Selamat Datang Masa Kampanye

Sekalipun datanya msh trs diperdebatkan, namun bukan hal sulit
bg kita utk menyimak btp di negeri yg berlimpah sumber daya
ini berlimpah pula wajah miskin. Hebatnya, wajah2 ini bagaikan
berlomba menyampaikan kisah plg pilu: baik ttg sepasang orangtua
yg menggadaikan rumah sederhana mereka - plus satu-satunya sarana mencari nafkah yg  mereka punya: becak - demi biaya sekolah anak.


Atau ttg seorang calon ayah yg babak-belur di- pukuli massa
krn tertangkap tangan mencuri sebuah ponsel dlm upaya
mengumpulkan biaya utk istrinya yg akan segera melahirkan anak
pertama mereka. Atau jg seorang remaja putri yg tdk bs membantah saat dijual oleh orangtuanya mjd PSK (pekerja seks
komersial) belia karena utang orangtua yg semakin menumpuk dan tak
terbayar. Atau lg, seorang ibu yg hny bs menangis pasrah
menyaksikan anak tercinta sakit keras krn ia tdk mampu membawa
sang anak berobat hga sembuh. Dan dijamin, masih bny lg kisah
memedihkan hati spt di atas, kan?


Ironisnya, ktka aneka stasiun tv serta berbagai koran
dgn lancar menuturkan kisah2 menyayat hati ttg
saudara/i sebangsa yg membutuhkan bantuan, dgn fasih pula
mereka memberitakan saudara/i sebangsa lain yg tanpa sungkan
dan malu menyalahgunakan wewenang demi memperkaya diri. Betapa sgt
sakit terasa di hati ini, dan betapa super-dongkolnya kita menyaksikan
situasi kontras yg luar biasa keterlaluannya itu!


Tentu sj pd pihak lain, sebetulnya, bukannya tdk prnh ada upaya utk
meringankan beban sesama warga yg membutuhkan bantuan. Aneka hari
raya keagamaan biasanya mjd saat2 favorit utk menyatakan
kepedulian n keprihatinan. Juga hari ultah para selebriti. Dan,
setali tiga uang adlh hari jadi partai-partai politik di negeri ini
(jika 34 partai, blm lagi para calon independen, dan calon kepala daerah, bs
dibayangkan btp besar peluang dan kesempatan yg sbtlnya kt
miliki utk mengulaskan senyum pd wajah2 miskin di negeri ini).
But
, betapapun demikian, pergumulan kita dgn kemiskinan tampaknya msh
jauh dr usai.


Syukurlah aja sih, masa kampanye yg panjang akhirnya tiba jg. Bagi parpol, masa kampanye yg panjang ini tentunya menguntungkan. Sebab
baik partai-partai baru maupun lama, tdk 1 pun yg tdk
membutuhkan kesempatan berkampanye. Partai-partai baru jls
membutuhkan kampanye sbg sarana memperkenalkan plus

menggiatkan promosi diri dgn sebaik-baiknya.  Tapi, jangan keliru,
partai-partai lama jg tdk kalah memerlukan kampanye. Dgn semakin
meratanya tersangka koruptor dr bbg partai politik lama dan
ternama, mereka berkepentingan utk membersihkan diri dan menyatakan
diri layak dipilih melalui kampanye.


Salah satu bentuk kampanye yg- jika kita mencermati pendapat pr
pemerhati serta pengamat kampanye- paling tepat guna adlh dgn
menggalakkan pemberian bantuan kpd para miskin. Alasan pertama,
tentu sj, krna jmlh mrk mmg bny, shg keberhasilan
memenangkan hati saudara-saudari ini bs dikatakan berbanding lurus
dgn keberhasilan mendapatkan suara mrk dlm pemilu thn
mendatang. Sedang alasan kedua, jelas, krn mrk betul2 memerlukan bantuan itu!


Tentu lah, ttp perlu diwaspadai mekanisme pemberian bantuan atau
pelaksanaan bakti sosial, shg kt tidak perlu menyaksikan lg
kerumunan orang- sebagian bsr biasanya adlh pr ibu n lanjut
usia- yg slg mendorong demi mendapatkan satu paket sembako (walau,
tidak selalu jumlahnya sembilan lho!)
gratis. Jgn sampai sembako gratis tdk dpt mrk jstru
mengalami patah tangan atau kaki yg mengakibatkan mrka tdk bs
bekerja slm bbrp waktu!


*


Sebaliknya, kampanye dgn cara berkeliling kota menggunakan aneka
kendaraan ber- motor akn mjd bentuk kampanye yg tdk peka
situasi. Sebab, daripada membuang-buang BBM utk sekadar menambah
parah kemacetan jalan raya, bukankah lbh bijaksana jk BBM yang
mkn lama semakin mahal ini dipakai utk keperluan berangkat dan
pulang kerja, misalnya? Atau jg mengangkut tahu tempe dan sayuran ke
pasar2, sbg contoh lain, shg ongkos angkut tdk semakin
memberatkan pr pedagang.


Demikian pula kampanye dlm bentuk seminar atau debat yg-
kemungkinan besar- memanfaatkan berlimpah daya listrik (utk
penerangan n AC, misalnya). Sebab, bny puskesmas dan rumah sakit
yg lbh membutuhkan sumber daya yg satu ini demi menyelamatkan
nyawa saudara/i sebangsa yg berjuang utk hidup. Belum lagi,
jk kt mau serta berani jujur, seminar dan debat kerap hny berupa
slogan dan janji yg sgr terlupakan bgt masa kampanye usai.


*


Pada pihak lain, syukurlah, warga miskin yg sering mjd sasaran
dan target kampanye tdk kalah cerdik dr pr politisi. Strategi
"pakai kaosnya, ambil sembakonya, makan nasi bungkusnya, simpan
uangnya, tp belum tentu nyoblosnya" mjd pernyataan sikap mrk
ats kerap dimanfaatkannya kemiskinan mrk demi kemenangan
partai2 politik.


Merespons kebijaksanaan jelata spt ini, tampaknya sdh waktunya
bg ke-34 parpol yg akn bertarung thn dpn utk
memperhatikan perkataan Tuhan Yesus sbg model kampanye. Kata-Nya, "… hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."
(Matius 10:16) Kecerdikan bs bermanfaat utk menemukan metode
kampanye yg unik dan menarik. Sedangkan, ketulusan diperlukan sbg
isi kampanye. Mumpung masa kampanye baru dimulai nih! Ya kan?


Selamat menikmati masa kampanye yg panjang. ;-)

3 Responses to “Selamat Datang Masa Kampanye”

  1. Allison Sellers Says:

    I just wanted to say I like your blog, I think it looks great.

  2. Tim Says:

    Good information on your site. I am trying to build a good blog and would love any ideas you have to improve my site.

  3. aliciass Says:

    Perfect!Amazing!Super!Thank you very much
    :)

Leave a Reply