Itulah Air Mataku
Sunday, January 28th, 2007Bila kamu bertanya, mengapa kini aku membumi…, itu karena
aku tlah sadar tak dapat menjadi awanmu,…memayungi riakan
langkah dan sampan di sungaimu
dekatkan telinga dan hatimu, maka kau akan mendengar
gemericik air di bumiku…
"itulah air mataku"
Bila saja tiba-tiba kamu tersadar, mengapa batinmu tak lagi
kerap mendengar ’sapaku’…
itu karena aku menjelma menjadi ‘udara’…
kosong, hampa…
Tak dapat kau lihat, rasa, dan dengar…
walaupun aku sesungguhnya ada di sekeliling mu…
ada dihadapanmu…menyentuh jemarimu…bahkan
mendengar hembusan nafasmu.
Aku menjadi ‘malam’ itu karna ’siang seringkali
menyiksaku… mata yang terjaga dan terus
mengingatmu, hampir setiap saat membunuhku
Malam datang, aku terbunuh…itulah saat terlega dan paling
menenangkan…
Siang datang, kembali aku tersiksa, sampai malam tiba di
peraduan…
dan bilasaja kamu tiada lagi merindu,
tolong dengarkan syair ini…
"ku bahagia,
tlah berusaha menjadi awanmu, walaupun akhirnya ditakdirkan
menjadi bumi…
ku bahagia,
tlah sempat menangis dan menjadi udara…
ku bahagia,
tlah sempat mencintai orang yang teramat istimewa…
ku bahagia,
tlah dapat merelakan kamu, yang tersayang…mencari jiwa yang
paling kau cintai…"
Aku menjadi ’slamat tinggal’…
karna mungkin hanya kalimat itulah yang dapat membuatmu
bahagia….