Natal Membawa Damai
Saturday, December 22nd, 2007I always like it. Tiga hari lagi kita akan merayakan Natal. Suasana suka cita sudah
kita rasakan sejak awal Desember atau pada Minggu Advent pertama.
Namun, suka cita itu tampaknya tidak bisa menutupi keprihatinan kita
bila dikaitkan terhadap kondisi bangsa ini. Begitu banyak rumah ibadah dirusak,
menghalangi hak pribadi manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. Selain
itu, bencana alam yang datang bertubi-tubi menghantam negeri kita, juga
menyiratkan betapa tidak bersahabatnya kita dengan alam. Ketamakan dan
keserakahan dalam mengeksploitasi sumber daya alam berubah menjadi
bumerang.
Lihatlah, kemarau panjang membuat berbagai daerah kering kerontang,
tanah tidak menghasilkan bahan pangan sesuai harapan, bahkan air untuk
kebutuhan sehari-hari juga sulit didapat. Namun, saat hujan datang, air
melimpah dan banjir pun menyusup ke permukiman. Tidak pandang bulu. Orang kaya dan miskin, yang tinggal di gubuk maupun rumah mewah,
terkena imbas.
Yang memprihatinkan, peringatan alam tersebut seolah angin lalu. Ironi memang. Tidak
mengubah sikap manusia untuk menghargai karya Sang Pencipta.
Eksploitasi terhadap hutan masih saja berlanjut. Pembalakan liar masih
saja terjadi dan seolah hukum tidak berdaya menghadapinya. Sangat disayangkan,
sikap serakah mencari harta tanpa mempertimbangkan aspek jangka panjang
masih saja banyak pendukungnya.
Sikap serakah itu pula yang menghantarkan manusia-manusia berlaku
korup, menjadi benalu bagi manusia lain. Jatah si miskin ditilep.
Kemiskinan sepertinya dipertahankan karena menjadi sumber proyek untuk
mencari duit. Sungguh memprihatinkan bahwa masih ada orang yang
memanfaatkan jabatan untuk kepentingan sendiri. Demikian pula mereka
yang mewakili rakyat dan sekarang bisa duduk enak dengan uang
berlimpah, sudah tidak ingat kepada rakyat yang mendukungnya. Seolah
negeri ini milik mereka sendiri.
Tidak mengherankan bila dalam suasana yang demikian muncul rasa
ketidakadilan di tengah masyarakat. Mereka yang berlaku curang bersikap
bak pahlawan, mereka yang seharusnya dihukum bisa bebas berkeliaran,
sementara mereka yang jujur jadi bulan-bulanan. Juga tidak mengherankan bila mata
rakyat terbelalak saat menyaksikan di media massa daftar orang-orang
terkaya dan jumlah kekayaan mereka yang sampai puluhan triliun rupiah.
Sedangkan banyak rakyat yang masih hidup menderita karena tempat
tinggal berubah menjadi lumpur.
But praise to The Lord. Dalam kondisi seperti itu, kita masih melihat ada pengharapan. Karena
faktanya masih banyak (baca; ada saja) para pejabat dan rakyat Indonesia yang terus berjuang
untuk membangun bangsa ini agar menjadi besar. Mereka inilah yang perlu
mendapat dukungan agar mampu menjalankan tugas dengan baik demi
kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Butuh keberanian untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran. Dan, untuk itu mereka juga butuh
pertolongan Tuhan agar memiliki kekuatan dalam bertindak.
Pesan Natal bersama 2007 yang dikeluarkan Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bisa menjadi
pijakan bagi kita dalam merayakan Natal tahun ini. Tema yang diangkat
dalam pesan Natal itu adalah, "Hiduplah dengan bijaksana, adil, dan
beribadah" . Kita berharap mampu menjalankan kehidupan ini seperti tema
tersebut, yaitu hidup bijaksana, adil, dan tidak meninggalkan Tuhan.
Kiranya suka cita Natal terpancar dalam kehidupan setiap umat Kristen
sehingga Natal benar-benar membawa damai bagi semua orang. Yesus
Kristus telah lahir di dunia, dia berkorban menjadi penebus dosa
manusia. Well , jadi, jangan sia-siakan anugerah kasih Allah itu.
Selamat Natal.