Konflik Internal PKB


Gonjang-ganjing politik kembali melanda Partai Kebangkitan Bangsa
(PKB). Konflik internal yang terus menghantui partai asuhan KH
Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini mencapai puncaknya dengan pemecatan
Muhaimin Iskandar dari jabatan Ketua Umum Dewan Tanfidziyah. Langkah pemecatan ini seolah menjawab rumor selama ini
soal adanya dualisme kepemimpinan di tubuh PKB, antara Ketua Umum
Muhaimin Iskandar dengan Sekjen Zannuba Arifah Chafsoh alias Yenny
Wahid, putri sulung Gus Dur.


Terlepas apa pun alasannya, pemecatan ini jelaslah sangat disayangkan oleh
banyak kalangan, terutama para tokoh dan mantan tokoh , serta para kader plus simpatisan PKB yang tersebar
di mana-mana. Khawatirnya kondisi ini akan memperluas konflik
internal partai, yang ujung-ujungnya menguras perolehan suara pada
Pemilu 2009.


Bila dicermati, partai yang basis utama konstituennya dari warga
Nahdlatul Ulama (NU) ini memang tak pernah lekang dihajar konflik
internal sejak didirikan seusai reformasi 1998 lalu, yang berbuntut
pada hengkangnya sejumlah kader potensial. Mulai dari Matori Abdul
Djalil, Alwi Shihab, Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, Choirul
Anam, Mohammad AS Hikam, Lukman Edy, hingga kini Muhaimin Iskandar yang
sedang dalam proses pelengseran.


Sebenarnya sih konflik internal itu ialah hal yang lumrah sifatnya pada kehidupan semua
partai politik (parpol) di Tanah Air. Masalah ini sudah menjadi isu
laten di hampir semua parpol, baik parpol besar maupun kecil. Terlalu
banyak contoh yang bisa disebutkan. Ungkapan bahwa tak ada kawan abadi
dalam politik, memang benar adanya.


Dunia politik telah memperlihatkan kepada kita betapa tipisnya batas
antara kawan dan lawan. Semua persekutuan yang terjadi sesungguhnya
hanya berbasis pada kepentingan. Di saat kepentingan kita sama kita
berteman, bersekutu. Tapi, ketika kepentingan itu berbeda, maka kita
menjadi lawan. Inilah yang terjadi di PKB hari-hari ini.


Kondisi ini juga semakin memperlihatkan kepada kita bahwa pada dasarnya
parpol hadir hanya untuk memenuhi hasrat dan kepentingan para elitenya
semata. Eksistensi konstituen sangat jarang menjadi pertimbangan
manakala kepentingan elite terganggu. Mereka lebih memilih saling
"bunuh" tanpa perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap konstituen.


Pemecatan Muhaimin memang urusan internal PKB. Namun melihat keberadaan
PKB sebagai salah satu aset politik bangsa yang pluralistik ini, sangatlah
disayangkan jika konflik itu dibiarkan berlarut-larut. Kita tentu sangat
berharap agar semua pihak yang terlibat dalam konflik internal ini bisa
menunjukkan kearifan, sehingga rakyat bisa disuguhi tontonan demokrasi
yang mendidik dan inspirasional.


Dalam situasi seperti ini, menarik kiranya bila saya mengutip salah satu kalimat Muhaimin Iskandar dalam bukunya yang pernah saya baca;  Gus Dur, Islam dan Kebangkitan Indonesia
yang diterbitkan Agustus 2007. "Sejak berdiri sampai saat ini, PKB
merupakan parpol yang paling dinamis. Konflik-konflik internal,
dualisme kepengurusan dan berbagai bentuk intervensi dari luar mewarnai
perjalanan PKB secara nyata. Namun berbagai persoalan itu bisa diatasi
dengan baik sehingga dinamisasi kehidupan partai menjadi bagian dari
perjalanan PKB. Pada saat yang sama, kematangan serta kebijaksanaan
politik para pengurus dan kader PKB semakin terasah dan terkonsolidasi
dengan baik. Dengan fakta itu, para pemimpin dan kader PKB selalu
memiliki kepercayaan diri yang tinggi dan optimisme kuat untuk bisa
membuat PKB sebagai partai besar dan berpengaruh di masa depan".


Kini, Muhaimin sendiri yang dihadapkan pada ujian, apakah pemecatan
dirinya hanyalah bagian dari dinamika yang menguatkan partai atau
justru menggerus kebesaran PKB. Kita akan melihat kebenarannya.

3 Responses to “Konflik Internal PKB”

  1. Utewmermome Says:

    I just want to take some money! :)
    Press here

  2. Zinna Says:

    Interesting to know.

  3. TRUI Says:

    nice article, please, check ours, thank you.
    relawanuntukindonesia.co.cc
    -TRUI

Leave a Reply