Kritik Sekadar Tebar Pesona
Gregetan gw. Sudah jd budaya rupanya (ato penyakit ya?) bahwa mengkritik ternyata lbh gampang dibandingkan mengerjakan sendiri sebuah tugas hingga selesai. Mungkin ini jg menjadi ciri masyarakat dan pemimpin Indonesia shgga bangsa ini nyaris tdk bs keluar dr krisis yg berkepanjangan. Jagonya cuma saling kritik, protes dan menertawakan merupakan hal yg wajar sbg oposisi dlm demokrasi dan sepanjang menyinggung hal2 yg substansial untuk membangun bangsa. Lebih bagus jk kritikan disampaikan phk yg berada pd sisi obyektif dan bukan yg prnh atau msh menjadi bagian dr sistem. Haiaah.
Ini jelas banget jd salah satu sisi yg terlihat dr Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PDI Perjuangan. Dengan suara lantang dan terkesan mengejek, Ketua Umum PDI-P yg jg mantan Presiden ini mengkritik apa yg dicapai pemimpin bangsa skrg, tepatnya pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Dengan gaya masing2, Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla menanggapi kritik tsb dan berupaya membela diri.
Objektif aja nih ya, gw rasa sjk masa Megawati, bahkan jauh sebelum nya, hingga saat ini pun tdk ada perubahan berarti kok. Benarkah Megawati dan jajarannya berniat memajukan bangsa ini, apalagi dalam tingkat operasional kader PDIP menyumbangkan 12 gubernur, 4 wakil gubernur, 24 bupati, 46 wakil bupati, 12 walikota dan 4 wakil walikota. Kita lihat saja buktinya bagaimana. Walaupun di sisi lain, apa yg disampaikan Megawati terkait kedaulatan dan kepercayaan diri bangsa yg merosot, menurut gw mmg hrs diterima sbg sebuah kenyataan.
Saat ini Indonesia benar2 berada dlm bayang2 kedaulatan bangsa lain. Bahkan, lbh pantas jk kita sebenarnya telah dijajah dr segala sisi. Ya, ada benarnya jg jka Indonesia hrs dipimpin oleh pemimpin seperti Soekarno, tapi kan masalahnya adakah yg msh mewarisi nilai dan semangat Soekarno itu?
Keterpurukan dan kemunduran bangsa kita ialah kontribusi semua pemimpin bangsa. Siapapun pemimpinnya, mereka menjadi bagian yg menambah penderitaan rakyat saat ini. Isn’t right? Untuk itu, kritik sekadar menebar pesona hanya sebuah siklus yang dimainkan pemimpin bangsa untuk menarik dukungan rakyat menjelang perebutan kekuasaan. Itulah kritik tanpa solusi yg selalu berulang setiap lima tahun.
Tentu sayang sekali, jk sebuah forum seperti Rakernas II dan Rakornas PDIP ternyata tdk menyiapkan solusi alternatif atas persoalan bangsa. Pamer kekuatan dan konsolidasi partai hanya sebatas mencari pertautan dan pasangan politik merebut kekuasaan. Namum gw jg tidak mengingkari, pola2 spt itu adalah sebuah kewajaran dlm politik, tetapi harusnya diimbangi dong dgn kontribusi yg membangun. Serta sah2 jg jika forum bergengsi itu hanya utk memastikan Megawati sbg calon presiden (capres) pd Pemilu 2009. Tinggal mencari siapa yg akan menjadi pendampingnya agar terwujud ide besar sbg pemimpin yg memberi solusi kpd bangsa ini. Harapan kita sih begitu.
Alhasil melalui hasil forum besar ini lah, mesin partai pun mulai bekerja dgn sebuah laboratorium konsolidasi lebih dari 15.000 kader PDI-P yg berkumpul di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ya harapan gw sebagai rakyat sih nggak muluk2, yaitu semoga Rakernas II dan Rakornas PDIP tidak lg hanya skdr mengambil hati rakyat tanpa arahan operasional dan kontekstual. Demikian jg agar cita2 besar tdk lg hanya mengulang kembali lagu… "janji setinggi langit tetapi hasilnya setinggi bukit…." (uraian nya Bu Mega yg kata SBY mirip lagu, hehe). Mudah-mudahan siklus harapan itu tdk terus-terusan berputar dan berulang, tetapi rakyat tetap menderita. Pemimpin boleh sj mengumbar janji dan slg kritik, tetapi rakyat perlu lbh jeli melihat komitmen tsb. Ada saatnya rakyat bosan dan tdk peduli dgn janji2 tsb.
September 23rd, 2007 at 8:27 am
Iya males ah dukung bu Mega lagi, gak ada prestasinya. Lagian jaman itu jg ngga baik2 amat dr yg skrg. OMDO aja tuh ibu
Masih tetep Gus Dur terus nih kak? :p
December 13th, 2007 at 6:54 pm
Yaps. Perasaan semua presiden emang kayak gitu kan?
GD teteeep. Hehehe