Alasan Tuhan Menciptakanmu Saat ini

Menjadi (terlihat) muda, wah, ini impian banyak orang. Laris-manisnya vitamin-vitamin yang menjaga kekenyalan kulit adalah salah satu contohnya. Juga beraneka suplement food yang mengandung antioksidan dan dipercaya memperlambat proses penuaan. Tidak ketinggalan bermacam-macam pewarna rambut yang membuat teman lama kita berucap terkejut saat reuni: "Wah, kamu sama-sekali tidak berubah dari zaman SMP dulu, lho!" Itu membuat kita tersipu malu, menjawab dengan hati berbunga-bunga. "Ah, kamu mengada-ada…."

Tapi, menjadi muda juga bukan tanpa masalah. Salah satu iklan yang mengisahkan seorang pemandu wisata yang ditinggal tidur (bahkan sampai mendengkur!) peserta wisata yang semuanya adalah para opa dan oma menjadi contoh menarik tentang masalah klasik yang dihadapi seorang muda: tidak dianggap plus tidak dipercaya. Sebutan "anak kemarin sore" pun menjelaskan pemikiran yang biasanya dimiliki senior tentang juniornya.

Sama sekali tidak mengejutkan, karenanya jika untuk - misalnya! - urusan super-penting seperti pemilihan presiden pada 2009 mendatang calon-calon yang muncul - paling tidak sampai sekarang - adalah mereka yang jelas-jelas tidak termasuk orang muda. Kelihatannya anggapan older means wiser masih berlaku hingga kini.

*

Tapi, apa memang benar bahwa yang lebih tua selalu lebih bijaksana? - Hmm… gw merasa ada sekian banyak kepala menggeleng. Tidak setuju! Buktinya, bukan sekadar satu atau dua kasus tertangkapnya pengguna narkoba yang ternyata adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang sebetulnya diharapkan menjadi teladan bagi orang-orang muda. Dan, dari siapa para muda mendapatkan contoh soal menjadi koruptor yang tega mengambil uang yang bukan hak-nya? - tentu saja dari senior mereka.

Jelas banyak excuse bagi mereka yang seharusnya menjadi para teladan. Salah satunya - yang paling gampang dan paling sering diucapkan - adalah "Yah, kami ini ‘kan manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan." Lalu ada juga alasan-alasan seperti tekanan hidup, atau tekanan pekerjaan, atau lagi tekanan ekonomi, dan berbagai tekanan serta beban lainnya.

Sekalipun tidak bermaksud menghakimi, deretan contoh tentang ketidakmampuan senior menjadi teladan bagi yuniornya seharusnya menyadarkan kita bahwa ternyata older means wiser tidak selalu bisa dibenarkan, apalagi selalu diberlakukan.

*

Gagal menemukan keteladanan di kalangan senior tentu saja tidak membuat kita berputus asa. Ya, sebab kita bisa - dan kelihatannya memang sudah waktunya - berpaling pada para yunior, alias pada orang-orang muda. Tapi, terus-terang, ini bukan perkara yang mudah. Dari kalangan muda sendiri saya melihat sekian kepala menggeleng. Ada rasa sungkan pada wajah mereka: "’Kan yang lebih tua dan lebih pantas daripada kami masih banyak." Demikian wajah-wajah itu berujar. Rupanya budaya kita yang menghargai yang lebih tua masih terasa gaungnya.

Wah, repot juga kalau begini. Yang tua "tidak menganggap" yang muda, sedangkan yang muda sendiri merasa "tidak enak hati" terhadap yang tua. Tapi, syukurlah, kita bukan satu-satunya yang menghadapi situasi seperti ini. Timotius juga mengalaminya. Sebagai orang muda yang dipercaya untuk memimpin suatu jemaat, ia kerap merasa "tidak enak hati" jika harus menegur atau menasihati warga jemaat yang lebih tua (bisa-bisa dianggap kurangajar!). Sebaliknya, para senior dalam jemaat tidak jarang memandang Timotius sebagai "anak kemarin sore" yang belum ada apa-apanya!

Menyikapi situasi seperti ini Rasul Paulus menulis surat kepada Timotius. Katanya jelas dan tegas: "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda." (1 Timotius 4:12) Mengapa sedemikian serius Sang Rasul memandang kemudaan Timotius? Pertama, karena Paulus sangat tahu bahwa banyak kualitas bagus dalam diri Timotius sebagai orang muda. Dan kualitas bagus tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dan (lagi), mengingat Timotius masih muda, kualitas bagus itu masih akan berkembang menjadi lebih bagus dan lebih bagus lagi!

Kedua, karena Paulus tidak ingin Timotius kehilangan kewaspadaan atas kehidupan mudanya. Paulus ingin mengingatkan Timotius untuk sangat berhati-hati dengan hidupnya, sehingga tidak seorang pun mendapat kesempatan untuk menyepelekan, atau merendahkan, atau juga melecehkan Timotius. Baik pikiran, maupun perkataan atau pula tindakan Timotius harus selalu terkontrol dengan baik.

Tentu saja tidak berarti Timotius dilarang berbuat salah. Rasul Paulus tahu pasti betapa Timotius akan berkali-kali melakukan dan membuat kesalahan. Namun, harapan Paulus, kesalahan tersebut bukanlah kesalahan konyol - apalagi tolol - yang sebetulnya bisa dihindari.

**

Selanjutnya, menyadari bahwa para senior dalam jemaat tidak selalu bisa diandalkan untuk menjadi contoh bagi kehidupan berjemaat, Rasul Paulus tidak membiarkan peran para senior tak tergantikan. Itu sebabnya ia meminta Timotius untuk mengambil peran yang seharusnya dilakukan oleh para senior. Lanjut Paulus dalam suratnya: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."

Jelas, Paulus tahu bahwa ini bukan soal mudah untuk Timotius. Tapi, bagi Paulus, kehidupan jemaat jauh lebih penting daripada soal ewuh-pakewuh antara yang tua dan yang muda.

Sebagai tubuh Kristus, demikian keyakinan Paulus, yang tua dan yang muda harus saling melengkapi. Jika yang tua tidak bisa menjadi teladan, maka yang muda harus tampil sebagai teladan. Sebaliknya, jika yang muda menjadi sombong dan arogan, yang tua-lah yang harus menegur serta mengingatkan!

*

Jadi, kembali ke negeri kita sendiri, jika para senior negeri ini tidak mampu menjadi teladan untuk ditiru, sudah waktunya bagi para muda untuk maju sebagai teladan. Dalam hal ini merasa "tidak enak hati" karena kita jujur padahal kalangan tua kita dengan santai korupsi, sama sekali tidak tepat. Demikian pula jika kita sungkan karena tidak menggunakan narkoba padahal senior kita menganggapnya biasa-biasa saja, jelas keliru.

Meyakini bahwa penciptaan dan keberadaan kita bukanlah sebuah kebetulan, tentu ada maksud Tuhan dengan menjadikan kita sebagai orang-orang muda pada masa kini, pada saat negeri kita seperti ini (Tuhan tidak menjadikan kita sebagai orang muda pada masa perjuangan kemerdekaan dulu, misalnya, atau pada masa sekian tahun yang akan datang!).

Jadi, siapa dari kalangan muda yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilihan Umum 2009 yang akan datang?

2 Responses to “Alasan Tuhan Menciptakanmu Saat ini”

  1. - - TASIA - - Says:

    Jangan juga yg tua banged, tapi jangan juga yg muda banged (ntar ngga ada pengalaman nya). Gimana, sepakat nggak Lus?

  2. Tulus Says:

    Yaaa…yang kayak kita-kita gini laah, ya kan Tas? ;)

Leave a Reply