Archive for November, 2007

Narkoba Dibalik Jeruji besi

Wednesday, November 28th, 2007

ANGGAPAN bahwa eksistensi penjara atw lembaga pemasyarakatan
(Lapas) adalah sbg tempat pembentukan mentalitas dan moralitas pelaku
kejahatan agar jera, menyadari, dan tdk mengulangi kejahatannya, ternyata
patut diragukan. Sebaliknya, penjara yg selayaknya mjdi tempat pembinaan
justru semakin mencetak penjahat profesional dan kreatif dlm melakukan
tindak pidana (lainnya).

Gak setuju? Emang faktanya gitu kok. Kondisi itu diindikasikan dgn maraknya pemberitaan media massa akhir2
ini ttg pemakaian, peredaran, produksi, dan pengendalian edar narkoba
di balik penjara. Indikasi itu muncul ke permukaan, menyusul tertangkapnya
Roy Marten yg sekaligus diduga polisi terlibat persekongkolan dgn
orang2 yg msh berstatus napi.

Kenyataan bhw terdapat peredaran narkoba di penjara, sebenarnya bukanlah
berita baru. Gw ngecek, tahun 2004, publik pernah dikejutkan oleh kasus masuknya barang
haram narkotika jenis sabu2 di LP Kebunwaru, Kota Bandung, di salah
satu kamar tahanan narapidana.

Setahun berikutnya, seorang sipir Rutan Salemba, Jakarta, terpaksa
harus dijebloskan ke dalam penjara karena terbukti jadi kurir narkoba
di dalam penjara. Gak cuma itu, mudah2an belum hilang dari ingatan kita pd
saat aparat Polda Jateng bekerja sama dengan Polwil Banyumas dan Polres
Cilacap, berhasil membongkar sindikat peredaran narkoba yang melibatkan
jaringan internasional di Lapas Nusakambangan, di Cilacap.

Baru2 ini, gw baca lagi, Direktorat Narkoba Polda Jawa Timur berhasil membongkar
jaringan narkoba yg ternyata dikendalikan dari tiga rumah tahanan (rutan)
dan lapas, yakni Rutan Kelas 1 Surabaya Medaeng, Lapas Sidoarjo, dan Lapas
Pamekasan.

Bahkan nih, Direktur IV Tindak Pidana Narkoba, Badan Narkotika Nasional
(BNN), Brigjen Indradi Thanos, pernah mengatakan, lbh dari 75 persen
peredaran narkoba di Jakarta dan sekitarnya, dikendalikan dari tiga penjara
yaitu Lapas Cipinang dan Tangerang, serta Rutan Salemba.

Semakin Akrab

 Dengan adanya degradasi fungsi penjara semacam itu, tidak ironis kalau Roy Marten, misalnya, mantan napi yg pernah dipenjara 8
bulan karena tertangkap membawa sabu2 di Jakarta, justru semakin akrab
dgn barang haram tsb, bahkan memiliki ikatan emosional dgn bandar
narkoba.

Naifnya, muncul dugaan polisi bhw penjara tdk sekadar berfungsi
sbg lahan transaksi narkoba, tetapi jg penghuni penjara (narapidana)
dpt berperan sbg koordinator peredaran narkoba di luar penjara. Sangat
ironis. Orang yg hidup di ruangan tertutup dan serba terbatas dpt mengkoordinasi
orang yang hidup di alam bebas. Ini jadinya memang sdh aneh.

Tak menutup kemungkinan, realitas yg sgt memalukan ini sebenarnya
telah berlangsung lama dan terjadi di berbagai lapas di Indonesia, namun
hanya sebagian kecil yg terekspos ke publik. Next, pertanyaan skeptis yg
muncul kemudian, di manakah letak eksistensi penjara yg bertujuan mulia utk mengembalikan harkat dan martabat seorang napi agar kelak dpt berkelakuan
baik di masyarakat?

Revitalisasi Peran Lapas

Menurut gw, secara empirik terdapat dua faktor yg menyebabkan leluasanya
aktivitas dan peredaran narkoba di dalam penjara yg selayaknya menjadi
wilayah terlarang. Pertama, faktor internal, yaitu adanya konspirasi atau
kerja sama yg melibatkan orang dalam. Kedua, faktor eksternal, yaitu
adanya tamu atau pengunjung yg membawa narkoba ke penjara utk diberikan
kepada napi. Di sisi lain, kondisi itu diperparah oleh adanya kelonggaran
prosedur dan persyaratan tamu yg membesuk ke lapas. Implikasinya, penjara
tdk menjadi tempat yg terisolasi dari pengaruh di luar penjara.

Atas dasar itu, penting upaya strategis-teknis merevitalisasi kembali
peran lapas agar interaksi sosial di dalamnya tdk menjadi sarang mafia.
Dalam konteks itu, peran serta masyarakat dan media massa sebagai kontrol
sosial terhadap penjara atau lapas sgt diperlukan.

Memang, kita mengakui penjara selayaknya menjadi ruang tertutup bg
para napi. Tetapi selayaknya ttp memberi celah masuk bagi media massa
dan masyarakat agar terwujud koordinasi yang baik antarpenjara dengan pihak kepolisian
dan media massa, serta masyarakat sehingga fungsi kontrol yuridis ttp bs berjalan. Jika
itu terwujud, persekongkolan kolutif antarnapi dan sipir akan mudah dideteksi.

Nah ini, tentunya para petugas lapas yg terlibat dalam traksaksi narkoba hrs
mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya. Mereka tdk hanya dpt diasumsikan
sbg "penghianat" yg ikut berperan serta dlm tindak pidana,
tetapi jg seorang yg tdk amanah terhadap kewajiban. Sebab, persekongkolan
mereka telah meningkatkan mental jahat seorang penjahat.

Selain itu, ringannya hukuman thd para napi yg terlibat dalam
kasus narkoba perlu dikaji ulang. Pelaku penyalahgunaan narkoba hrs mendapatkan
hukuman yg sgt berat agar benar2 jera dan menjadi pelajaran bg
orang lain. Hukuman ringan dpt mendorong para napi utk mengulangi perbuatannya.
Terbukti, mereka msh berani menyimpan sabu2 atau bahkan lbh jauh
mengedarkan di rutan! Secara tidak langsung, hal itu berkaitan dgn ringannya
hukuman yg mereka terima, tidak menjadi efek jera.

Revitalisasi peran penjara adalah agenda yg sangat mendesak bg
pemerintah saat ini. Kultur penyelenggaraan pemasyarakatan adalah problem
pokok yg harus ditindaklanjuti secara serius. Upaya pembentukan kultur
melalui keteladanan dan pendidikan berkelanjutan untuk membentuk petugas
profesional di dalam penjara, adalah keniscayaan yg tak terbantahkan
lagi.

Puisi

Saturday, November 10th, 2007

apa itu puisi?
puisi adalah sebuah ekspresi, ekspresi dan ekspresi lagi.

Alasan Tuhan Menciptakanmu Saat ini

Saturday, November 3rd, 2007

Menjadi (terlihat) muda, wah, ini impian banyak orang. Laris-manisnya vitamin-vitamin yang menjaga kekenyalan kulit adalah salah satu contohnya. Juga beraneka suplement food yang mengandung antioksidan dan dipercaya memperlambat proses penuaan. Tidak ketinggalan bermacam-macam pewarna rambut yang membuat teman lama kita berucap terkejut saat reuni: "Wah, kamu sama-sekali tidak berubah dari zaman SMP dulu, lho!" Itu membuat kita tersipu malu, menjawab dengan hati berbunga-bunga. "Ah, kamu mengada-ada…."

Tapi, menjadi muda juga bukan tanpa masalah. Salah satu iklan yang mengisahkan seorang pemandu wisata yang ditinggal tidur (bahkan sampai mendengkur!) peserta wisata yang semuanya adalah para opa dan oma menjadi contoh menarik tentang masalah klasik yang dihadapi seorang muda: tidak dianggap plus tidak dipercaya. Sebutan "anak kemarin sore" pun menjelaskan pemikiran yang biasanya dimiliki senior tentang juniornya.

Sama sekali tidak mengejutkan, karenanya jika untuk - misalnya! - urusan super-penting seperti pemilihan presiden pada 2009 mendatang calon-calon yang muncul - paling tidak sampai sekarang - adalah mereka yang jelas-jelas tidak termasuk orang muda. Kelihatannya anggapan older means wiser masih berlaku hingga kini.

*

Tapi, apa memang benar bahwa yang lebih tua selalu lebih bijaksana? - Hmm… gw merasa ada sekian banyak kepala menggeleng. Tidak setuju! Buktinya, bukan sekadar satu atau dua kasus tertangkapnya pengguna narkoba yang ternyata adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang sebetulnya diharapkan menjadi teladan bagi orang-orang muda. Dan, dari siapa para muda mendapatkan contoh soal menjadi koruptor yang tega mengambil uang yang bukan hak-nya? - tentu saja dari senior mereka.

Jelas banyak excuse bagi mereka yang seharusnya menjadi para teladan. Salah satunya - yang paling gampang dan paling sering diucapkan - adalah "Yah, kami ini ‘kan manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan." Lalu ada juga alasan-alasan seperti tekanan hidup, atau tekanan pekerjaan, atau lagi tekanan ekonomi, dan berbagai tekanan serta beban lainnya.

Sekalipun tidak bermaksud menghakimi, deretan contoh tentang ketidakmampuan senior menjadi teladan bagi yuniornya seharusnya menyadarkan kita bahwa ternyata older means wiser tidak selalu bisa dibenarkan, apalagi selalu diberlakukan.

*

Gagal menemukan keteladanan di kalangan senior tentu saja tidak membuat kita berputus asa. Ya, sebab kita bisa - dan kelihatannya memang sudah waktunya - berpaling pada para yunior, alias pada orang-orang muda. Tapi, terus-terang, ini bukan perkara yang mudah. Dari kalangan muda sendiri saya melihat sekian kepala menggeleng. Ada rasa sungkan pada wajah mereka: "’Kan yang lebih tua dan lebih pantas daripada kami masih banyak." Demikian wajah-wajah itu berujar. Rupanya budaya kita yang menghargai yang lebih tua masih terasa gaungnya.

Wah, repot juga kalau begini. Yang tua "tidak menganggap" yang muda, sedangkan yang muda sendiri merasa "tidak enak hati" terhadap yang tua. Tapi, syukurlah, kita bukan satu-satunya yang menghadapi situasi seperti ini. Timotius juga mengalaminya. Sebagai orang muda yang dipercaya untuk memimpin suatu jemaat, ia kerap merasa "tidak enak hati" jika harus menegur atau menasihati warga jemaat yang lebih tua (bisa-bisa dianggap kurangajar!). Sebaliknya, para senior dalam jemaat tidak jarang memandang Timotius sebagai "anak kemarin sore" yang belum ada apa-apanya!

Menyikapi situasi seperti ini Rasul Paulus menulis surat kepada Timotius. Katanya jelas dan tegas: "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda." (1 Timotius 4:12) Mengapa sedemikian serius Sang Rasul memandang kemudaan Timotius? Pertama, karena Paulus sangat tahu bahwa banyak kualitas bagus dalam diri Timotius sebagai orang muda. Dan kualitas bagus tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dan (lagi), mengingat Timotius masih muda, kualitas bagus itu masih akan berkembang menjadi lebih bagus dan lebih bagus lagi!

Kedua, karena Paulus tidak ingin Timotius kehilangan kewaspadaan atas kehidupan mudanya. Paulus ingin mengingatkan Timotius untuk sangat berhati-hati dengan hidupnya, sehingga tidak seorang pun mendapat kesempatan untuk menyepelekan, atau merendahkan, atau juga melecehkan Timotius. Baik pikiran, maupun perkataan atau pula tindakan Timotius harus selalu terkontrol dengan baik.

Tentu saja tidak berarti Timotius dilarang berbuat salah. Rasul Paulus tahu pasti betapa Timotius akan berkali-kali melakukan dan membuat kesalahan. Namun, harapan Paulus, kesalahan tersebut bukanlah kesalahan konyol - apalagi tolol - yang sebetulnya bisa dihindari.

**

Selanjutnya, menyadari bahwa para senior dalam jemaat tidak selalu bisa diandalkan untuk menjadi contoh bagi kehidupan berjemaat, Rasul Paulus tidak membiarkan peran para senior tak tergantikan. Itu sebabnya ia meminta Timotius untuk mengambil peran yang seharusnya dilakukan oleh para senior. Lanjut Paulus dalam suratnya: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."

Jelas, Paulus tahu bahwa ini bukan soal mudah untuk Timotius. Tapi, bagi Paulus, kehidupan jemaat jauh lebih penting daripada soal ewuh-pakewuh antara yang tua dan yang muda.

Sebagai tubuh Kristus, demikian keyakinan Paulus, yang tua dan yang muda harus saling melengkapi. Jika yang tua tidak bisa menjadi teladan, maka yang muda harus tampil sebagai teladan. Sebaliknya, jika yang muda menjadi sombong dan arogan, yang tua-lah yang harus menegur serta mengingatkan!

*

Jadi, kembali ke negeri kita sendiri, jika para senior negeri ini tidak mampu menjadi teladan untuk ditiru, sudah waktunya bagi para muda untuk maju sebagai teladan. Dalam hal ini merasa "tidak enak hati" karena kita jujur padahal kalangan tua kita dengan santai korupsi, sama sekali tidak tepat. Demikian pula jika kita sungkan karena tidak menggunakan narkoba padahal senior kita menganggapnya biasa-biasa saja, jelas keliru.

Meyakini bahwa penciptaan dan keberadaan kita bukanlah sebuah kebetulan, tentu ada maksud Tuhan dengan menjadikan kita sebagai orang-orang muda pada masa kini, pada saat negeri kita seperti ini (Tuhan tidak menjadikan kita sebagai orang muda pada masa perjuangan kemerdekaan dulu, misalnya, atau pada masa sekian tahun yang akan datang!).

Jadi, siapa dari kalangan muda yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilihan Umum 2009 yang akan datang?