Bobolnya Pengamanan Presiden
Saturday, June 30th, 2007Hualaaah!!! Pagi-pagi, puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-14 di Ambon, Maluku, Jumat lalu, diwarnai insiden menyentak. Presiden SBY yg hadir pd acara itu tiba2 disuguhi tarian Cakalele yg ditampilkan puluhan pemuda, yg lantas mengibarkan bendera Republik Maluku Selatan (RMS) di hadapan sang Presiden RI. Damn..geger dah!!
Seketika kita mempertanyakan, gimana mungkin sebuah kegiatan di lapangan terbuka yg dihadiri seorang presiden, bisa disusupi orang2 yg tidak seharusnya berada di lingkar dalam pengamanan? Apalagi penyusup2 yg menyaru sbgi pengisi acara itu, merupakan simpatisan atawa pendukung RMS, yg notabene adalah gerakan separatis terlarang di Tanah Air.
Dari insiden tersebut menurut gw jelas ada dua hal penting yg patut dicermati. Pertama, dalam konteks politik, kelompok RMS yg menampakkan diri di depan Presiden, adalah wujud masih bercokolnya gerakan sempalan itu di bumi Maluku. Dalam skala apa pun, hal itu tidak bisa dianggap remeh! Justru sebaliknya, kita mesti menuntut aparat penegak hukum, utk segera menuntaskan elemen2 gerakan separatisme dari Tanah Air, agar tak mengancam keutuhan NKRI.
Kedua, dalam konteks keamanan, insiden tarian Cakalele itu menunjukkan bhw aparat keamanan, baik lokal maupun unit Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) kecolongan. Prosedur tetap yg cukup ketat di setiap kegiatan outdoor presiden, terbukti tak dijalankan secara benar.
Sistem pengamanan untuk menyaring siapa saja, termasuk pengisi acara, yg bisa memasuki lingkaran terdekat (ring 1) dari posisi kepala negara, bisa ditembus dgn mudah oleh penari2 simpatisan RMS. Bahkan dgn mudahnya mereka lalu mengibarkan bendera RMS di hadapan Presiden SBY. Insiden ini tentu sj sgt membahayakan keselamatan jiwa kepala negara.
Lantas mengapa insiden itu bisa terjadi? Jelas sekali, ini disebabkan oleh kelengahan aparat keamanan kita, termasuk intelijen. Potensi kerawanan, baik secara politis maupun keamanan riil, tidak terdeteksi secara sempurna oleh aparat. Ambon (Maluku) yg kita semua tau msh menyimpan potensi kerawanan keamanan pascakonflik antaragama bbrp tahun lalu, serta potensi keberadaan RMS nya,…lha pengamanan yg diterapkan seharusnya lebih ketat dibanding wilayah lain yg potensi kerawanannya relatif lebih aman.
Adalah hal yg tdk masuk akal, serombongan pemuda yg mengaku sebagai pengisi acara, bisa melenggang tanpa bisa dicegah, dan tampil di hadapan presiden. Ini kan sdh ada draft acaranya… — bisa dilihat ada nggak tarian itu dalam draft, lantas pengisi2nya memang benar orang2 itu nggak? Urusannya nampil di depan presiden gitu lho!– Jelas dong ini membuktikan tdk ada koordinasi antara aparat keamanan dari lapis terluar hingga terdalam, serta panitia yang ngurusin pengisi acara.
Sebagai pengisi acara liar, mestinya serombongan pemuda simpatisan RMS itu tidak punya tanda pengenal resmi dari panitia, sbg tanda juga bhw mereka diperkenankan memasuki areal acara. Sayangnya, lha kok hal itu luput dari petugas.
Kita lantas bertanya-tanya, apa yg sebenarnya terjadi dengan Paspampres, panitia, dan aparat keamanan lokal yg mengamankan kunjungan presiden? Mengapa mereka lengah, hingga hal yg paling sederhana pun, seperti menyeleksi siapa yg boleh masuk dan tidak, nggak dijalankan dengan benar.
Tentu saja ada yg harus bertanggung jawab atas insiden di Lapangan Merdeka, Ambon tersebut. Kita ingin peristiwa serupa tdk terulang di kemudian hari. Kita juga berharap agar aparat keamanan dan intelijen bertindak lebih profesional.
Di sisi lain, masyarakat juga harus selalu mengingatkan, agar pemerintah tetap menaruh perhatian thd ancaman separatisme yg masih bercokol di Maluku. Meskipun gerakan RMS tak sebesar Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM), kehadiran mereka tetap harus diwaspadai dan ditumpas, agar tak mengancam keutuhan NKRI!