Harry Potter (Catatan Kecil Dalam Perspektif Kristiani)
Wednesday, July 25th, 2007Tidak! Saya tidak senang sihir! Saya nggak suka sihir! Apalagi percaya sihir! amit-amit! Boro2 percaya, disuruh baca buku sihir pun, saya emoh banget!
Lo, kalau begitu kenapa ada buku ttg Harry Potter ini? Tenang, jangan buru2 sewot. "Orang Kristen" banyak yg kayak gitu kan? But, easy lah, jgn lihat buku ini langsung jd sewot, "Murtad!" Heh? Emangnya BPK Gunung Mulia itu penerbit sihir?
Harry Potter menurut saya sama sekali tdk menggaris-bawahi sihir. Sebaliknya, buku ini justru mengkonfrontasi praktik sihir dgn iman kristiani. Buku ini menyoroti praktik okultisme dlm terang Injil Kristus. Buku ini diterbitkan aslinya oleh penerbit milik Presbyterian Church USA, yaitu Westminster John Knox Press, yg sgt selektif dlm menerbitkan naskah. Pengarangnya pun mempunyai reputasi baik, yaitu Connie Neal, seorang pakar literatur Kristen.
Tetapi bukankah Harry Potter penuh sihir? Ya emang. Bahkan sihir dlm cerita Harry Potter bnyk yg serupa dgn praktik dunia sihir sesungguhnya. Sampai2 ada tuduhan bhw cerita Harry Potter secara terselubung bertujuan meracuni anak2 dgn ilmu sihir.
Jenis sastra cerita Harry Potter adalah fantasi dan berpanggung ttg sekawanan remaja yg berpetualang dgn berbekal kemampuan sihir.
Buku cerita fantasi mmg merupakan wahana ampuh utk mendidik anak. Jenisnya beraneka, tentang legenda dan fauna, peri dan kurcaci, epik dan profetik, pahlawan gagah berani melawan penjahat keji. Pokoknya seru! Belum lagi fiksi realistik, yg walaupun realistik namun ttp merupakan fantasi. Cerita fantasi berguna utk mengembangkan imajinasi anak, sebab setiap orang perlu mengembangkan kemampuan berimajinasi.
Dengan membaca cerita fantasi, anak belajar membedakan antara khayalan dan kenyataan. Bisa jd, setelah membaca cerita Harry Potter, anak ini meniru dan menyihir kucingnya, "Sim salabim, Avadra Kadabra, kucing jadilah kau harimau!" Tetapi kucing itu mlh lari ketakutan sambil mengeong. Tahulah anak ini bahwa khayalan bukan kenyataan.
Memang sjk dini anak memerlukan jenis2 bacaan fiksi atau non-fiksi yg beraneka ragam spy ia mempunyai pilihan dlm mencari dan mengarahkan pembentukan jati dirinya. Kemajemukan jenis bacaan diperlukan utk perkembangan kepribadian.
Semua itu hanya wahana. Yg penting lg adlh tujuan, yaitu fungsi pedagogis di balik cerita. Apa nilai2 hidup yg terkandung di dalamnya?
Cerita Harry Potter mengandung nilai2 pedagogis. Melalui alur yg padat rintangan dan solusi yg ditangani Harry Potter n’ kawan2, para pembaca melihat nilai2 spt prakarsa, rasa ingin tahu, tekun, kreatif, inovatif, bersahabat, kerja sama, setia, jujur, mau berusaha dan berlelah, berani melawan yg jahat, serta banyak lainnya.
Dalam kacamata buku Injil menurut Harry Potter ini, Connie Neal (orang Westminster John Knox Press), kita melihat bhw cerita Harry Potter menyiratkan bnyk tema Injil Kristus yg dipraktikkan oleh para pelaku, misalnya mengampuni, mengasihi, merangkul yg tersisih, bertekun dalam derita, bermurah hati, menolong yg tdk berdaya, dan lainnya. Secara kasat mata Neal membandingkan berbagai adegan cerita Harry Potter dgn perikop2 dr keempat kitab Injil.
Tetapi bukankah perbuatan sihir Harry Potter berurusan dgn kuasa jahat? Memang! Justru karena itu kita diajak oleh Neal utk menaati firman Kristus, yaitu menangkal kuasa jahat. Tulis Neal, "Therefore, although, they are real and dangerous, we need not cover ini fear of evil spirits. Like Harry and friends, we can learn to practice Defense Against the Dark Arts, trusting that there is a greater power at work that we may not yet fully understand," Alkitab tidak menyangkal kuasa2 sihir. Namun kuasa2 itu dinilai tdk langgeng dan akan punah, sekalipun bnyk sihirmu dan sgt kuat manteramu" (Yes 47:9).
Kuasa sihir sungguh ada, namun kita tdk percaya, dlm arti tdk mempercayai dan tdk mempercayakan diri kepadanya.
Sama spt Harry Potter, kita pun hidup di tengah kuasa2 kejahatan. Tetapi sumber pertolongan kita dlm menangkal kuasa2 kejahatan itu berbeda dari Harry Potter, bhkn bertolak belakang. Justru cerita Harry Potter memawaskan kita pd sumber pertolongan kita, yaitu Kristus. Tulis Neal, "The Promised return of Jesus, the Prince of Peace, is bright opposite to the ominous expectation of the Dark Lord’s return in Harry’s world."
Tetapi apakah iman kristiani kita tdk jd goyah jk membaca buku Harry Potter?
Ah, masakan! Masakan iman jadi goyah cuma gara2 membaca dongeng? Yg bener aja. Kalo lantaran nggak dipupuk (dlm arti memelihara persektuauan dgn Tuhan) sih iya kali. Neal bilang "Is our own faith so fragile that we dare not know what those of different sect of Christianity, or those of undisclosed religious persuasions, or those of different religious background are thinking?"
Cerita Harry Potter memang diminati dan dimusuhi. Yg suka cerita Harry Potter bnyk, namun yg membencinya jg bnyk. Bahkan ada gereja yang begitu sewot sehingga membakar buku Harry Potter. Wah kalau saya sih memilih asyik2 aja. Hehehe.
Btw busway, waktu mendengar sewot2 itu, saya kok jd berimajinasi. Apakah Tuhan jg ikut sewot, ya? Maka saya pun mengetuk ruang belajar Tuhan. Wah ruangan itu penuh dgn buku. Sambil memperlihatkan buku Harry Potter, saya bertanya scr sopan, "Tuhan, maaf mengganggu sebentar. Buku Harry Potter ini jd heboh. Ada gereja yg memaki-maki pengarangnya dan membakar bukunya. Mereka sewot banget."
Apa Tuhan tidak ikut sewot? Tuhan tersenyum, lalu Tuhan menoleh ke atas meja tulis-Nya. Astaga, ternyata di atas meja Tuhan pun ada buku Harry Potter. Hahaha.
(Penulis adalah Mantan Ketua Umum KBMK Univ Mulawarman)