Kecelakaan Itu Demikian Beruntun

Pesawat Boeing 737-300 milik Adam Air kecelakaan lagi meski tidak memakan korban. Namun tak urung semua ini semakin menimbulkan waswas dikalangan masyarakat pengguna jasa penerbangan dan transportasi. Badan pesawat patah ketika mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Diduga terjadi hard landing hingga akhirnya ban pecah. Cuaca ketika itu sangat gelap disertai hujan lebat. Apapun penyebabnya dan betapapun kecil kecelakaan itu tetaplah menimbulkan shock. Apalagi kebetulan menimpa Adam Air lagi. Departemen Perhubungan langsung mengambil keputusan larangan terbang sementara bagi tujuh unit pesawat Boeing 737-300 milik perusahaan tersebut.

Kecelakaan pesawat terbang dan alat transportasi lain bisa terjadi setiap saat dan dimana-mana. Tapi menjadi sesuatu yg memprihatinkan bila kecelakaan itu terjadi secara beruntun di udara, laut, dan darat. KM Levina I kemarin juga terbakar di perairan kepulauan seribu dan menelan korban belasan orang tewas. Belum lama ini KM Senopati Nusantara tenggelam di perairan Mandalika yg memakan korban tewas begitu banyak. Kalau terjadi dalam frekuensi tinggi, tentu bukan hanya karena faktor kebetulan. Inilah yg meminta kita memberi perhatian serius serta melakukan pembenahan secara menyeluruh dan apabila diperlukan agak radikal. Janganlah menyerah pada keadaan atau pada kekuatan pasar.

Masyarakat dan pemerintah biasanya hanya reaktif sesaat, setelah itu dengan cepat melupakan. Reaksi yg terkadang tidak proporsional malah tidak menyelesaikan masalah. Misalnya sekadar meminta seorang menteri mengundurkan diri. Yang lebih penting justru mendesak langkah antisipatif dan kongkret untuk mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak lagi. Dalam hal kecelakaan pesawat terbang atau kapal selalu ada faktor kesalahan manusia disamping techinical error. Jadi perosalam mendasar juga ada pada manajemen, dan itu ditentukan oleh sehat tidaknya perusahaan transportasi. Apakah mereka telah memenuhi standar dan kualifikasi yg ditetapkan secara internasional, atau terjadi banyak pelanggaran tetapi dibiarkan.

Disinilah dibutuhkan keseriusan dan ketegasan pemerintah dalam hal ini Menteri Perhubungan. Dalam banyak hal kendali itu terasa lemah. Masih kita ingat bagaimana informasi simpang siur tentang ditemukannya pesawat Adam Air yang hilang beberapa waktu lalu dibiarkan selama lebih 12 jam. Dimana pejabat-pejabat kita? Sesuatu yg tampaknya sepele namun menggambarkan ketidak-becusan menangani masalah. Selain itu kita pun wajib mempertanyakan apakah sudah ada langkah yg lebih kongkret, sistematis, dan langsung menyentuh ke persoalan. Jangan-jangan kita belum melakukan apa-apa dan nanti baru terkejut setelah terjadi kecelakaan berikutnya.

Kita percaya secara peraturan sudah benar, namun peraturan normatif bisa tak berfungsi apa-apa bila tak ada pengawasan. Apalagi industri penerbangan dilanda persaingan tajam yg menjurus perang tarif. Kalau dibiarkan bukan tidak mungkin masyarakat terus menjadi korban. Standar kelayakan terbang haruslah mengikuti regulasi internasional. Persoalannya kadang-kadang khas Indonesia yakni kurangnya dukungan sumber daya manusia. Joke-joke kecil yg sering dilontarkan seperti ada avtur dicampur oli dan sebagainya jangan dianggap sekadar lelucon. Bukan tidak mungkin kesalahan fatal seperti itu terjadi, dan semua sadar demi mencari tambahan penghasilan.

Tragedi Adam Air juga menjadi salah satu cermin. Kalau benar pengakuan pilot mereka tentang keberanian manajemen mengambil resiko keselamatan dengan mengorbankan kepentingan penumpang, sungguh patut disesalkan. Bukan tidak mungkin hal serupa juga terjadi pada perusahaan transportasi lain. Dengan semua alasan pembenar, semua bisa dilakukan dengan motif ekonomi dengan jalan pintas. Kapal berlayar melebihi kapasitas penumpang bukan cerita baru. Demikian juga dengan pesawat yg terbang dalam kondisi kurang layak. Masyarakat konsumen berada pada posisi lemah. Mereka tak punya banyak pilihan ketika industri sudah terperosok pada persaingan tidak sehat.

2 Responses to “Kecelakaan Itu Demikian Beruntun”

  1. dani Says:

    saya tambahin..yg terbaru ada Garuda lagi yg naas dan kembali memakan korban. Hm kalau sdh garuda juga kecelakaan, kita harus naik pesawat apalagi ya? jadi takut juga..bingung…

  2. Tulus Says:

    maless..cape’ deh! apa sih yg nggak jd bencana di negara kita ini?
    Ntar besok2 pesawat sm pesawat bisa tabrakan kali di udara (ky mobil).. apa kalo udh gitu Hatta Rajasa baru mau mundur ya? Asli gw empet bgt sm dia yg mirip vampire itu! (peminum darah manusia)

Leave a Reply