi jelas harus
ada center opinion yang bisa kita jadikan landasan untuk
bertindak, dan ini mesti dilihat dari aspek2 yang matang; misalnya
landasan, dasar teori, ukuran objektif, dll. Jadi itu yg membuat
tindakan2 kita tepat, nggak terbawa emosi, perasaan, atau sentimen2
tertentu. Ok, back to this case, seperti yg gua katakan diatas,
bahwa kesimpulannya memang begitu. Aa’ Gym tidak bisa disalahkan karena
dari apa yang dibuatnya itu tidak ada yg dilanggar, bahkan kelurganya
sendiri welcome saja. Urusan kita atau orang2 mau tidak setuju,
ya itu dipersilakan. Sementara Yahya Zaini, alih2 dilihat dari sudut
agama, yang gua yakin semua kitab suci memiliki referensi ayat yang menjudge perzinahan, tapi delik hukum nya juga sepertinya ada bahwa isteri bisa menuntut jika suami kedapatan affair
dengan org lain. Lagipula patut diingat bahwa isteri Yahya berbeda
sikap dgn isteri Aa’ yg bisa menerima diduain. Isteri Yahya sangat
menentang hubungan suaminya dgn Maria Eva, jadi ini jelas dapat
dikategorikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Jadi menurut gua,
mau dibahas seperti apa juga, hasil akhirnya tetap mesti begitu. Salah
benarnya itu dilihat dari fakta yg jelas.
$$$$$$$$$$$$$ $$$$$$$$$$ $$$$$$$$$$$
Now, dgn tidak mengurangi hormat
terhadap hal2 yg sudah gua utarakan diatas, sekarang meski tidak
penting, gua merasajuga ingin memakai hak untuk berpendapat secara
subjektif. Bukan artinya dualisme atau mencla-mencle, tapi yang ini
pokoknya gua banget deh! Kata hati q, gitu hehe…
Bahwasanya perlu diingat antara Aa’ Gym
dan Pak Yahya Zaini itu adalah sama2 tokoh. Yg 1 pemuka agama, dan
lainnya wakil rakyat. Jadi secara serampangan saja kita dapat memandang
derajat ketokohannya. Bahwa apa-apa yg sdh mereka lakukan adalah wajar
saja jika diberikan perhatian dan menuai judgement dr publik,
namanya juga tokoh ya memang begitu.
Yang mau gua sampaikan ialah, sepertinya gua kok merasa samasekali
tidak ada perbedaan apa-apa antara yang dilakukan oleh Aa’ Gym dan
Yahya Zaini. Maksudnya, biarpun diselesaikan dgn cara yang berbeda (Aa’
Gym menikahi teh Rini, sdg Pak Yahya tidak), tapi secaea esensial,
hakekat perbuatan mereka itu sama saja.
Mari gua jelaskan. Sejujurnya ini
berangkat dari hati nurani gua yang anti poligami. Ya dong, gini2 diri
q menjunjung tinggi sebuah arti kesetiaan. Hmm bisa saja sih siapapun
berdalih bahwa ’setia’ itu artinya luas, atau gak serta merta org
menikah lagi itu bisa disebut gak setia, ya emang, tapi whateverlah.
Masalahnya, setia itu aspeknya kan hanya tertuju pada ’sesuatu’, ’satu’
(seseorang) atau ’selalu’. Nah bila ia sudah terbagi, kesetiaan
tersebut sudah tidak utuh (bah, kata apa pula itu ’setia tidak utuh’,
padahal yg ada ya ’setia’ atau ‘tidak’!). Kongkritnya, seorang suami
memberikan cinta dan kasih sayangnya (dimaksudkan adalah cinta dlm
bentuk memiliki) hanya kepada isterinya, begitu jg sebaliknya. Jadi
seorang suami merupakan milik isterinya 100 persen, sebaliknya pun
begitu. Masalahnya, begitu suami berpoligami, segala sesuatunya
otomatis berubah. Isteri jadi harus rela berbagi. Tidak lagi memiliki
suami dgn mutlak, karena isteri yg lain pun punya hak yang setara
dengan dia. Sang suami pun mesti memulai untuk membagi-bagi kasih
sayangnya dengan kedua/ atau beberapa isterinya, minimal fivety-fivety lah. Tdk bisa juga berat sebelah, karena ini jadi lebih tidak adil lagi. Mungkin ada suami2 yg berkata "O, saya nggak begitu. Saya adil, saya beri isteri tua 100 %, yg muda juga 100 %"
hehe punya cinta 100 % saja kadang2 masih suka cekcok, beda pendapat,
atau ‘gesek2an’, nah sehebat apa pula upaya seorang laki2 untuk
meningkatkan cinta didalam dirinya shg menjadi 200% ? Dengan menikah
lagi itu kah? :). Gua cuma mengingatkan, tolong tolak ukurnya jangan
dari waktu yg ini (sdh berpoligami), namun waktu dulu sebelum anda
menikah. Dlm hal ini, jelas akan kembali pada perasaan isteri pertama
sich. Waktu itu kan, cinta, tubuh, perhatian, dan materi suaminya
hanya untuk dia seorang…lha tapi sekarang…digilir rame2, itupun
suami masih berkata ‘itu adil’ , halah! Rasanya cukup jelas, mengapa
halnya isteri2, bagaimanapun juga tetap sulit menerima keputusan
suaminya untuk poligami. Ini memang suatu keadilan yg dipertanyakan.
Nah dr segi perasaan wanita (ceilah :p ),
sory semuanya mmg bersumber dr sana. Gua mengembalikan hakekatnya
kepada tujuan pernikahan. Apa sih yg mau dicapai? Saling mengisi,
mencintai, dan memelihara…ini bukankah untuk masing2 bertujuan
membahagiakan pasangannya? Kalo soal mencintai saja, tapi nyatanya
pasangan kita gak bahagia, gimana? Bisa lho! Atau sama juga
persoalannya tg jawab kita merawat isteri, menyanguinya dgn materi yg
berkecukupan, bahkan bisa jadi berlebih..tapi isteri masih juga bisa
merasa tdk bahagia, ini jg gimana? Maksudnya jelas, bahwa persoalan
nikah itu tdk urusan kita mencintai, memelihara, atau mengurusi isteri
saja, tapi bagaimana saling membahagiakan satu dgn yang lain. Ini dia
yg gua maksud, aspek yg utama disini ialah perasaan si isteri. Ingat
duong janji di depan penghulu/imam/pastor/pendeta/dll "Saya berjanji akan mencintai dalam keadaan suka, duka, miskin, kaya, senang, susah…" itu kan maksudnya tidak lain membahagiakan pasangan. Perlu recheck
lg secara mendalam, apa benar dgn menikah kembali itu membahagiakan
isteri? Jika isteri sedih, atau melepas dgn berat hati, menurut hemat
gua, itupun sdh termasuk perlakuan tidak adil!
Tadi gua baca Kaltim Post (koran lokal), 2
prof perempuan Samarinda, Prof Hj Siti Mulia (Guru Besar, Dekan Fak
Dakwah IAIN Smd) dan Prof Hj Suwinah Alwy (Ketua Aisyiah Kaltim dan
Guru Besar Fak Ekonomi Unmul) berkomentar disana. Mereka jelas2 tdk
setuju dgn tindakan Aa’ Gym yg sering mengkhotbahkan ttg keluarga,
seharusnya tdk malah berlaku demikian. Bu Suwinah mengatakan memang dlm
agama Islam, itu diperbolehkan tapi tdk dianjurkan. Artinya kalau tdk
dianjurkan, ya lebih baik jangan. "Isteri itu dimana-mana mmg
dianjurkan untuk mengalah, dalam Al’quran juga dianjurkan begitu. Kalau
menerima suami menikah lagi dgn ikhlas, itu surga upahnya. Saya salut
dgn isteri Aa’ Gym dia semoga dia menerima surga" demikian
Bu Wien (laporan langsung neh hehe). Gua lgsg mikir, menerima dgn
ikhlas, ya karena dia mmg harus begitu, mau gak mau krna suaminya
panutan org banyak, mau gak mau karena dia mencintai suaminya. Nah
dalam hatinya, cuma dia yg tahu. Ya, sama kaya Bu Wien, gua jg salut sm
isteri Aa’, tdk buat Aa’ nya.
Ada juga laki2 poligami yg pernah bilang sm gua "saya gak pernah membanding-bandingkan isteri2 saya. Masing2 punya kelebihan dan kekurangannya". Hehe gua sih mikirnya masa iya sih kaga
dibanding-bandingkan? Wong namanya org hidup itu dimana-mana beda
banget satu dan yg lain (tubuh, karakter, dan habit), lha dlm menilai
itu saja kan sudah proses memperbandingkan. Nah kl sudah membandingkan,
jelas ada yg lebih dan yg kurang duong. Bisa jadi lbh comfort sama yg muda, atau bs juga sm isteri tua. Next dr situ saja, sdh rentan munculnya pembeda-bedaan one and another. Mungkin dr luarnya sih bisa memperlakukan dgn sama, tapi rasa sayang itu kan timbulnya dari dalam hati, man! Ini bermula dr penilaian2 yg dilakukan kepada para isteri, rite?
Oia lupa, gua kutip lagi kata2 Bu Wien lagi "Bahwa
sebagai panutan masyarakat yg sering mendakwahkan kebahagiaan keluarga,
Aa’ Gym tidak semestinya poligami walaupun dia bilang itu diperbolehkan
dlm islam. Karena org itu cenderung melihat kelakuannya, bukan
omongan2nya saja" SETUUUJUU Bu’. Mohon maaf, sedikit gua memasuki
area agama nich ya, bahwa jika dalam islam poligami diperbolehkan namun
tidak dianjurkan, artinya ya memang begitu, bukan? Tidak dianjurkan,
kemungkinan mmg dgn pertimbangan, susah umumnya bagi suami utk berlaku
adil pd isteri2nya, dan mempertimbangkan perasaan isteri juga, tentu
saja. Setahu saya Nabi Muhammad SAW juga pernah melarang menantunya
menikah lagi, karena tidak ingin perasaan puterinya (Fatimah) disakiti.
Nah, back to Aa’, dlm kapasitasnya sbg pemuka agama yg dinunut
banyak org, jelas jd susah membedakan dia menggunakan haknya
(diperbolehkan dlm agama), atau menganjurkan! Karena org pd umumnya
memanuti tokoh pujaannya tidak cuma dari omongannya saja, namun tindak
tanduknya juga.
Disamping rasa hormat saya kepada Aa’Gym, gua
mmg merasa berkeberatan yg mutlak terhadap keputusan Aa’ Gym
berpoligami. Pd tahap ini, gua sempat membandingkan dgn kasus Pak Yahya
Zaini yang, maaf, gua rasa lbh baik cara penyelesaiannya. Lha kok? Iya
dong! Maksudnya, faktanya, pak Yahya saat ini sdh tidak pernah lagi
berhubungan dgn Maria Eva, putus hubungan. Bandingkan dengan Aa’ yg
menikahi teh Rini. Maaf, gua bicara dr sudut pandang keutuhan sebuah
keluarga. Bahwa adalah benar Pak Yahya pernah affair dgn kekasihnya
(katanya sih saling mencintai), tapi isterinya menentang keras (bahkan
mengancam si wanita), dan pak Yahya menurut, memutuskan hubungan. Apa
ini bukti ia menyayangi isteri dan keluarganya (serta reputasinya), ya
bisa jadi! Rekaman itu terjadi tahun 2004. Menurut gua, dlm hal ini,
karena keputusannya meninggalkan Maria Eva, keluarga mereka (Yahya dan
isterinya) bertendensi bisa rukun kembali. Yg jelas, dgn meninggalkan
kekasihnya, pak Yahya bisa dibilang membahagiakan isterinya…urusan
maaf-memaafkan itu urusan mereka nantinya. Gua pikir ini gak beda dgn
yg dialami Aa’ . Maaf saja, sebelum menikahi teh Rini, yg jelas mereka
sudah berhubungan (perkenalan dan proses saling cintanya itu lho), ini
bukankah sama juga dikategorikan perselingkuhan? Cuma mmg tingkatnya
berbeda, kalau Pak Yahya sdh bersetubuh (ada buktinya), Aa’ Gym belum
tentu. But for me, mereka sama2 selingkuh, yaitu sama2 punya WIL. But, endingnya
diselesaikan dgn cara itu tadi, Pak Yahya memutuskan hubungan, dan
jelas memihak pada isterinya, sementara Aa’ Gym kebalikannya menikahi
WIL nya dan menduakan isterinya.Dari pola pikir ini, saya kok justru
respek sama Pak Yahya. Urusan dia khilaf selingkuh, haha nobody;s perfect
lah. Oia, satu lagi, memang mungkin juga pak Yahya memutuskan
hubungannya itu karena faktor menjaga reputasinya sbg wakil rakyat,
takut kalau terbongkar nanti berabe. Ya, gua fikir apa salahnya, justru
baik saja dia masih memikirkan bagaimana seharusnya seorang wakil
rakyat bertingkah laku, bahwasanya yg dia buat itu parah, dan makanya
tidak bisa diteruskan! Dan dia berhenti, terus terang gau cukup
simpatik dan kasihan melihat dia dan sekeluarga sekarang tidak berani
menampakkan muka di muka umum akibat malu dgn semua yg pernah
dilakukannya. Mungkin mereka skrg sdg benar2 tertekan dan serba salah.
Dibandingkan dgn ini, Aa’ Gym jg sebetulnya sama. dia juga menokoh.
Seharusnya bisa menimbang berbagai secara matang. Terus terang gua dr
semua ucapannya waktu jumpa pers, gua blm bs menangkap alasan
sesungguhnya dari mengapa dia poligami. Dia hanya berkutat di landasan
bahwa agama Islam memperbolehkan, namun alasannya gak jelas banget.
Tapi justru dgn begitu dia sangat menjelaskan bahwa, sebenarnya mmg
tidak ada alasan lain utk pernikahan keduanya itu, selain dia memang
kecantol sm teh Rini, thats all! Nah, sebagai pemuka itu, yg
gua sesalkan, dia mestinya berfikir lbh dalam utk memutuskan sesuatu.
Gak salah kan jika gua membuat hipotesa, bahwa trend poligami di
Indonesia kedepan akan makin marak karena Aa’ Gym mencontohkan
demikian? Ya, sgt mungkin duong.
Waa gak terasa sdh panjang hehe…yach mmg asyik sich membahas ini,
kayak tadi dikantor juga seru banget, ngalor ngidul melebarnya. Karena
semua org bs mendudukkan persoalannya dr perspektif masing2. Secara
umum saja, pria dan wanita kemungkinan besar berbeda pandangan dlm
menanggapinya. But yg jelas, gua mikirnya, kl ditarik kesimpulan,
intinya kembali jg pada seorang manusia yg hakiki. Aa’ Gym jg manusia.
Wakil rakyat apalagi, juga manusia. Lha kita ini, ya sama juga
lhaa…manusia gitu lho! Bisa ini dan bisa itu..punya plus-minus, n’
wajar2 saja dlm melakukan berbagai khilaf dan kekurangan. Mari kita
belajar saling memaklumi dan didewasakan melalui itu. Amieeeeen
Hahaha!!