Archive for March, 2007

Perang di Irak, Ribut di Kongres

Saturday, March 31st, 2007

Irak telah menjadi killing field
yang mengerikan. Minimal bagi siapa saja yg masih cinta damai. Tiada hari berlalu tanpa terjadinya ledakan bom bunuh
diri yang menewaskan penduduk sipil yang tidak berdosa. Korban di pihak
militer Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pun terus berjatuhan. Empat
tahun sudah invasi ke Irak yang dilakukan oleh AS dan sekutunya.


Hasilnya? Belum ada tanda-tanda situasi politik, keamanan dan ekonomi
di Irak membaik. Malah makin nggak menentu. Makin kentara politik luar
negeri Presiden George W Bush yang mengibarkan perang antiteror di
berbagai belahan dunia tidak memberikan hasil. Padahal, musuh besar AS dan
sekutunya, Presiden Saddam Hussein, telah digantung. Mantan Wakil
Presiden Irak, Taha Yassin Ramadan dieksekusi mati Selasa tanggal 20 Maret kemarin.
Toh, semua itu tidak membuat api perang Irak padam. Dan, yang lebih
mengerikan lagi, sudah mengindikasi tanda-tanda terjadi perang saudara di sana.


Di Amerika sendiri, tekanan terhadap pemerintahan Bush makin gencar.
Demonstrasi digelar oleh rakyat Amerika yang tidak ingin membiarkan
anak mereka yang dikirim ke Irak menjadi mangsa perang. Mimpi buruk
perang Vietnam yang telah merenggut ribuan tentara AS kembali
terngiang-ngiang.


Akan tetapi disayangkan Bush tetap bergeming dengan politik luar negerinya. Bush
justru meminta semua pihak lebih bersabar dalam menyikapi perang Irak.
Saat memperingati empat tahun perang Irak, Bush menegaskan, sukses di
Irak mungkin terwujud tetapi butuh waktu berbulan- bulan, bukan hanya
beberapa hari atau minggu. Oh my God!


Parahnya, malah Bush berencana untuk mengirim 21.500 personel tambahan dari AS
untuk mengamankan Baghdad dan Anbar, yakni sebuah provinsi di Irak yang
banyak diwarnai pergolakan. Artinya, pasukan AS dan sekutunya masih
akan terus bertahan di sana, api perang akan terus menyala.

Gw sama sekali nggak ngerti, apakah korban yang sekarang jatuh tidak cukup untuk menghentikan mesin
perang itu? Lebih dari 3.200 militer AS tewas di Irak, sedangkan warga
sipil Irak sekitar 54.000 jiwa. Bila perang masih akan berlanjut,
korban akan bertambah banyak.


Kongres AS sedang ribut berkaitan dengan perang Irak. Adalah kubu
Partai Demokrat yang paling menentang keras kebijakan Bush itu. Kubu
Demokrat sedang berjuang keras buat meloloskan undang-undang tentang
pembiayaan perang. Undang-undang itu secara efektif mempersyaratkan
penarikan pasukan AS dari Irak pada musim gugur 2008, yakni sebelum
anggaran tahun 2008 untuk Irak dan Afghanistan ditentukan.


Sementara sudah bs diduga, Gedung Putih secara agresif menentang rencana diluncurkannya
undang-undang tersebut. Sementara itu, kubu Republik tampak gamang
berkaitan dengan soal Irak. Melihat posisi Bush saat ini di mana
Kongres dan Senat dikuasai Demokrat, tampaknya (dan mudah2an) undang- undang tentang
pembiayaan perang itu akan lolos.


Namun keluarnya tentara Amerika dan sekutunya dari Irak, kalau hal itu
bisa terwujud, tidak dipungkiri, bukan tidak menimbulkan masalah juga. Tentu tidaklah
etis meninggalkan Irak yang telah compang-camping dicabik perang begitu
saja. Persoalan yang muncul di Irak saat ini sudah begitu rumit dan
mempengaruhi peta politik di kawasan Timur Tengah.


Karenanya, persoalan Irak semestinya tidak semata ditangani AS dan
sekutunya saja, tetapi bagaimana melibatkan negara-negara di sekitar
Irak untuk ikut ambil bagian dalam menciptakan perdamaian di kawasan
itu. Negosiasinya gitu lho. Tapi yg sangatlah jelas, perang itu harus segera dihentikan karena kita semua (masyarakat dunia) tidak ingin makin
banyak korban yang mati sia-sia.

Kaya Gini Mau Dapet Laptop?? Huehuehue

Wednesday, March 28th, 2007

Ini homor yg gw dapet di blog nya temen. Bdw untung kebijakan bagi2 laptop anggota dewan itu dibatalin yak? :)

Anggota DPR: "Mbak, laptopnya salah."
Customer Service: "Salah gimana pak?"
Anggota DPR: "Laptopnya nggak mau hidup."
CS: "Sudah tekan tombol power pak?"
Anggota DPR: "Tombol powernya sebelah mana mbak?"
****

Anggota DPR: "Mbak, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?"
Customer service: "Nggak bisanya kenapa?"
Anggota DPR: "Saya ketik www.playboy. com, gambarnya nggak keluar."
Customer service: "Pesan errornya apa pak?"
Anggota DPR: "Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik playboy.com di
addressnya, nggak muncul gambar sama sekali."
Customer service: "Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up, hotspot?"
Anggota DPR: "Pakai gambar yang ada tulisan e (maksudnya internet
explorer
)."
Customer service: "Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP apa, lalu
cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin settingnya ada
yang salah."
Anggota DPR: "ISP itu apa sih mbak?"
Customer service: "Wah ini sih 50 x 2 pak.."
Anggota DPR: "Apa tuh mbak?"
Customer service: "CAPE’ DEH!!"
******

Anggota DPR: "Mbak, saya ingin daftar account di

yahoo.com kok nggak bisa
ya?"
Customer service: "Nggak bisa kenapa pak?"
Anggota DPR: "Ada tulisan, paswort is not long inaf, sud bi mor den eit
karakter"
Customer service: "Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf."
Anggota DPR: "Oooo…oke deh.., saya coba dulu."
<tunggu beberapa menit>
Anggota DPR: "Mbak, password minimal delapan huruf itu delapannya pakai
angka 8 atau ejaan delapan?"
Customer service: "Maksudnya?"
Anggota DPR: "Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf, tapi
bingung mau tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf
‘delapan’."
Customer service: "Ketik ini aja pak.. C Spasi D."
Anggota DPR: "Apa tuh?"
Customer service: "CAPE’ DEH !!!"
****

Anggota DPR: "Mbak, kalau muter film di laptop, gimana caranya ya?
CS: "Ada dvd playernya kan pak?"
Anggota DPR: "Sebelah mana tuh mbak?"
CS: "Disamping kanan, pak.  Kalau di tekan tombolnya nanti, piringan discnya
keluar."
Anggota DPR: "Ooooo…. yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh
kemarin."
CS: "Kok bisa patah?"
Anggota DPR: "Saya kira tempat buat naruh gelas minuman."
******

Anggota DPR: "Komputer saya rasanya kena virus"
CS: "Virus apa tuh pak?"
Anggota DPR: "Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada
tulisan kennot fain printer."
CS: "Itu mungkin salah setting pak."
Anggota DPR: "Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi
sekarang nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop, tetap
aja dia terus-terusan "searching printer not found." Kayanya webcamnya
rusak,
nggak bisa lihat printer."
CS: "Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape.."
Anggota DPR: "Lho… kok begitu?"
CS: "TAPE DEH !!!!"
********

Anggota DPR: "Mbak, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
CS: "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR: "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mbak, saya tahu
persis."


Capeeek deeehhh….. ……… …. !!!!

Kembali ke …….. laptop!!!

Kembali ke Pancasila dan UUD 45

Thursday, March 15th, 2007

BERBAGAI kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang muncul ke permukaan dan bahkan sudah memasuki proses hukum, baik kasus kecil maupun besar, terjadi pada semua lapisan penyelenggara negara, mulai dari lembaga legislatif, eksekutif, maupun yudikatif, di pusat dan di daerah. Keinginan untuk memperkaya diri dan atau orang lain dari penyalahgunaan wewenang, merupakan perbuatan melawan hukum yang merugikan negara. Kerugian negara yang diakibatkan oleh perilaku menyimpang itu, berakibat kepada terkurasnya sumber-sumber keuangan negara yang seharusnya dipergunakan untuk penyelenggaraan kepentingan umum dan kesejahteraan rakyat.

Kepentingan orang banyak yang dikalahkan hanya karena sifat serakah dari para penyelenggara negara, merupakan bukti bahwa perilaku mereka sampai saat ini masih jauh dari kesahajaan, kejujuran, rela berkorban untuk kepentingan orang banyak, dan bahkan keluar dari aturan yang ditentukan.

Fragmentasi yang dapat kita lihat belum lama ini, yakni perseteruan antara Mahkamah Agung vs Komisi Yudisial dalam pengisian hakim agung; juga perseteruan Mensekneg vs KPK, menunjukkan adanya sikap egoisme yang seolah-olah berbalut ketentuan hukum.

Tanpa ragu, dan bahkan dengan lantang masing-masing menyuarakan dan membenarkan pendapatnya, tanpa memperhatikan bahwa mereka adalah panutan rakyat. Perilaku penyelenggara negara yang berkesan sombong, arogan, serta mengutamakan kepentingan diri dan kelompoknya itu sudah menjadi pemandangan umum yang sulit untuk dihindari.

Para pendiri negara telah menegaskan bahwa dalam mengembangkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia, harus searah dengan cita-cita dan tujuan Proklamasi Kemerdekaan dan cita-cita mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Cita-cita dan tujuan kemerdekaan itu telah tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yang pada intinya "merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur ".

Adapun mengenai pemerintah negara dinyatakan untuk "melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial".

Ideologi Negara

Telah jelas pula, landasan pijakan dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, yaitu Pancasila. Pancasila telah disepakati dan ditetapkan menjadi dasar dan ideologi negara. Eksistensinya sebagai dasar negara, secara tegas dimuat dalam TAP MPR XVII/MPR/1998, yang status hukumnya termasuk ke dalam TAP yang tidak perlu lagi dilakukan tindakan hukum lebih lanjut (selesai, tidak perlu didebatkan lagi).

Implementasi hal tersebut nampak dalam UU 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, yang dalam Pasal 2 disebutkan bahwa "Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum negara".

Sebagai sumber hukum pasti, Pancasila harus dijadikan sebagai dasar rujukan dalam penyelenggaraan negara. Perilaku penyelenggara negara yang tamak, arogan, mementingkan diri sendiri, adalah sangat jauh dari sifat-sifat sahaja, jujur, rela berkorban untuk kepentingan orang lain/masyarakat, dan selalu berpegang pada aturan yang benar.

Ketetapan MPR yang menjadikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, perlu lebih dioptimalkan fungsinya agar para penyelenggara negara selalu sadar dan menyadari akan sifat-sifat yang terkandung di dalam Pancasila merupakan sifat ideal yang harus diwujudkannya.

Agar perilaku KKN dapat dihilangkan, diperlukan pembaharuan semangat kembali untuk selalu menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai acuan dalam bertindak dan berbuat bagi penyelenggara negara, termasuk mereka yang ada dalam lingkup partai politik dan organisasi kemasyarakatan.

Mungkin, istilah yang dipopulerkan oleh Tukul Arwana dalam acara di sebuah stasiun televisi, "kembali ke laptop", bisa mengilhami kita untuk dan harus kembali ke Pancasila dan UUD 1945 dalam penyelenggaraan negara agar tidak terjadi KKN, sehingga tujuan pembentukan negara dapat diwujudkan.

Percaya atau tidak, Tukul telah mampu memberikan pencerahan berpikir dan berperilaku kepada kita dalam bermasyarakat, bernegara, dan berbangsa, walau hal tersebut tidak disadari oleh Tukul sendiri. ;)

“Hukum” di Balik Keruwetan Besar

Wednesday, March 7th, 2007

Di "republik mimpi" ini banyak peristiwa kontroversial hukum yang dianggap biasa, termasuk didalamnya perkara yang
masuk ke proses hukum, juga keputusan peradilan sesudahnya yang menjadi tanda tanya
masyarakat; sementara kita para awam pun hanya bisa menduga-duga adanya ketidakberesan.
Semua menyajikan panggung peristiwa yang hanya bisa ditonton, dan seolah-olah
panggung itu tidak dapat terjangkau oleh akal sehat orang awam. Kesan ketidak-beresan
itu banyak yang kemudian berlalu tanpa tersentuh. Sehingga sesuailah slogan negeri ini sebagai "negeri pelupa", atau "republik mimpi", ya pas lah sudah. Ambil contoh 1 ini yg teranyar, belum lagi habis atmosfer
bencana-demi bencana yg masih berlangsung (gempa, tsunami, kecelakaan pesawat, kasus2 korupsi), buru-buru kita disuguhi kontroversi terbaru: heboh perkara
pencairan duit Tommy Soeharto yang menyeret-nyeret nama para petinggi negara.

Kejaksaan Agung dan Komisi Pemberantasan Korupsi tengah mengorek keterangan
tentang pencairan uang Rp 90 miliar Tommy di Bank Paribas cabang London,
yang disebut-sebut ditransfer terlebih dahulu ke rekening Departemen Kehakiman
dan Hak Asasi Manusia pada 2004. Seorang pejabat (bahkan dua; Yth. Bpk YIM, dan Bpk HA, keduanya inner circle istana) diduga membantu mencairkan
uang Motorbike Corporation, perusahaan yang terdaftar di Bahama dan konon
milik Tommy - yang waktu itu sedang menanti remisinya di dalam bui. Kini
pemerintah menyiapkan dokumen-dokumen untuk membuktikan Rp 425 miliar di
BNP Paribas cabang Guernsey itu hasil kolusi, korupsi, dan nepotisme.

Janganlah memvonis. Hanya, kita menangkap sebuah fenomena tentang lawan
sejati keadilan yang justru mendekam aman di balik hukum. Secara struktural-kontekstual,
di dalam suatu proses hukum terdapat bias jejaring yang ditopang oleh akses
kuat - kekuasaan dan uang - untuk memengaruhi tahap demi tahap proses yang
sedang berjalan. Mengapa lawan sejati, karena tidak mungkin ada keadilan
ketika independensi hukum dikooptasi oleh kekuatan ja-ringan. Lalu mengapa
bisa mendekam aman di balik hukum, karena terdapat realitas untuk "membenarkan"
orang atau kelompok yang untouchable (tak tersentuh).

Realitas untouchable itulah yang menegaskan tentang gambaran
adanya "sesuatu" di balik proses-proses hukum. Seolah-olah berjalan
sesuai prosedur, tetapi pada tiap tahap terjadi "penyesuaian-penyesuaian"
dalam setting orang-orang kuat itu. Maka sering kita mendapati lembaga
peradilan melahirkan produk keputusan yang mengejutkan: hukum malah hadir
dengan ketidakpedulian pada keterusikan rasa keadilan rakyat. "Mafia
peradilan" yang sering diteriakkan dengan penuh tekad untuk diberantas
- juga dibantah oleh para petinggi hukum - pun mengapung dalam wujud "ada
tetapi tiada".

Kita menunggu apa yang akan terjadi di Pengadilan Distrik Guersney,
Inggris mulai Kamis besok. Upaya pembuktian Kejakgung bahwa uang yang dicairkan
di Bank Paribas itu berasal dari hasil korupsi tentu bukan tanpa mata rantai.
Juga sah-sah saja pembelaan putra bungsu mantan Presiden Soeharto itu mengenai
ke-absahan kepemilikan uangnya. Namun hukumlah yang akan membuktikan. Satu
soal lagi, keterlibatan pejabat di suatu departemen untuk meminjamkan rekening
sebagai tempat "transit" duit jelas menimbulkan tanda tanya.
Ketidakpa-tutan itulah yang harus menjawab pertanyaan: apa pembenarannya?

Komitmen Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberantas korupsi
dan dimulai dari lingkaran istana diuji lewat kasus-kasus yang belakangan
ini muncul, termasuk proses hukum menyangkut pencairan duit Tommy Soeharto.
Yang terpapar dalam perkara ini adalah kekuatan akses Tommy untuk mendapatkan
jalan mengalirkan dananya. Dan, kita yang awam pun hanya bisa menduga-duga
tentang "mekanisme" semacam itu. Sekaligus tentu menggugat, haruskah
hukum selalu di-telikung justru oleh mereka yang seha-rusnya menjadi penguatnya?
Tetapi janganlah menghakimi, biarlah hukum pula yang nanti berbicara. Memang sudah dr dulu begitu, bukan? ;)

JESUS DYNASTY

Monday, March 5th, 2007

Pada bulan April 2006, sejalan dengan terbitnya buku Injil Yudas, terbit
juga buku kontroversial lainnya berjudul The Jesus Dynasty. Buku ini ditulis
James D. Tabor (Simon & Schuster) dan sudah masuk ke toko-toko buku besar di
Indonesia, dan pada bulan Februari 2007 diterbitkan oleh Gramedia dalam
terjemahan bahasa Indonesia sebagai ‘Dinasti Yesus.’ Beberapa hari lalu akhirnya gw baru berkesempatan menyelesaikan membaca buku ini (setelah sempat tertunda-tunda bbrp waktu lamanya) dan berikut… inilah sedikit-banyak yg gw bs resensikan dr penelaahan terhadap isi buku tersebut.

Seperti yang diceritakan menurut sumber 4 Injil, Yesus dilahirkan oleh Maria
ketika bertunangan dengan Yusuf dan ia memiliki 4 saudara/i (menurut tafsiran Alkitab). Ia kemudian
menjalankan perintah Bapa di surga ketika berumur sekitar 30 tahun setelah
dibaptiskan oleh Yohanes pembaptis. Sekitar 3 tahun kemudian ia dihukum mati
dengan disalib, lalu dikuburkan dan pada hari ketiga bangkit dari kematian
dan 40 hari kemudian naik ke surga.

Nah, menurut versi Tabor dalam bukunya itu, pada masa hidupnya, Yesus berada
dalam suasana kemelut politik dimana umat Israel sedang menunggu gerakan
messianis
untuk membebaskan mereka dari penjajahan Romawi. Yesus dan Yohanes
pembaptis bergabung dalam gerakan Messianis itu dan menjalankan dua peran
mesianik. Yohanes Pembaptis sebagai keturunan imam Harun, sedangkan Yesus
sebagai keturunan raja Daud
. Keduanya menjadi tokoh gerakan yang mendambakan
kedatangan Kerajaan Allah di bumi Israel.

Yesus dan Yohanes pembaptis mengajarkan Torat dan hukum Yahudi, namun misi
ini berubah ketika Yohanes dihukum mati. Setelah melalui masa
ketidak-pastian, Yesus mulai mengkotbahkan hal baru di Galilea dan menantang
kekuasaan Romawi. Ia mengangkat Dewan 12 murid yang masing-masing memerintah
ke-12 suku bangsa Israel. Termasuk di antara 12 itu adalah ke-4 saudara
Yesus.

Berlanjut. setelah Yesus disalib, saudaranya Yakobus mengambil alih kepemimpinan dari
Dinasti Yesus itu. Sebagaimana Yesus dan Yohanes Pembaptis, Yakobus juga
menganggap dirinya sebagai orang yahudi yang taat. Tidak seorangpun dari
ketiganya yang menganggap gerakan mereka sebagai agama baru.

Menurut Tabor, adalah Paulus yang kemudian mengubah gerakan Yesus menjadi
agama baru yang disebut Kristen
setelah ia memutuskan hubungan dengan
Yakobus dan pengikut Yesus lainnya. Yesus dikaburkan kemanusiaannya dan
Yohanes pembaptis dan Yakobus menjadi terlupakan. Sekalipun ajaran Yakobus
lebih dekat dengan ajaran Yesus, ia dikalahkan oleh Paulus.

James Tabor dalam buku Jesus Dynasty menggambarkan kekristenan awal yang
berbeda dengan kekristenan Injil dan menggambarkan adanya gerakan spiritual,
sosial dan politik pembebasan Yahudi yang dipimpin oleh satu dinasti yaitu
Dinasti Yesus.

Salah satu hal kontroversial dalam berita Yesus versi Tabor adalah bahwa
Yesus sekalipun dilahirkan oleh Maria, tetapi tidak berbapak Allah maupun
Yusuf tetapi lebih mungkin seorang serdadu Romawi bernama Pantera, atau
tepatnya Tiberius Julius Abdes Pantera
, dimana tentu berkaitan dengan nama
kaisar Tiberius (sesudah tahun 14) sedangkan nama Abdes Pantera berbau
yahudi.

Tabor menjelaskan bahwa Yusuf meninggal waktu Yesus hidup sehingga
menyebabkan Yesus menggantikannya sebagai kepala rumah tangga, dan ketika ia
mati disalib, Yakobus saudara tirinya menggantikannya.

Dalam memaparkan versinya mengenai Dinasti Yesus ini, Tabor lebih memberi
penekanan kepada text-Q (Quelle yang dalam bahasa Jerman berarti sumber)
yang keberadaannya bersifat hipotesa itu. Dalam hipotesa sumber Q, dipercaya
bahwa semua kitab Injil, termasuk kitab Markus yang dianggap Injil tertua,
menggunakan sumber Q sebagai salah satu sumber Injil.

Pemaparan Tabor dalam bukunya itu dikatakan sebagai dihasilkan usaha
penelitiannya atas naskah awal kekristenan dan juga ketika ia menemukan
beberapa kuburan dilembah Hinom. Kuburan (ossuary) merupakan kebiasaan yang
digunakan pada masa Yesus hidup untuk menyimpan tulang-belulang mereka yang
telah mati. Di salah satu kuburan ditemukan beberapa peti mati dimana
diantaranya tertera nama-nama terkenal yang ditulis dalam bahasa Aram, yaitu
a.l. Maria dan Salome.

Teori Tabor mengemukakan bahwa sebenarnya sejak abad-2 beredar tradisi
cerita tentang Pantera, nama seorang prajurit Romawi yang kuburannya
ditemukan di Jerman. Pantera itu dijadikan plesetan dari kata yunani
parthenos yang artinya perawan. Lantas merujuk juga pada abad tersebut tersiar kabar ttg seorang bernama Yeshua ben Pantera jg beredar sbg seorang peletak pondasi kekristenan.. Tabor menganggap nama tersebut tak lain merupakan Yesus sendiri.  Jadi sebenarnya nama Yeshua ben Pantera itu
bukan menyebut Yesus anak (seorang) perawan tetapi Yesus anak Pantera,
tentara itu.

Dalam mendukung teorinya mengenai dinasti Yesus, Tabor menyebut soal
penemuan peti mati pada tahun 2002 yang disebut sebagai petimati Yakobus,
saudara Yesus. Penemu peti mati itu bernama Oded Golan, tetapi ditahun 2003
ia telah diadili oleh pengadilan di Israel karena dituduh telah melakukan
pemalsuan dengan menuliskan nama itu kemudian di dinding petimati tersebut
.
Namun sekalipun demikian Tabor termasuk salah seorang yang ingin membenarkan
keberpihakkan pada Golan.

Dengan adanya penemuan kuburan keluarga dimana ditemukan peti mati dengan
nama Maria dan Yakobus dan berisi kain kafan. Tabor mempercayai kemungkinan
bahwa itu kuburan Dinasti Yesus dimana penemuan peti mati Yakobus tahun 2002
oleh Golan kemungkinan juga berasal dari sana.

Menarik bahwa menghadapi kritik terhadap metoda penelitian historisnya,
dalam Blog Tabor di internet (8 Juli 2006), ia sendiri mengkritik
cerita-cerita seperti mengenai Yesus yang berkelana ke Inggeris dengan
pamannya Yusuf dari Arimatea, Yesus yang belajar di Mesir atau India, Yesus
yang menikah dengan Maria Magdalena dan mempunyai anak, semuanya
dikatakannya sebagai legenda yang berada diluar sejarah dunia, … namun
sebaliknya dalam bukunya pun, tanpa sadar sebenarnya Tabor menebarkan legenda
baru yang sama fiktifnya demi popularitas dan uang.

Memang pada abad-2 ada tulisan Celcus, filsuf Yunani, yang menyebutkan bahwa
Yesus anak tentara romawi bernama Pantera, tetapi tulisan itu ditolak oleh
Origenes. Sejak teori pencurian mayat yang ditaburkan oleh orang Yahudi
(Matius 28:13), para pengikut teori kebohongan itu (yang tidak percaya
kebangkitan Yesus) berusaha menghadirkan legenda-legenda alternatif. Sekali
lagi seperti disebutkan pada bagian terdahulu, alternatif-alternatif selain
isi Injil Kanonik itu banyak sekali tetapi tidak pernah sepaham dan
selalu berbeda-beda.

Kalau kita cari tahu lebih lanjut, mengenai plesetan legenda Yesua ben Pantera yang diartikan Yesus anak
(seorang) perawan, ini mengingatkan kita akan buku Barbara Thiering (‘Jesus
the Man’
) yang memplesetkan Barrabas yang disalibkan sebagai memiliki arti
Bar-Abba (anak Bapa) yang maksudnya anak dari Yesus.

Humm setelah finish melahap buku Tabor ini, gw makin diteguhkan bahwa berita mengenai dua messias Yohanes dan Yesus sejatinya tidak didukung kitab Injil,
dan dinasti Yesus yang kuburannya ditemukan di Yerusalem tua juga lebih
merupakan spekulasi daripada kebenaran sejarah. Apalagi, Yesus yang disebut
sebagai mendirikan dinasti yang berkuasa di Israel bertentangan dengan isi
Injil dimana Yesus mengatakan: "Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini" (Yohanes
18:36).

Menarik dicermati jika kita termasuk org  yang senang membaca puluhan buku sekitar sejarah Yesus
dalam dua dasawarsa terakhir ini -minimal baca resensinya kali yach :p, menarik untuk membandingkan satu buku
dengan buku lainnya yang ternyata tidak seragam kesimpulannya dan bahkan
saling menyalahkan.

James M. Robinson (buku terbarunya: ‘Jesus: According to the Earliest
Witness’
), fellow
 dari Jesus Seminar dan editor utama buku ‘The Nag Hammady
Library’
yang terkenal itu, menanggapi Injil Yudas (yang diterjemahkan
Gramedia) menyebutkan, bahwa "Injil Yudas tidak akan menawarkan hal-hal baru
mengenai murid yang menghianati Yesus … bagaimanapun ada manfaatnya …
tidak menyediakan pengertian yang lebih besar atas Alkitab." Padahal, Bart
D. Ehrman, penulis ‘Misquoting Jesus’ (yang juga diterjemahkan Gramedia)
menyebut bahwa "Injil Yudas merupakan salah satu temuan paling besar yang
menyaingi Gulungan Laut Mati dan Injil Gnostik yang ditemukan di Nag
Hammadi."

(Humm ya mungkin itu memang sesuatu yg besar menurut Bart D Ehrman, tapi bila menelisik pd Alkitab sbg tolok ukur, nyatanya semua yg tertera pd injil Yudas tidak berkontradiksi apapun..)

Jesus Seminar membenarkan ucapan-ucapan Yesus dalam Injil dan bahkan berani
memutuskan (melalui voting) yang mana ucapan yang asli diucapkan Yesus yang
mana tidak (‘The Five Gospel‘). Bart Ehrman sebaliknya dalam ‘Misquoting
Jesus’
menyimpulkan bahwa semua ucapan Yesus itu tidak benar karena mengalami kesalahan-kesalahan salinan yg telah berjalan berabad-abad lamanya.

Dikalangan milis Islib, menarik mengamati adanya polemik dimana ada yang
memuji thesis Barbara Thiering dengan tehnik Pesher-nya yang menulis buku
‘Jesus The Man’ (di Australia diterbitkan sebagai ‘Jesus and the Ridlle of
the Dead Sea Scrolls’
), padahal thesis itu ditolak oleh penganut Jesus
Seminar dalam milis yang sama.

Bandingkan juga, dikala dongeng Nicholas Notovitch (‘The Life of the Holy Issa’) yang diimani
jemaat Ahmadyah (‘Nabi Isa, Dari Palestina ke Kashmir’) dan Anand Krishna
(‘Isa: Hidup dan Ajaran Sang Mahisa’) menyebut bahwa Yesus kawin dan mati di
Kashmir dan kuburannya ada di Srinagar, James Tabor mengkritiknya sebagai legenda diluar sejarah bahkan mengkritrik juga teori khayal mengenai Yesus yang beristeri Maria Magdalena dan memiliki keturunan yang dipopulerkan buku ‘Holy Blood, Holy Grail’ dan ‘The Da Vinci Code.’

Pada umumnya buku-buku sensasi demikian menurut Luke Timothy Johnson (’The
Real Jesus: The Misguided Quest for the Historical Jesus and the Truth of
the Traditional Gospels’
) cenderung memiliki kesamaan, yaitu: (1)
Ditekankannya keabsahan ilmiah buku dibanding pengajaran gereja; (2)
Menawarkan ajaran baru yang tidak dikenal / ditolak gereja; (3) Kebenaran
Injil ditawarkan menurut gengsi penyelidikan sejarah yang biasanya dilihat
dari sumber-sumber- luar; (4) Ditonjolkannya kesan isi buku yang provokatip;
dan (5) Buku mempunyai maksud agar kekristenan menguji kembali atau bahkan
mengubah ajaran-ajaran gereja yang tradisional.

Sayang sekali bahwa dalam dua terakhir ini, Gramedia penerbit buku utama
itu tergiur juga menerbitkan terjemahan buku sensasi yang berpotensi
menimbulkan keresahan SARA seperti Injil Yudas, Misquoting Jesus dan Jesus
Dynasty
, tapi tidak menerbitkan terjemahan buku-buku berbobot yang
meneguhkan sejarah Yesus seperti karya-karya NT Wright, Graig Evans, Luke
Timothy Johnson, Stephen Evans, Graham Stanton, Ben Werrington, dan banyak
lainnya, yang sebenarnya memberi perimbangan informasi yang menguatkan
sejarah Yesus dalam Injil. Kehidupan iman seseorang dipengaruhi apa yang
didengarnya dan buku apa yang dibacanya.

Akhirnya, dari buku-buku demikian dan khususnya yang baru terbit ‘Jesus
Dynasty’
 dalam terjemahan bahasa Indonesia karya James D Tabor itu, kita dapat menyimpulkan kembali, bahwa selama begitu banyak beredar buku-buku cerita sensasi yg berbeda-beda isinya dan tidak sepaham, berusaha mengkontradiksikan diri terhadap keabsahan Alkitab, maka berita  Injil
Kanonik Alkitab tetap bisa dipercaya sebagai bersejarah
.