TANGGAl 27 Mei 2008, my lovely bos - si Pippo (Philip) mewakili kantor mengikuti Indonesia Regional Investment Forum (IRIF) di Denpasar: sebuah kemitraan dan kerja sama untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan keuntungan berinvestasi. Alkisah, acara bertema Real Projects for Real Investors itu bertujuan meningkatkan pembangunan sosial dan ekonomi daerah, melalui peningkatan penanaman modal langsung, sehingga dapat membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Seperti biasa, tiap kali travelling, Pippo tidak pernah lupa bawa oleh2 sesuai list pesanan gw
Nggak cuma gw sih, tapi beberapa temen lain juga kebagian. Thanks a lot yah
But, bukan itu yang mau gw tulis disini. Salah satu oleh2 yang dikasih buat gw adalah VCD rangkaian acara nya yang berisi simposium2, panel diskusi, dan beberapa pleno. Awalnya si gw enggan, gak tertarik sama sekali menikmati isinya… gw mikir "paling juga benang kusut nya kapitalis dan memelas-melasanya para petinggi negara yg dikemas secara jumawa" Tapi Pippo meyakinkan gw untuk nonton dulu secara katanya isinya bagus (gw paham itu daripada elu capek jelasin…dan menjawab pertanyaan2 sok kritis gw kan, Pak?). Singkat cerita malamnya gw tonton deh tu VCD.. dan… thanks (again) Pip, I have a new knowledge from u!
Sejatinya acara itu digelar oleh Dewan Perwakilan Daerah (DPD), didukung Indonesia Marketing Association (IMA). Tampil sebagai pembicara, Kenichi Ohmae dan Thaksin Shinawatra. Mereka berdua top. Kenichi adalah pakar manajemen strategi dari Jepang, penulis The End of Nation State: The Rise of Regional Economies (bukunya belum gw baca pdhl udh mau dipinjemin).Sedangkan Thaksin adalah mantan Perdana Menteri Thailand, yang kini menjadi pemilik klub sepak bola Manchester City.
***
KETIKA berbicara mengenai ”apa yang harus dilakukan Indonesia sekarang ini”, Kenichi mengungkapkan kata kunci: stop complain! (berhentilah mengeluh!). Gw terperangah, dia memberi ilustrasi masyarakat Brazil, Rusia, India, dan China (ia singkat menjadi BRIC) yang sekarang menanjak maju, dulu juga mudah mengeluh terhadap kondisi bangsanya, baik soal konflik etnik, konflik agama, kondisi alam, korupsi, dan sebagainya.
Mereka lalu sadar, mengeluh tidak pernah menyelesaikan masalah, sehingga mulailah mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan bangsanya. ”Indonesia harus belajar dari mereka. BRIC harus berubah menjadi BRIIC,” kata penggagas dunia tanpa batas (the borderless world) itu. Yang dimaksud BRIIC adalah Brazil, Rusia, India, Indonesia, dan China.
Menurut Kenichi, masih ada peluang bagi Indonesia untuk berbenah diri, maju, dan mengejar ketertinggalan dari bangsa2 lain. Salah satu saran yang ia kemukakan adalah regionalisasi. Pembangunan ekonomi harus dilandaskan pada pengembangan regional, karena batas-batas administratif kedaerahan maupun negara makin luntur.
Cara itu sdh berhasil dilakukan Uni Eropa, yg disebutnya sbg kekuatan ekonomi nomor 1 di dunia, menyusul kemudian Amerika Serikat, China, India, dan Jepang. Nama2 itu bukan sekadar dalam arti negara-bangsa (nation-state), melainkan lebih pada tempat (place).
Pesan Kenichi Ohmae adalah: berhentilah mengeluh, mulailah bekerja berlandaskan prinsip belajar dari kehidupan dan lingkungan. Bahwa ada pasang-surut dan pengorbanan adalah hal biasa, karena tanpa pengorbanan tidak akan ada keberhasilan. ”No pain, no gain!” katanya.
***
THAKSIN Shinawatra tidak kalah menarik. Dia cerita tentang keberhasilannya membangun masyarakat Thailand ketika menjadi perdana menteri. Meski tidak secara eksplisit mengatakan stop complain seperti Kenichi, tapi pd dasarnya ia jg berpesan bahwa bangsa yg ingin maju harus berani bekerja keras dan tidak mudah mengeluh.
Resep yg digunakan Thaksin ialah membangun perekonomian pedesaan. Menurut nya, salah satu penyebab krisis moneter 1997 adalah perekonomian yg terpusat di perkotaan. Karena itu, ia menerapkan kebijakan dual track dgn menyeimbangkan pembangunan ekonomi pedesaan dan ekonomi perkotaan. SDM dan SDA di pedesaan harus dikelola dgn baik. Keuangan mikro harus dikembangkan utk perekonomian pedesaan, dana harus langsung sampai ke pelosok2 desa.
”Kita harus memberdayaan masyarakat miskin. Kadang mereka nampak seperti orang2 bodoh atau malas, padahal itu disebabkan kurangnya pengalaman, pendidikan, akses keuangan, dan sebagainya. Mereka harus diberdayakan,” katanya.
***
KONKLUSI
ITULAH pelajaran berharga yg bs gw petik dari Kenichi Ohmae dan Thaksin Shinawatra: stop complain! Pelajaran itu lebih menjadi sgt berharga pd saat masyarakat Indonesia sdg menghadapi tantangan hidup yg makin berat. Ketika harga BBM naik, dan belum ada jaminan tidak naik lagi, sehingga harga2 kebutuhan yg lain pun ikut naik.
Ketika masyarakat dilanda ancaman perpecahan dgn terjadinya tindakan2 kekerasan seperti serangan FPI terhadap AKKBB di Monas (1 Juni), aksi penyerbuan polisi di kampus Universitas Nasional Jakarta, serta aksi2 anarkis lainnya.
Premisnya, gw pun jadi berfikir, musuh terberat bangsa ini mungkin sebenarnya bukan dtg dari luar, melainkan dari dalam sendiri. Mental kita bukan mental baja spt yg dimiliki para founding fathers dan pejuang zaman dulu. Jadi, harap maklum kalau ada pengamat menilai kita sbg bangsa yg suka mengeluh dan mudah menyerah. Bahkan, cerita Pippo, konon seorang sopir taksi di Singapura pernah mengejek nya dgn mengatakan, ”mental orang Indonesia mudah diatur, mudah dipengaruhi, dan didikte”. (beneran gak sih yg ini Pip? Kok lancang ya…plg jg lu yg mancing2!)
Ironisnya, program2 pemerintah dlm menangani keluhan rakyat kurang mengarah pd pemberdayaan masyarakat. Contohnya, kenaikan harga BBM ”ditebus” dengan pemberian BLT dan bantuan khusus mahasiswa (BKM). Bukankah bantuan2 spt itu justru ”meninabobokkan” masyarakat untuk terus-menerus mengeluh?