Archive for March, 2008

“PS I Love You

Sunday, March 23rd, 2008

** missed drop char ** ** missed drop char ** Cinta. Semua orang menginginkannya. Rasa dicintai adalah sesuatu yang paling menakjubkan yang dapat kita alami. Cinta itu "sejuta rasanya" kata sebuah lagu. Namun bukan sekedar cinta, tetapi harus cinta yang murni, yang tidak bersyarat. Adakah cinta kasih yang seperti itu ?

Belum lama ini saya menonton sebuah film berjudul PS I Love You. Tadinya saya berpikir, ah ini pastilah satu film yang liner, ketemuan, naksir, jadian, cekcok, selingkuh, akur lagi lalu hidup bahagia selanjutnya, seperti film-film Hollywood atau film nasional yang sedang marak sekarang ini. Namun ternyata bukan.

Ada twist tersendiri yang membuat film ini unik dan menarik. Si wanita yang diperankan oleh Hillary Sank dikisahkan ditinggal oleh kekasihnya (Gerald Butler) yang meninggal karena kanker otak. Cerita ini menjadi unik, karena sang janda kemudian mendapat surat-surat dari sang kekasih pada saat-saat penting dalam kehidupannya. Rupanya sebelum meninggal suaminya telah mempersiapkan kejutan-kejutan ini, datang sekaligus memberi isi dan kekuatan pada wanita itu.

Pada Paskah seperti sekarang ini, saya jadi sadar bahwa kita pun telah ditinggal secara fisik oleh Yesus 2000 tahun yang lalu. Tetapi hingga saat ini "surat-surat cinta" dari Tuhan selalu datang kepada kita. Setiap hari dalam firmanNya, yang memberi kekuatan, petunjuk dan menghibur kita. Tuhan mengasihi kita sebagaimana adanya keseharian kita, bukan karena kebaikan atau kesucian kita. Firman Tuhan dalam Alkitab berisikan cinta kasihNya yang murni. Pernahkah anda berpikir apakah orang lain mencintai anda sebagaimana adanya anda. Mengapa cinta murni itu semakin sulit ditemui sekarang ini?

Mungkin karena kita mencarinya di tempat yang keliru. Mungkin saja kita mencari cinta didalam keluarga sendiri. Anda sudah berusaha sepanjang hidup menyenangkan dan membuat mereka bahagia. Namun itu tidak pernah cukup. Mungkin juga kita mencari cinta dalam suatu hubungan fisik. Kalau anda wanita, mungkin berpikir : "Jika saya menyerahkan tubuh saya, saya akan merasa dicintai." Namun itupun tidak berhasil anda peroleh.

Ada suatu ilustrasi berupa pengalaman seorang perawat, yang saya sarikan dari email beberapa waktu lalu. Perawat itu bertutur, suatu pagi sekitar jam 8:30, seorang bapak yang sudah berusia sekitar 80-an datang untuk mencabut jahitan di jempolnya. Dia katakan dia buru-buru karena ada janji pukul 09.00. Saya (perawat itu) segera melayaninya dan memintanya duduk, karena sekitar satu jam lagi baru ada petugas yang dapat menanganinya. Pria itu sebentar-sebentar melihat pada arlojinya, sehingga saya memutuskan untuk menangani kasusnya karena kebetulan saya tidak menghadapi pasien. Saya lihat lukanya sudah menyembuh, jadi saya segera melepaskan benang jahitannya dan membalutnya kembali. Sambil bekerja, saya bertanya apakah dia ada janji dengan dokter ditempat lain, karena kelihatannya dia tergesa-gesa. Dia jawab tidak ada, tetapi dia harus buru-buru ke panti perawatan lansia supaya dapat makan pagi dengan istrinya. Lalu saya menanyakan perkembangan kesehatan istrinya. Dia jawab bahwa istrinya telah dirawat di sana karena menderita Alzheimer. Saya tanyakan, apakah istrinya akan kuatir bila dia sedikit terlambat. Dia jawab, bahwa istrinya sudah tidak mengenali dia lagi, sejak lima tahun terakhir ini. Saya kaget, lalu bertanya , "Lho, anda tetap mengunjunginya setiap pagi, meskipun dia tidak mengenali anda?" Pria tua itu tersenyum lalu menepuk tangan saya sambil berkata, "Memang dia tidak mengenali saya, tetapi saya masih tahu dia siapa. Saya menahan air mata haru ketika pria itu berlalu. Lengan saya merinding sambil merenung, "Inilah bentuk cinta yang saya inginkan hadir dalam hidup saya."

Cinta Murni

Saudara, cinta murni tidak harus selalu lahiriah, atau romantis. Cinta murni adalah menerima apa adanya hari ini, atau hari-hari sebelumnya, dan juga menerima apa yang akan terjadi atau tidak akan terjadi esok. Kedamaian adalah saat kita menatap surya di senja hari dan tahu untuk berterimakasih kepada siapa. Orang yang paling bahagia tidak mesti seseorang yang memiliki yang terbaik, melainkan mereka yang menikmati apa yang dia miliki. Rahasia meniti kehidupan ini bukanlah bagaimana agar selamat dari badai topan, akan tetapi bagaimana kita dapat menari dibawah derai hujan.

Ada juga orang yang mencoba mencari cinta dalam popularitas. "Kalau orang mengenalku, aku akan dicintai dan diterima." Ternyata kebanyakan selebritis tidak menemukan cinta itu, bahkan betapa terkenalnyapun anda, anda masih merasa kesepian. Lalu, kemana kita mencari cinta yang benar murni, tak pamrih. Hanya ada satu tempat dimana cinta tidak pernah mengecewakan. Kasih murni hanya ditemukan pada Tuhan Allah. Allah adalah cinta. Tetapi bagaimana kita mengetahui apa Allah mencintai kita ? Dengan mengenal Yesus Kristus, kita akan melihat wujud cinta yang paling suci. Yesus berkata dalam Yohanes 3 : 16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Visualisasinya adalah di dalam gambar Yesus yang tergantung di kayu salib. Itulah post -scriptum (PS) terbesar yang diberikan pada kita . Allah menunjukkan cintaNya didalam sosok dan kehidupan Kristus. Dan Yesus menunjukkan bahwa cinta itu tidak diukur hanya dengan perasaan, melainkan dengan pengorbanan. Andaikan seseorang bertanya kepada Yesus "Sebesar apakah cintaMu kepadaku?" Dia merentangkan kedua tanganNya yang terpaku di kayu salib itu dan berkata, "Sebesar ini." Anda dan saya dapat menikmati cinta kasihNya. Selamat Paskah.

Setelah Calon Gubernur BI Ditolak DPR

Saturday, March 15th, 2008

Dua
calon Gubernur Bank Indonesia yang diajukan pemerintah yakni Agus
Martowardojo dan Raden Pardede ditolak Komisi XI DPR RI. Alasan
penolakan, karena keduanya dinilai belum mumpuni untuk mengendalikan
Bank Sentral. Dengan penolakan ini, maka Presiden diminta untuk
mengajukan lagi nama lain dalam waktu tidak terlalu lama. BYSementara itu
belum ada tanggapan dari Presiden SBY karena masih di luar negeri. Tetapi, Wapres Jusuf Kalla
mengisyaratkan pemerintah menghormati keputusan DPR. Dan, dalam
beberapa pekan ke depan pemerintah akan segera  mengajukan kembali nama
lain.

Drama penolakan ini bisa ditafsirkan macam2 yang bukan semata-mata
karena kekurangan kapasitas profesional,  kompetensi dan integritas
dari kedua calon. Jika alasan DPR keduanya dianggap kurang mampu,
banyak hal yang harus dipertanyakan kemudian. Apakah mereka anggota
Dewan itu juga mempunyai kemampuan untuk menilai mampu dan tidaknya
masing-masing calon ? Karena yang kita tahu, kualitas anggota DPR toh
cuma gitu-gitu aja. Sebagian besar dari Komisi XI bahkan
diragukan, apa mereka mengerti benar tentang persoalan-persoalan
ekonomi moneter dan perbankan, ekonomi makro, bekerjanya perekonomian
moneter internasional dan sejenisnya.

Dalam proses uji kelayakan dan kepatutan tersebut konon sempat juga beredar
isu mengenai suap sebesar Rp 100 miliar ke anggota DPR. Namanya
juga isu, susah diungkap kebenarannya. Tetapi, tidak ada asap
kalau tidak ada api. Maka, masyarakat bisa menafsirkan sendiri apa yang
sebenarnya terjadi. Tidak terlalu sulit kelihatannya. Tentu saja mereka
membantah. Sekadar membantah saja tentu tidaklah cukup, maka
jangan-jangan mereka menolak kedua calon hanya untuk memberi bukti
bahwa DPR benar-benar bersih, logis saja kan? Nah, jika ini yang terjadi sungguh sangat
kasihan kandidat itu, karena mereka ditolak bukan karena persoalan
profesionalitas, kompetensi dan integritas.
Latar belakang penolakan yang lebih bisa diterima akal sehat barangkali
adalah persoalan politik, yakni kurang harmonisnya hubungan antara
pemerintah dengan DPR. Masyarakat amat tahu bagaimana sebenarnya relasi
antara eksekutif dan legislatif tidaklah hangat. Presiden sendiri
tampaknya mengabaikan komunikasi politik dengan DPR dalam hal ini.
Ada baiknya, nama-nama kandidat Gubernur BI sudah di-share-kan lewat
komunikasi politik, sehingga tinggallah proses formal uji kelayakan dan
kepatutan berlangsung. Proses seperti ini menguntungkan banyak pihak,
dan baik Presiden atau pun DPR tidak berada pada posisi saling
berhadapan yang berakhir kalah-menang.

Jika keadaan seperti kemarin berlangsung, terlihat bahwa DPR asal
tolak, Presiden pada posisi “kalah” dan kandidat merasa dipermainkan.
Lebih jauh dari itu, korban sesungguhnya adalah Bank Indonesia sebagai
lembaga. Lembaga itu dipermainkan secara politik oleh aktor-aktor yang
sebenarnya tidak terlalu tahu mengenai Bank Sentral.

Gw pikir benar saja seperti yang
dikemukakan Dradjad Wibowo bahwa terlalu mahal jika Bank Indonesia
harus dibawa ke ranah politik yang terlalu jauh. Karena lebih kuat
bobot politiknya, maka para kandidat yang tidak memiliki akses cukup
secara politik, atau tidak didukung partai-partai politik yang memiliki
suara signifikan akan sangat berat masuk wilayah ini.

Di tengah keadaan seperti itu, harus ada terobosan atau jalan keluar
yang baik agar pemilihan Gubernur Bank Indonesia tidak terlalu memiliki
bobot politik yang tinggi. Sepenuhnya disandarkan pada tantangan yang
memang harus dijawab oleh peran bank tersebut. Keadaan ekonomi
moneternya bagaimana dan  membutuhkan gubernur yang seperti apa ? Rumusannya kan ada. Jadi,
para kandidat itu benar-benar diuji dengan parameter yang jelas
menyangkut kapasitas profesional, kompetensi, dan integritas. Dengan
parameter yang pasti, maka tidak dipersoalkan lagi apakah dia berasal
dari internal atau eksternal Bank Indonesia. Tetapi, masih ada waktu
dan kita tunggu apa yang akan terjadi kemudian.