Archive for January, 2007

Itulah Air Mataku

Sunday, January 28th, 2007

Bila kamu bertanya, mengapa kini aku membumi…, itu karena
aku tlah sadar tak dapat menjadi awanmu,…memayungi riakan
langkah dan sampan di sungaimu
dekatkan telinga dan hatimu, maka kau akan mendengar
gemericik air di bumiku…
"itulah air mataku"

Bila saja tiba-tiba kamu tersadar, mengapa batinmu tak lagi
kerap mendengar ’sapaku’…
itu karena aku menjelma menjadi ‘udara’…
kosong, hampa…
Tak dapat kau lihat, rasa, dan dengar…
walaupun aku sesungguhnya  ada di sekeliling mu…
ada dihadapanmu…menyentuh jemarimu…bahkan
mendengar hembusan nafasmu.

Aku menjadi ‘malam’ itu karna ’siang seringkali
menyiksaku… mata yang terjaga dan terus
mengingatmu, hampir setiap saat membunuhku
Malam datang, aku terbunuh…itulah saat terlega dan paling
menenangkan…
Siang datang, kembali aku tersiksa, sampai malam tiba di
peraduan…

dan bilasaja kamu tiada lagi merindu,
tolong dengarkan syair ini…
"ku bahagia,
tlah berusaha menjadi awanmu, walaupun akhirnya ditakdirkan
menjadi bumi…
ku bahagia,
tlah sempat menangis dan menjadi udara…
ku bahagia,
tlah sempat mencintai orang yang teramat istimewa…
ku bahagia,
tlah dapat merelakan kamu, yang tersayang…mencari jiwa yang
paling kau cintai…"

Aku menjadi ’slamat tinggal’…
karna mungkin hanya kalimat itulah yang dapat membuatmu
bahagia….

Catatan Saya Tentang Tukul

Tuesday, January 16th, 2007

Cobalah simak. Dari seorang Tukul Arwana kita belajar tentang kehidupan. Apa sebenarnya yang membuat tampilan pemandu variety show Empat Mata di Trans 7 itu tidak patut sekedar dilewatkan sebagai tontonan? Acara apapun di televisi atau umumnya rubrik media massa selalu berbalut baju industri. Rancangannya mengalkulasi respon publik, karena umpan baliknya berupa rating dan iklan. Hukum ekonominya mudah dibaca: Ini soal tren, mode, dan respon. Kali ini oke, esok harus dihitung ulang, atau mata acara yg lebih oke akan segera menindih. Begitu seterusnya di lingkaran yg terputar. Tetapi, selalu saja ada "ruang lain" yg menghampar.
Dan, Tukul memberi "ruang lain" itu. Sebagai persyaratan tampil beda bagi sebuah industri komunikasi, performa pelawak asal Semarang itu sudah merupakan dekontruksi terhadap rumus-rumus variety show yg berkaitan dengan kualifikasi kelaziman seorang presenter media audiovisual. Dia tidak menjual tampang, postur, dan tampilan yg serba diidealkan bagi sosok mode yg (mestinya) eye-catching. Dalam dekontruksi Empat Mata, yg dijual justru "kegilaan" presenternya dalam makna wajah, tampilan, dan intelektualitas. Coba lihat, terjadi penjungkirbalikan cara berpikir yg menggiring pemirsa dan narasumbernya untuk juga berpikir terbalik.
Unik banget kan. Pikiran terbalik itu justru menjadi sah dalam rumus Tukul. Maka mengatakan "jelek" (secara fisik), "bodoh", "ndeso", "tidak intelek", atau penggunaan bahasa Inggris belepotan tidak harus dilihat keluar dari pakem pergaulan sosial -setidak-tidaknya dalam konteks komunitas acara ini. Tukul menyediakan diri menjadi semacam "kanal" untuk ditertawakan, bahkan terkadang direndahkan oleh narasumber yg kelewatan. Gamblang sekali, dibalik semua itu tersimpan filosofi interaksi dalam menggali potensi anak manusia yg seolah-olah merupakan objek yg boleh diapasajakan, padahal sebenarnya dia adalah sang subjek yg sangat menentukan.
Disini kita memasuki ruang untuk tidak boleh merasa minder, karena Tukul yg mengakui diri "serbakurang" itu memperlihatkan konfidensi luar biasa ditengah para narasumbernya yg "serba cantik, tampan, dan intelek". Poin yg juga bisa dipetik secara tidak langsung ialah pemaknaan hakikat perjuangan hidup. Bagaimana dia bisa sampai ke ‘level’ pengendali talk show sepopuler itu? Satu hal terjawab: Tukul Arwana berani mengambil  keputusan untuk menekuni sebuah  pilihan , dan dia tidak pernah melupakan  pentingnya jejaring yg ikut mengantarnya ke kehidupan sekarang. Unsur keberuntungan sudah tentu ada, tapi perjuangan  hiduplah yg menonjol.
Dunia media meyakini rumus menyajikan yg serba indah, karena kecantikan atau ketampanan menjadi bagian penting dari pilar industri . Iya memang betul. Tapi dekontruksi Empat Mata agaknya memaksa kita untuk mau dan berani menghargai segala sesuatu yang keluar dari rumus baku, termasuk dalam mengarungi kehidupan. Kita harus berani berdamai dengan yg serbakurang sebagai sebuah kelebihan. Kita mungkin menertawakan eksploitasi Tukul terhadap "kelebihan-kelebihan tubuh" dalam simbolisasi "modal fisiknya", tetapi apakah hal itu tidak memaknakan keterbalikan manakala sesekali kita melihat para selebriti cantik dan tampan secara kelewatan merendahkan Tukul? Hmm…?
"Biar jelek, rejeki saya halal? Ketimbang memeroleh uang tidak halal, itu mengganggu aliran darah". Pernyataan sembarangan yg dilontarkan Tukul itu, menurut kita menjadi tidak sembarangan karena memuat renungan yg sangat tajam. Ada pelajaran tentang hidup dan kehidupan. Tertawalah kita yg menganggap acara itu benar-benar sebagai hiburan dan jeda dari segela kehirukpikukan kehidupan. Kepercayaan diri Tukul mewartakan isi baterai, yakni kita harus berani melihat kekurangan diri justru sebagai modal di tengah kehidupan serbagemerlap. Itu lebih terhormat dibandingkan dengan "aliran darah terganggu"  karena rejeki tidak halal.

Apakah Kita Peduli Pada Flu Burung?

Thursday, January 11th, 2007

Ayo, peduli nggak? Pertanyaan ini barangkali terasa ganjil. Sudah jelas flu burung itu penyakit berbahaya dan mematikan. Pastilah kita peduli padanya. Semua orang juga paham.
Namun dalam praktik sehari-hari, kita ini sebenarnya tidak begitu peduli. Ayo, iya apa iya? Lho buktinya, kita baru ‘kebakaran jenggot’ ketika tiba-tiba muncul pasien baru. Selalu begitu, kan? Dan, ini dia yang kembali terjadi ketika muncul 7 pasien suspect flu burung yang harus dirawat intensif. Malah, dua orang diantaranya sudah positif terinfeksi flu burung, yakni Randy dan Riyah. Bahkan terakhir (Rabu kemarin) Randy sudah meninggal. Dari tujuh orang ini, empat orang dewasa yaitu satu laki-laki dan tiga perempuan. Sedangkan tiga pasien lainnya anak-anak yang tediri dari seorang laki-laki dan dua perempuan. Lima diantaranya berasal dari Kalideres (Jakarta Barat), satu dari Tangerang (Banten), dan seorang lagi dari Kali Malang (Jakarta Timur).
Patut dicatat, Randy dan Riyah yang keadannya memburuk itu datang terlambat ke rumah sakit sehingga kondisi mereka sudah sangat berat. Randy ( yang meninggal itu) bahkan telah membuang bangkai bebek yang mati ke kali di belakang rumah. Sudah jelas, tindakan itu bisa menyebarkan penyakit. Seperti yang gua tulis diatas, Randy pun akhirnya meninggal kemarin. (Review from Detik.com)
Pasien pertama yang menderita flu burung tahun ini juga datang ke rumah sakit rujukan setalah lebih dari seminggu sakit. Apa artinya ini? Ya jelas, perlunya informasi kepada masyarakat secara lebih intensif dan terperinci, kalau ada gejala flu dan disekitar kita ada unggas yang sakit atau mati mendadak -apalagi kontak langsung kayak kasus tadi-, maka harap cepat berobat. Apalagi tujuh pasien baru tersebut datang pada musim hujan dimana daya tahan tubuh manusia sedang rendah. Tidak ada kata lain, kita mesti berhati-hati.
Next, hal lain yang perlu diperhatikan dari kasus diatas, biasanya kan kita selalu mengatakan bahwa kalau ayam tertular flu burung akan mati segera, sedang bebek akan tetap hidup tapi menularkan penyakit. Nah, pada kasus ini ternyata ada bebek yang mati. Tentu saja hal ini harus diteliti lebih lanjut apakah ada sesuatu yang berubah. Sekadar untuk diingat, tahun 2005 pernah dilaporkan di Thailand ada kasus pasien yang mengidap flu burung setelah kontak dengan bebek yang mati.
Pasien flu burung terakhir di Indonesia sendiri muncul pada 28 November 2006. Namun sekarang datang lagi. Jadi cuma berhenti sekitar satu setengah bulan saja. Saat ini Indonesia menjadi negara terbesar di dunia berkaitan dengan korban flu burung.
Ada apa dibalik itu? Sebetulnya jelas bagi kita. Sepanjang masih ada unggas yang sakit, dan sepanjang unggas masih hidup bersama-sama manusia, maka tentu kasus flu burung pada manusia akan terus muncul! Akhir tahun lalu, kasus flu burung hanya ada di Indonesia dan Mesir. Sekarang tampaknya kasus flu burung 2007 kembali dibuka oleh Indonesia. Duh
Kita perlu belajar dari negara-negara tetangga yang sudah berhasil mencegah flu burung, macam Vietnam dan Thailand. Mereka memulainya dengan menyehatkan unggas yang dimiliki masyarakatnya. Itu dia cara yang benar sebetulnya untuk mencegah penyakit mematikan ini.
Karena itu, upaya pencegahannya tidak hanya melibatkan bidang kesehatan, tapi juga bidang perunggasan. Mungkin industri perunggasan kita harus goyah akibat pemberantasan besar-besaran. But kalau itu cara terbaik untuk mencegah flu burung, kenapa kita harus ragu mengambil langkah yang pahit itu? Janganlah bebal untuk tidak mempan belajar dari pengalaman bahwa korbannya selalu jatuh dan jatuh lagi.
Yang kita takutkan saat ini ialah penularan flu burung akan terjadi dari manusia ke manusia. Kalau sudah gitu, pandemi itu akan memusnahkan puluhan juta umat manusia. Menurut gua, mimpi buruk itu dihembuskan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk mengingatkan bahwa hal itu akan menjadi kenyataan kalau kita menganggap remeh flu burung saat ini.

Jatuh Lagi, Tenggelam Lagi…

Friday, January 5th, 2007

GILE…MALAPETAKA LUAR BIASA!

Baru dua hari setelah terjadi musibah tenggelamnya KM Senopati Nusantara di perairan Kepulauan Mandalika Jepara Sabtu dinihari, kita semua dikejutkan lagi oleh berita kecelakaan yang menimpa pesawat Adam Air. Pesawat dgn rute Surabaya-Manado itu dikabarkan hilang kontak dan belum diketemukan hingga skrng. Sesuai jadwal, pesawat nahas itu seharusnya sdh mendarat di Bandara Sam Ratulangi, Senin pukul 14.55 Wita. Beberapa hari lalu sempat ada kabar bangkai pesawat sdh diketemukan di Pegunungan Polewali, Desa Ratunga Kecamatan Matangga Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. Bahkan 12 orang dinyatakan selamat sementara 90 penumpang tewas.
Rupanya distorsi informasi, halaah…dan kabar itu kemudian dibantah oleh Menteri Perhubungan Hatta Rajasa. Hingga kini Tim SAR masih berusaha mencari lokasi jatuhnya pesawat dan belum dapat diketahui di mana persisnya. Apakah di laut ataukah di darat. Benar-benar ini menjadi kabar buruk bagi kita terutama terkait dengan masalah transportasi. Kecelakaan beruntun terjadi di laut dan udara serta menewaskan ratusan orang. Penyelamatan dan evakuasi korban tenggelamnya Senopati Nusantara belum selesai sudah disusul dengan kecelakaan pesawat terbang. Betapa berat penderitaan keluarga korban yang ditinggalkan atau yang masih menunggu kepastian.
Peringatan resmi tentang buruknya cuaca dan bahaya dalam lalu lintas darat, laut maupun udara seperti kurang diperhatikan. Sulit dipahami mengapa sampai terjadi dan terjadi lagi. Terlalu dini untuk menyimpulkan segala sesuatunya namun apapun penyebabnya, yang namanya kecelakaan tak hanya disebabkan oleh satu hal karena satu hal itu pun pasti terkait dengan faktor lain. Dalam soal transportasi udara, masalah keselamatan penerbangan terkait dengan banyak faktor baik bersifat teknis maupun yang berhubungan dengan sumber daya manusia. Karena bisa saja terjadi technical error namun bukan tidak mungkin human error.
Cuaca buruk memang bisa menjadi fakta obyektif yang menyebabkan terjadi kecelakaan. Namun kita tak bisa begitu saja menyalahkan atau menyerah pada faktor alam! Bukankah banyak yang bisa diantisipasi sebelumnya seiring dengan kemajuan teknologi baik software maupun hardware. Atau jangan-jangan, ini yang sering dikhawatirkan, yaitu kita kurang serius atau kurang cermat memperhatikan segi-segi yang terkait dengan keselamatan. Bahkan perhatian itu harus berkurang karena biaya terlalu minim atau karena faktor mismanagement lainnya. Dan bisa jadi semua problem itu diawali oleh perang tarif antarperusahaan penerbangan yang sudah kelewat batas.
Jor-joran dalam perang harga tiket pesawat terbang, memang sih di satu sisi sangat menguntungkan konsumen dan masyarakat luas. Namun di sisi lain kita bertanya-tanya apakah semua itu sudah didasarkan atas perhitungan rasional ataukah justru menyeret pada pola persaingan tidak sehat. Misalnya kemudian mengorbankan segi-segi keselamatan penerbangan yang mestinya justru di-nomorsatukan. Benarkah pesawat laik jalan, apakah telah menjalani cek secara rutin dan memenuhi prosedur yang tentu berlaku secara internasional. Kita cenderung was-was hal seperti itu agak diabaikan dengan berbagai alasan atau didorong oleh beberapa persoalan internal. Terlebih, mengutip YLKI, audit2 seperti ini (audit keselamaan terbang dan uji kelayakan pesawat yg dilakukan Dephub secara periodik) tidak pernah dibeberkan secara terbuka kepada masyarakat selaku konsumen.
Kita harus terus mendesak ada pertanggungjawaban. Tidak menyerah pada keadaan atau sekadar menyalahkan faktor alam serta menganggap kecelakaan sebagai kehendak Tuhan. Itu berarti tak akan ada pelajaran yang bisa dipetik dari sebuah musibah dan kita pun (pasti akan) bersiap untuk menghadapi musibah berikutnya. Hal seperti itulah yang sering terjadi karena masyarakat hanya ramai membicarakan di awal kejadian dan setelah itu lupa. Ini memang tragis bangsa ini! Janganlah semua kemudian dianggap sebagai hal yang biasa. Ini semua menyangkut nyawa manusia. Pemerintah dan Industri penerbangan perlu melakukan pembenahan terutama yang menyangkut aspek keselamatan!