Apaan sih Merdeka?
Ngutak-atik definisi, drpd repot, okay
dah aku ambil sari tulisan seorang sahabatku ttg kemerdekaan (Boleh
ya, Vis). Dia sih ngutip jg, mengambil dari pidato Roosevelt’s
Freedom. Disini arti merdeka disarikan cukup bgs. Merdeka dibagi
dan diurutkan dr bawah biar terlihat yg didasar itu pondasi dr
atasnya.
M4. Merdeka utk beribadah (Freedom Of Worship
God)
M3. Merdeka utk berpendapat (Freedom Of Speech And
Expression)
M2. Merdeka dr ketakutan (Freedom Of Fear)
M1.
Merdeka dr kemiskinan atau kebutuhan (Freedom From Want)
M1
dan M2 merupakan masalah dasar kebebasan terutama di negara2
berkembang temasuk Indonesia, Afrika, dll.
Dua yg berikutnya
M3 dan M4 srg diteriakkan oleh negara2 maju namun pastinya 2 teratas
ini jelas memerlukan kedua dasar dibawahnya. Nggak mungkin kita
berekspresi kl perut msh lapar kan? Menyembah Tuhan pun begitu
(rasionalitas spirituil)
M1. Merdeka dari kemiskinan/kebutuhan
(Freedom From Want)
Merdeka dr keinginan dasar (makan
dan minum) atau kemiskinan merupakan dasar dr semua tingkat
kemerdekaan. Peran pemerintah atau negara tentu sj sgt ptg dlm hal
ini. Lah mana bs org berfikir jernih dan bekerja dgn serius kalau
perut lapar? Apa kita bs konsen bekerja kalau isteri terus ngomongin
"itu lo Pak mobil tetangga itu" masih mengganggu
otak, susah la yaw.
M1 ini bs saja memang hanya dilihat
hanya scr tradisional sebagai kemerdekaan dlm artian biologis makan
minum saja. Tp bs jg dilihat scr lbh mendalam misalnya tipe org
yg kemaruk akan kekayaan materi shg dia jg nggak akan dpt optimum
mengekspresikan diri (M3) dgn bebas, Isn’t Rite? Merdeka M1
ini jg tidak hrs diartikan kemewahan materi yg akhirnya nampak
untouchable. Jadi mikirnya relatif sih mau tradisionil
(kebutuhan dasar) atau materialistis (tersier), kan sm saja intinya
jg kebutuhan. Gue sih juga yakin kalau hanya soal menyediakan sehari
makan 3 kali bukan sesuatu yg mustahil utk dilakukan pemerintah
manapun dlm kondisi perekekonomian apapun jg. Tinggal dirantang aja
kan beres. Harga sesuap nasi tentunya jauh sekali dr harga VLCC
(kasus pak Laks), maupun Sukhoi atau Lamborghini.
Tetapi
mengapa hal ini sering terjadi? Ya mungkin sj hal ini karena mental
penguasa negara dan pengusaha itu masih dapat memanfaatkan M1 saja
sdh cukup utk mengontrol kursi empuknya. Dan payahnya lg kelemahan
dlm hal kemerdekaan yg 1 ini masuk dlm level ekonomi manapun. Tragis
ya, hanya dgn iming2 gaji naik sj bersedia utk milih si anu secara
kasarnya hanya dgn iming2 makan "indomie" saja bs berubah
deh pilihan Cagubnya… Banyak bukan di Jakarta…sedih deh gua…
Btw di kantor jg gitu, hanya demi sekian dolar sdh rela
mengorbankan idealismenya.
Gue masih ingat banget peraih hadiah
nobel eknomi Amartya Sen mengemukakan bahwsa masalah kemiskinan
bukanlah terletak pd tidak adanya yg akan dimakan, juga bukan masalah
pendanaan atau pengadaan makanan. Namun lebih banyak karena masalah
distribusi atau pemerataan.
Nah kalau kebutuhan dasar makan minum
wae masih belum terpenuhi ya tentunya kriminalitas akan tetap
merajalela. Bahkan yg lebih prihatin saat ini yg jahat kan lebih
“berani” ketimbang yg baik. Coba deh kalo ada pencurian, jambret,
atau perampokan selalu si penjahat tidak lagi takut2 wajahnya
dikenali. Nyopet zaman dulu itu sembunyi2, tapi zaman sekarang “sak
karape dewe”, nodong aja berani di muka umum. Nah kalo yg
berkeliaran di gedung DPR mah biarin, itu emang tempat nda umum sih
-
Nah, apakah anda, saya, kita ini
sudah merdeka dari M1 konvensional (makan dan minum)? -
Apakah kita sudah memerdekakan
diri dari M1 modern (harta kekayaan)?
M2 Merdeka dari rasa takut (Freeedom of
fear)
Merdeka dr ketakutan yg merupakan,
landasan kedua tentunya sangat penting dalam mengontrol. OK, sekali
lagi mengontrol. Dimana mengontrol ini menjadikan masyarakat
feodalis. Kalo mo makan ya sowan dulu, kalo perlu nunduk2 harus cium
kaki dulu… bahkan yg lazimnya ialah sungkan sm penguasa, takut sm
boss di kantor sehingga harus nyembah atau dlm kasus sederhana anak
buah harus membawakan tas atasannya, Haiaaaah….!
Seringkali M2 ini dipakai dlm berlogika
untuk memperoleh M1. Logika2 feodal misalnya, “La kalo mo makan
nyembah dulu”, “kalo mo naik pangkat ya sowan atasan dulu”…
etc etc.
Banyak sekali cara menakut-nakuti orgf.
Sampai2 polisi yg seharusnya menjadi tameng penjaga malah menjadi
kaya “memedi sawah” utk naku2in burung. Coba apa perasaan andfa
ketika melhat banyak polisi di pinggir jalan? Apakah merasa aman atau
merasa takut berarti ada sesuatu tyerjadi sehingga polisi berkumpul?
“Manage by feear” ini kerap
jg ada di kantor. Sering terdengar bahwa sang supervisor bilang
bahwa pak manager minta draft design atau laporan kauangannya
mesti selesai hari ini, dan itu kita beritahukan ke bawahan kita.
Dlm hal ini pak manager berkata biasa saja menanyakan kesiapannya,
namun kita sebagai supervisor memberitahukan pak manager “marah”
karena draftnya blm selesai. Dengan cara ini sengaja atau tidak kita
menempatkan next level supervisor sebagai “memedi sawah” bagi
anak buah.
Tidak mudah memperoleh kemerdakaan M2
ini. Masih banyak di antara negara2 berkembang yg memanfaatkan M2 ini
utk berkuasa. Tentunya kita jg harus dpt membedakan antara orang yg
berani dgn seseorang yg memiliki M2, karena keberanian berbeda dgn
kenekatan dlm bertindak.
M3 Merdeka berpendapat dan berekpresi
(Freedom of speeech and expression)
Di level ini arti kemerdekaan sudah
memasuki ruang publik dr ruang privat. Karena akan terjadi konflik
antara hak pribadi dgn hak publik. Gue ambil contoh kasus film yg
cukup kotroversial BCG (Buruan Cium Gue). Disini akan rumit
membedakan mana yg merupakan hak pribadi dan mana yg merupakan hak
publik, dan apakah hak publik telah menginfiltrasi hak privat. Anda
pun bebas berpendapat soal ini. Whatever u say lah…
Akhirnya yg muncul ialah relativitas.
Sesuatu menjadi benar dlm situasi dan kondisi serta waktu tertentu
untuk si anu. Ndak mungkin seseorang menjadi benar melulu dlm segala
situasi, dlm segala suasana dan dimana saja.
Nah bgmn mungkin seseorang bisa
mengekpresikan kemampuan dirinya secara optimum kalo M1 dan M2 nya
blm diperoleh. Seseorang akan berani mengeluarkan ide kalo saja M1
dan M2 bukan menjadi kendala baginya. Dan sekali lagi, memperoleh M1
tidak harus mewah dan memiliki M2 tidak harus berani nekat.
Yg cukup penting dalam hal ini ialah
ungkapan “Shoot the message not the messanger”. Serang
saja pendapatnya tapi jgn lukai orangnya.
M4 Merdeka dl beribadah (Freedom of
every peerson to worship God)
M4 ini merupakan the ultimate
freedom. Beribadah di sini ndapat juga diartikan bebas
berhubungan dengan yg sifatnya transendental dan berupa
spiritualitas. Jd bebas dgn yg diper”Tuhankan”. Yg mudah adalah
kebebasan dlm menjalankan ibdh tanpa hrs diatur oleh negara.
Kalo gue sih paling seneng sm ungkapan
“bagiku agamku, bagimu agamamu” titik!
Yg sulit disini ialah bahwa kita hrs
mengerti bahwa hak kebebasan ini dimiliki oleh siapa saja. Dan
besarnya (magnitude) kebebasan ini sm persis antara saya,
Anda, dan dia serta mereka. Sm antara bakul jamu, tukang sapu,
presiden, pengusaha, supervisor, tukang becak maupun karyawan/bawahan
kita dimanapun adanya.
M3 dan M4 ini sering merupakan inti
dari visi misi LSM2 dukungan negara2 maju. M3 dan M4 ini diberikan
(dicekokin) ke LSM2 Indonesia. Nah coba bayangkan apa yg terjadi
seandainya org yg blm memiliki M1 dan M2 mau memperjuangkan M3 danM4?
Pasti deh, amburadul cape dech…maaf nich bukannya gue
anti sm LSM ya
Konsep kemerdekaannya Roosevelt ini
tentu bukan satu2nya konsep merdeka yg harus diikuti, namun gue yakin
aja dapat dipakai seagai wacana bagi kita untuk dapat mengerti makan
sebuah kemerdakaan. Dan harapan gue sederhana sich, tentunya
kita tdk lg berpendapat bahwa kemerdekaan sbg “Kemerdekaan
anak2 kecil” yg bebas ngompol dimana2. Kemerdekaan ternyata
bukan hal yg sederhana ya?
O ya, pesen temen gue (Davis) ini salah
satunya: “Jin halnya jika cuma ‘demi diriku’ atau ‘demi
keluargaku’ → itu mah
sekarep-kareika kau mau memakai kata2 besar ‘demi
negara’, atau ‘demi bangsa’→
berfikirlah dulu tentang artinya. Lap
ndasmu sempal ;)” ,
asal nggak ketangkap polis ya :p.
Salam
Merdeka!
August 21st, 2007 at 8:26 pm
Ealah mas, merdeka aja kok ribet yak?
Lus, sgt disayangkan ya, sbg bangsa yg bs merumuskan deklarasi sebagus itu tapi dlm prakteknya skrg malah spt tidak mengerti sm sekali gimana caranya menegakkan kebebasan itu sendiri. Pelanggaran2 HAM dan kedaulatan teritorial internasional sdh mereka injak2 dgn luar biasa, baik melalui penjajahan secara militer (Irak, Timur Tengah), maupun dlm bentuk kapitalisme global nya (lewat kebijakan neo-liberalisme dari para agen The Economic Hit Man nya, macam IMF and Bank Dunia)
Gw sebel, dia mo bawa kemana sih sebenernya dunia ini? Bagi mereka skrg ini, merdeka itu punya arti apa kira2?
August 28th, 2007 at 9:38 pm
Indonesia sudah merdeka blm sih dr kemiskinan, dari ketidak adilan, dari ketidak jujuran, dr korupsi, dari kebodohan…mnrt saya ini yg perlu direnungkan dr arti kemerdekaan.
August 29th, 2007 at 3:08 am
Lus, gw mau komentar nggak nyambung aja: Erich Fromm tuh pernah nulis buku berjudul “Escape from Freedom”. Rupanya, in some degree, kemerdekaan itu juga sesuatu yang menakutkan.. terutama mereka2 yang kehilangan sense of direction
September 3rd, 2007 at 7:30 am
Enji: Edward Blooming Waynne di “Managing Otority System” menjelaskan tentang seluk-beluk otoritasm yg kalau tidak dikelola dgn perangkat yg baik akan terjerumus pada otoritarian yg negatif (coz otoriter ada yg positif juga).
Rasanya penjelasan atas pertanyaan elu bs disinkronkan disitu, Nji. Ini menyangkut sesuatu yg ‘adikuasa’ kan? Nah, loe pernah nggak merasa menjadi seorang adikuasa…dan apa yg akan loe lakukan?

Choco: Ini perjuangan seumur hidup ya? Bahkan nggak akan pernah berhenti, malah…
Jd jawabannya: Bulai May
ibunyaima: Well, Kalau kemerdekaan itu merupakan sesuatu yg mutlak, artinya ia berlaku universal, ya mbal? Jd semua org punya. Implikasinya setiap individu mesti mengakui kemerdekaan org lain. Berarti kemerdekaan ttp ada batasannya juga kan, yaitu tidak mengganggu/ membatas kemerdekan org lain.
Btw, “kehilangan sense of direction” itu spt apa sih? Kebebasan dlm arti sempit kayak euforia gitu yah? Atau kayak kita “gang of four” yg bebas saling membantai? Hahaha
September 3rd, 2007 at 7:36 am
Enji: Edward Blooming Waynne di “Managing Otority System” menjelaskan tentang seluk-beluk otoritasm yg kalau tidak dikelola dgn perangkat yg baik akan terjerumus pada otoritarian yg negatif (coz otoriter ada yg positif juga).
Rasanya penjelasan atas pertanyaan elu bs disinkronkan disitu, Nji. Ini menyangkut sesuatu yg ‘adikuasa’ kan? Nah, loe pernah nggak merasa menjadi seorang adikuasa…dan apa yg akan loe lakukan?

Choco: Ini perjuangan seumur hidup ya? Bahkan nggak akan pernah berhenti, malah…
Jd jawabannya: Bulai May
ibunyaima: Well, Kalau kemerdekaan itu merupakan sesuatu yg mutlak, artinya ia berlaku universal, ya mbal? Jd semua org punya. Implikasinya setiap individu mesti mengakui kemerdekaan org lain. Berarti kemerdekaan ttp ada batasannya juga kan, yaitu tidak mengganggu/ membatas kemerdekan org lain.
Btw, “kehilangan sense of direction” itu spt apa sih? Kebebasan dlm arti sempit kayak euforia gitu yah? Atau kayak kita “gang of four” yg bebas saling membantai? Hahaha