Soeharto dan Kaum Muda

January 17th, 2008 by setulushati

Seneng akhirnya sempat nulis lagi. Emmh, tahun 2008 diawali dengan keresahan akibat banjir dan bencana alam. Dan kita malah mempersalahkan demokrasi. Tentu lebih banyak orang yang sibuk bertahan hidup dalam keadaan sulit ini dengan mencari makan seadanya, demi sesuap nasi, sehelai pakaian, dan tenda tempat berteduh. Hanya saja kesibukan mayoritas penduduk itu menjadi kehilangan arti, ketika tanda waktu pemilihan umum 2009 telah dihitung mundur. Kompetisi politik berlangsung dalam situasi bencana.

Hehehe prolog tulisan yang aneh ya? Namun itulah… saya terispirasi menulis ini waktu melihat kenyataan bahwa teriakan kaum muda ternyata terus bertahan. Adian Napitupulu, dedengkot yang disegani dalam aksi mahasiswa 1998, tergeletak lemah dalam keadaan lapar. Adian mogok makan dengan tuntutan penuntasan reformasi. Kawan dan lawan Adian yang lain sudah banyak yang bergabung dengan rezim hari ini, sekalipun juga sebagian masih bertahan di luar lingkaran kekuasaan.

Terlihat gema dari tuntutan segelintir kaum muda itu hanya menampar angin. Semakin banyak kalangan tua yang bolak-balik ke Rumah Sakit Umum Pusat Pertamina untuk menjenguk Soeharto. Orkestrasi politik untuk pemutihan proses peradilan Soeharto kembali berbunyi nyaring. Rotasi klasik karena setiap mantan penguasa ini diberitakan sakit hal itu pasti kembali berdengung. Ada yang meminta maaf, pengampunan, sampai peluang-peluang lain yang disediakan oleh dunia politik, perundang-undangan dan hukum. Padahal, dengan permintaan maaf dan pengampunan itu berarti Soeharto sudah dinyatakan bersalah. Kalau Soeharto diampuni atau dimaafkan, tanpa diketahui kesalahannya, sama saja dengan membicarakan soal-soal kosong melompong.

Tanpa harus terseret dengan masalah-masalah perseorangan kaum muda harus bisa mencarikan jalan bagi diri sendiri. Kalau diperhatikan situs www.soehartocenter.com, terlihat sekali ‘Indonesia yang tua’ terhampar di depan mata. Kita seolah melihat Indonesia lama dan purba dalam foto-foto yang ditaruh, juga dari kalimat-kalimat yang disusun. Sejumlah cerita dalam "Mati Ketawa Cara Daripada Soeharto" di internet juga menyimpan kekonyolan yang bisa disebut lucu pada zaman ini, tetapi sesungguhnya serius dan menakutkan pada masa lalu! Tidak terlihat adanya semangat muda dalam zaman "purba" Soeharto itu.

Saya pada akhirnya sadar bahwa sudah banyak yang berubah selama sepuluh tahun terakhir ini. Perubahan yang dicoba untuk dikendalikan, tetapi terus sulit diikuti satu demi satu. Kehidupan politik tidak lagi seragam. Pidato-pidato membosankan jarang dijadikan rujukan. Beragam upacara kebesaran kehilangan nyawa. Sulit melihat ada duplikasi yang persis sama antara masa kini dengan zaman Soeharto itu. Kalaupun ada yang sama barangkali dari aspek kebulatan tekad para tokoh lama yang tidak jauh dari lingkaran kekuasaan Soeharto di masa lalu itu.

Kalaupun ada korupsi di zaman ini saya tidak terlalu yakin jumlahnya jauh lebih banyak daripada yang dipraktekkan di masa lalu itu. Dulu uang negara hilang tanpa ketahuan, sekarang ketahuan, tapi sulit dibuktikan. Sudah banyak pejabat yang masuk penjara karena korupsi, sesuatu yang sulit ditemukan di masa lalu. Zaman Soeharto tidak hanya memperlihatkan satu Soeharto, tetapi juga Soeharto-Soeharto lain yang menjadi pejabat, mulai dari menteri, gubernur, bupati, sampai kepala desa. Seorang aparat Babinsa begitu ditakuti di kampung saya pada zaman itu. Zaman yang memperlihatkan manusia-manusia kloning "daripada Soeharto".

Sikap Kaum Muda

Jadi, bagaimana kaum muda sebaiknya menyikapi ini? Dalam banyak diskusi yang saya dengar dan ikuti di pelbagai kesempatan, terlihat sekali anak-anak muda sekarang tidak lagi paham akan apa yang terjadi di masa lalu. Mereka mengalami amnesia sejarah yang parah. Maka, mereka mulai juga mengutuk demokrasi, mencibir kalangan politikus, lalu mempertanyakan tentang kesejahteraan rakyat yang sulit didapat. Yang diketahui oleh anak-anak muda adalah zaman sulit di masa kini dan zaman yang baik di masa lalu.

Bangsa ini memang sudah dididik oleh Muhammad Yamin dan kawan-kawan untuk mengidolakan masa lalu, sehingga ketika zaman beranjak terlihat masa lalu lebih baik daripada zaman kini yang berantakan dihajar tsunami. Kesadaran sejarah yang rendah telah mendorong pragmatisme menjadi pilihan, lalu terkurung dalam kekinian. Anak-anak muda yang amnesia itu menjadi unsur pengkritik yang masif atas kekuasaan.

Namun, terdapat perbedaan signifikan dari potret kaum muda kini dengan yang dulu. Kalau ada anak-anak muda pemberang di masa lalu mereka menghadapi tekanan keras, bahkan masuk penjara. Tetapi, kalangan anak muda pemberang kini paling hanya muncul dalam aksi-aksi demonstrasi yang bersifat simbolik. Dengan mudah mereka juga bisa langsung beralih menjadi pendukung seseorang apabila mendapatkan keuntungan politik dan finansial. Rezim yang lunak membuka peluang untuk kompromi dan negosiasi.

Oleh karena itu, saya benar-benar tidak yakin kalau kalangan anak-anak muda kini masih memiliki kekuatan. Kompromi dan negosiasi telah melumpuhkan mentalitas mereka. Pragmatisme hanya menyediakan kekhawatiran atas bidang pekerjaan yang hendak diraih. Era liberalisasi politik dan ekonomi telah membuat setiap orang mengejar kepentingan pribadi masing-masing. Dengan kebebasan, kesempatan dan peluang apapun terbuka lebar. Pilihan untuk menjadi profesional semakin kuat, ketimbang terus bergelimang dengan persoalan abstrak atas nama idealisme dan ideologi.

Untuk persoalan Soeharto kaum muda yang terlibat untuk mengkritisi hanya terdiri dari stok lama, yakni generasi aktivis kaum muda yang pernah merasakan kegetiran pada zaman Soeharto. Mungkin hanya sisa-sisa dari para angkatan 1998 saja. Penyikapan dari kaum muda generasi kini sulit didapat. Diskusi soal Soeharto bagi mereka adalah pekerjaan yang membosankan. Kebosanan melemahkan perjuangan. Seiring dengan itu, jumlah pengkritik Soeharto juga berkurang drastis, terutama ketika satu per satu mereka terserap ke dalam sistem politik dan kenyamanan sebagai aktivis.

Soeharto dan kaum muda pengkritiknya jelas menjadi orang-orang yang kesepian. Waktu telah membilas kemarahan hanya menjadi nada sumbang yang ditinggalkan para pendukung. Kalaupun ada yang harus dilakukan tampaknya hanya dengan mengupayakan agar Soeharto-Soeharto baru tidak hadir sebagai langkah terakhir. Sebagai pembentuk dan pemilik zaman tugas itulah yang terpampang di depan mata kaum muda, terutama ketika pemilu semakin dekat dan hawa otoritanisme terselubung mulai terasa.

Natal Membawa Damai

December 22nd, 2007 by setulushati

I always like it. Tiga hari lagi kita akan merayakan Natal. Suasana suka cita sudah
kita rasakan sejak awal Desember atau pada Minggu Advent pertama.
Namun, suka cita itu tampaknya tidak bisa menutupi keprihatinan kita
bila dikaitkan terhadap kondisi bangsa ini. Begitu banyak rumah ibadah dirusak,
menghalangi hak pribadi manusia untuk berhubungan dengan Tuhan. Selain
itu, bencana alam yang datang bertubi-tubi menghantam negeri kita, juga
menyiratkan betapa tidak bersahabatnya kita dengan alam. Ketamakan dan
keserakahan dalam mengeksploitasi sumber daya alam berubah menjadi
bumerang.


Lihatlah, kemarau panjang membuat berbagai daerah kering kerontang,
tanah tidak menghasilkan bahan pangan sesuai harapan, bahkan air untuk
kebutuhan sehari-hari juga sulit didapat. Namun, saat hujan datang, air
melimpah dan banjir pun menyusup ke permukiman. Tidak pandang bulu. Orang kaya dan miskin, yang tinggal di gubuk maupun rumah mewah,
terkena imbas.


Yang memprihatinkan, peringatan alam tersebut seolah angin lalu. Ironi memang. Tidak
mengubah sikap manusia untuk menghargai karya Sang Pencipta.
Eksploitasi terhadap hutan masih saja berlanjut. Pembalakan liar masih
saja terjadi dan seolah hukum tidak berdaya menghadapinya. Sangat disayangkan,
sikap serakah mencari harta tanpa mempertimbangkan aspek jangka panjang
masih saja banyak pendukungnya.


Sikap serakah itu pula yang menghantarkan manusia-manusia berlaku
korup, menjadi benalu bagi manusia lain. Jatah si miskin ditilep.
Kemiskinan sepertinya dipertahankan karena menjadi sumber proyek untuk
mencari duit. Sungguh memprihatinkan bahwa masih ada orang yang
memanfaatkan jabatan untuk kepentingan sendiri. Demikian pula mereka
yang mewakili rakyat dan sekarang bisa duduk enak dengan uang
berlimpah, sudah tidak ingat kepada rakyat yang mendukungnya. Seolah
negeri ini milik mereka sendiri.


Tidak mengherankan bila dalam suasana yang demikian muncul rasa
ketidakadilan di tengah masyarakat. Mereka yang berlaku curang bersikap
bak pahlawan, mereka yang seharusnya dihukum bisa bebas berkeliaran,
sementara mereka yang jujur jadi bulan-bulanan. Juga tidak mengherankan bila mata
rakyat terbelalak saat menyaksikan di media massa daftar orang-orang
terkaya dan jumlah kekayaan mereka yang sampai puluhan triliun rupiah.
Sedangkan banyak rakyat yang masih hidup menderita karena tempat
tinggal berubah menjadi lumpur.


But praise to The Lord. Dalam kondisi seperti itu, kita masih melihat ada pengharapan. Karena
faktanya masih banyak (baca; ada saja) para pejabat dan rakyat Indonesia yang terus berjuang
untuk membangun bangsa ini agar menjadi besar. Mereka inilah yang perlu
mendapat dukungan agar mampu menjalankan tugas dengan baik demi
kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Butuh keberanian untuk
menegakkan keadilan dan kebenaran. Dan, untuk itu mereka juga butuh
pertolongan Tuhan agar memiliki kekuatan dalam bertindak.


Pesan Natal bersama 2007 yang dikeluarkan Persekutuan Gereja-gereja di
Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bisa menjadi
pijakan bagi kita dalam merayakan Natal tahun ini. Tema yang diangkat
dalam pesan Natal itu adalah, "Hiduplah dengan bijaksana, adil, dan
beribadah" . Kita berharap mampu menjalankan kehidupan ini seperti tema
tersebut, yaitu hidup bijaksana, adil, dan tidak meninggalkan Tuhan.
Kiranya suka cita Natal terpancar dalam kehidupan setiap umat Kristen
sehingga Natal benar-benar membawa damai bagi semua orang. Yesus
Kristus telah lahir di dunia, dia berkorban menjadi penebus dosa
manusia. Well , jadi, jangan sia-siakan anugerah kasih Allah itu.


Selamat Natal.

Menolak Setiap Upaya Pelemahan KPK

December 10th, 2007 by setulushati

Rame-rame tentang pemilihan pimpinan KPK kemarin, gw jadi berfikir, mengapa penegakan hukum di negeri ini membutuhkan komisi-komisi khusus,
seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan kewenangan extra judicial?
Jawabannya yang berhasil gw simpulkan sendiri, ialah karena badan-badan penegak hukum kita masih lemah, terutama
dalam menangani kasus-kasus korupsi. Jadi KPK dibutuhkan karena kecenderungan
melempemnya lembaga-lembaga reguler. Setuju tidak setuju, nyatanya korupsi sebagai extra ordinary
crime
masih terus mampu melewati ranjau hukum, sehingga diperlukan
penjerat ekstra. Lembaga luar biasa untuk kejahatan luar biasa, yang umumnya
dilakukan orang-orang luar biasa!

Era KPK mampu menumbuhkan semacam chaos di kalangan jejaring
korupsi. Walaupun masih muncul tudingan tebang pilih dalam penanganan banyak
kasus, namun komisi tersebut menerbitkan atmosfer miris. Apalagi
muncul fakta: kalau tersangka korupsi sudah masuk dalam proses hukum di
KPK, jangan harap bisa "keluar". Kewibawaan, bagaimanapun mulai
bisa dirasakan. Namun yang sama mirisnya, antitesis dari kenyataan itu pun lantas dibangun oleh orang-orang
atau kelompok-kelompok yang mulai terganggu atau terancam. Baik melalui
upaya-upaya perlawanan sporadis maupun pembentukan opini publik secara
sistematis.

Penggalangan opini dibarengi dengan upaya-upaya yang dapat ditengarai
sebagai gerakan "anti-KPK" ke arah peniadaan eksistensinya. Wacana-wacana seperti ini jelas sekali terasa bila kita peka mencermatinya dalam tempo-tempo terakhir. Yang
cenderung kita tangkap sejauh ini adalah lewat pintu masuk politis, baik
perundang-undangan maupun pelemahan secara struktural-institusional. Opini
mengenai pola-pola penzaliman oleh KPK gencar disuarakan, bahkan ironisnya
muncul dari pernyataan Antasari Azhar, calon pimpinan yang akhirnya terpilih
sebagai ketua bahwa dia siap pasang badan apabila KPK dijadikan alat penzaliman.
Statemen tersebut sungguh tidak tepat dari sisi proporsionalitas dan integritas
KPK!

Fit and proper test para calon pimpinan KPK oleh Komisi III
DPR menerbitkan banyak tanda tanya elemen-elemen antikorupsi. Dari kualitas
pertanyaan yang diajukan, sampai rekam jejak calon yang disampaikan masyarakat,
yang ternyata kurang mendapat tanggapan. Apakah semua itu merupakan bagian
dari pelemahan institusi, I don’t know, waktu jugalah yang akan menguji. Kini untuk mengawal
agar kinerja komisi itu setidak-tidaknya mendekati wibawa era Taufiequrrachman
Ruki, semua elemen mesti melakukan pengawalan. Lembaga ini harus tetap
berjalan dalam trek sebagai gantungan harapan keadilan.

Idealnya, justru dari parlemenlah mestinya upaya memperkuat KPK digalang untuk
mendukung penegakan hukum yang menjadi komitmen pemerintah. Namun ketika
terdapat realitas yang menyentuh kepentingan terkait dengan sejumlah tokoh
partai politik, yang dominan bukanlah lagi supremasi hukum. Justru terasa
upaya-upaya pelemahan yang kemudian berlangsung lewat proses-proses kelembagaan,
sehingga mengesankan sebagai prosedur yang legal. Ketersentuhan orang-orang
politik dalam kasus korupsi menyebabkan cara pandang yang sangat merongrong
kewibawaan institusi yang sebelum ini dianggap sebagai "superbody".

Secara langsung, jika upaya-upaya sistematis itu berlangsung, yang sangat
dirugikan sebenarnya adalah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Komitmen
pemberantasan korupsi yang masih terus dituding mempola tebang pilih, kini
ditambah dengan rongrongan terhadap eksistensi KPK. Di bawah Antasari Azhar,
kini kita menunggu apakah kekhawatiran publik lewat para pegiat antikorupsi
tentang kewibawaan KPK bakal terbukti atau dibuktikan sebaliknya. Gw pikir sikap
kita sebagai masyarakat sudah jelas: menolak upaya macam apa pun untuk memperlemah, dan apalagi
meniadakan KPK yang tetap merupakan lembaga ekstra untuk kejahatan ekstra.

Narkoba Dibalik Jeruji besi

November 28th, 2007 by setulushati

ANGGAPAN bahwa eksistensi penjara atw lembaga pemasyarakatan
(Lapas) adalah sbg tempat pembentukan mentalitas dan moralitas pelaku
kejahatan agar jera, menyadari, dan tdk mengulangi kejahatannya, ternyata
patut diragukan. Sebaliknya, penjara yg selayaknya mjdi tempat pembinaan
justru semakin mencetak penjahat profesional dan kreatif dlm melakukan
tindak pidana (lainnya).

Gak setuju? Emang faktanya gitu kok. Kondisi itu diindikasikan dgn maraknya pemberitaan media massa akhir2
ini ttg pemakaian, peredaran, produksi, dan pengendalian edar narkoba
di balik penjara. Indikasi itu muncul ke permukaan, menyusul tertangkapnya
Roy Marten yg sekaligus diduga polisi terlibat persekongkolan dgn
orang2 yg msh berstatus napi.

Kenyataan bhw terdapat peredaran narkoba di penjara, sebenarnya bukanlah
berita baru. Gw ngecek, tahun 2004, publik pernah dikejutkan oleh kasus masuknya barang
haram narkotika jenis sabu2 di LP Kebunwaru, Kota Bandung, di salah
satu kamar tahanan narapidana.

Setahun berikutnya, seorang sipir Rutan Salemba, Jakarta, terpaksa
harus dijebloskan ke dalam penjara karena terbukti jadi kurir narkoba
di dalam penjara. Gak cuma itu, mudah2an belum hilang dari ingatan kita pd
saat aparat Polda Jateng bekerja sama dengan Polwil Banyumas dan Polres
Cilacap, berhasil membongkar sindikat peredaran narkoba yang melibatkan
jaringan internasional di Lapas Nusakambangan, di Cilacap.

Baru2 ini, gw baca lagi, Direktorat Narkoba Polda Jawa Timur berhasil membongkar
jaringan narkoba yg ternyata dikendalikan dari tiga rumah tahanan (rutan)
dan lapas, yakni Rutan Kelas 1 Surabaya Medaeng, Lapas Sidoarjo, dan Lapas
Pamekasan.

Bahkan nih, Direktur IV Tindak Pidana Narkoba, Badan Narkotika Nasional
(BNN), Brigjen Indradi Thanos, pernah mengatakan, lbh dari 75 persen
peredaran narkoba di Jakarta dan sekitarnya, dikendalikan dari tiga penjara
yaitu Lapas Cipinang dan Tangerang, serta Rutan Salemba.

Semakin Akrab

 Dengan adanya degradasi fungsi penjara semacam itu, tidak ironis kalau Roy Marten, misalnya, mantan napi yg pernah dipenjara 8
bulan karena tertangkap membawa sabu2 di Jakarta, justru semakin akrab
dgn barang haram tsb, bahkan memiliki ikatan emosional dgn bandar
narkoba.

Naifnya, muncul dugaan polisi bhw penjara tdk sekadar berfungsi
sbg lahan transaksi narkoba, tetapi jg penghuni penjara (narapidana)
dpt berperan sbg koordinator peredaran narkoba di luar penjara. Sangat
ironis. Orang yg hidup di ruangan tertutup dan serba terbatas dpt mengkoordinasi
orang yang hidup di alam bebas. Ini jadinya memang sdh aneh.

Tak menutup kemungkinan, realitas yg sgt memalukan ini sebenarnya
telah berlangsung lama dan terjadi di berbagai lapas di Indonesia, namun
hanya sebagian kecil yg terekspos ke publik. Next, pertanyaan skeptis yg
muncul kemudian, di manakah letak eksistensi penjara yg bertujuan mulia utk mengembalikan harkat dan martabat seorang napi agar kelak dpt berkelakuan
baik di masyarakat?

Revitalisasi Peran Lapas

Menurut gw, secara empirik terdapat dua faktor yg menyebabkan leluasanya
aktivitas dan peredaran narkoba di dalam penjara yg selayaknya menjadi
wilayah terlarang. Pertama, faktor internal, yaitu adanya konspirasi atau
kerja sama yg melibatkan orang dalam. Kedua, faktor eksternal, yaitu
adanya tamu atau pengunjung yg membawa narkoba ke penjara utk diberikan
kepada napi. Di sisi lain, kondisi itu diperparah oleh adanya kelonggaran
prosedur dan persyaratan tamu yg membesuk ke lapas. Implikasinya, penjara
tdk menjadi tempat yg terisolasi dari pengaruh di luar penjara.

Atas dasar itu, penting upaya strategis-teknis merevitalisasi kembali
peran lapas agar interaksi sosial di dalamnya tdk menjadi sarang mafia.
Dalam konteks itu, peran serta masyarakat dan media massa sebagai kontrol
sosial terhadap penjara atau lapas sgt diperlukan.

Memang, kita mengakui penjara selayaknya menjadi ruang tertutup bg
para napi. Tetapi selayaknya ttp memberi celah masuk bagi media massa
dan masyarakat agar terwujud koordinasi yang baik antarpenjara dengan pihak kepolisian
dan media massa, serta masyarakat sehingga fungsi kontrol yuridis ttp bs berjalan. Jika
itu terwujud, persekongkolan kolutif antarnapi dan sipir akan mudah dideteksi.

Nah ini, tentunya para petugas lapas yg terlibat dalam traksaksi narkoba hrs
mendapat hukuman setimpal atas perbuatannya. Mereka tdk hanya dpt diasumsikan
sbg "penghianat" yg ikut berperan serta dlm tindak pidana,
tetapi jg seorang yg tdk amanah terhadap kewajiban. Sebab, persekongkolan
mereka telah meningkatkan mental jahat seorang penjahat.

Selain itu, ringannya hukuman thd para napi yg terlibat dalam
kasus narkoba perlu dikaji ulang. Pelaku penyalahgunaan narkoba hrs mendapatkan
hukuman yg sgt berat agar benar2 jera dan menjadi pelajaran bg
orang lain. Hukuman ringan dpt mendorong para napi utk mengulangi perbuatannya.
Terbukti, mereka msh berani menyimpan sabu2 atau bahkan lbh jauh
mengedarkan di rutan! Secara tidak langsung, hal itu berkaitan dgn ringannya
hukuman yg mereka terima, tidak menjadi efek jera.

Revitalisasi peran penjara adalah agenda yg sangat mendesak bg
pemerintah saat ini. Kultur penyelenggaraan pemasyarakatan adalah problem
pokok yg harus ditindaklanjuti secara serius. Upaya pembentukan kultur
melalui keteladanan dan pendidikan berkelanjutan untuk membentuk petugas
profesional di dalam penjara, adalah keniscayaan yg tak terbantahkan
lagi.

Puisi

November 10th, 2007 by setulushati

apa itu puisi?
puisi adalah sebuah ekspresi, ekspresi dan ekspresi lagi.

Alasan Tuhan Menciptakanmu Saat ini

November 3rd, 2007 by setulushati

Menjadi (terlihat) muda, wah, ini impian banyak orang. Laris-manisnya vitamin-vitamin yang menjaga kekenyalan kulit adalah salah satu contohnya. Juga beraneka suplement food yang mengandung antioksidan dan dipercaya memperlambat proses penuaan. Tidak ketinggalan bermacam-macam pewarna rambut yang membuat teman lama kita berucap terkejut saat reuni: "Wah, kamu sama-sekali tidak berubah dari zaman SMP dulu, lho!" Itu membuat kita tersipu malu, menjawab dengan hati berbunga-bunga. "Ah, kamu mengada-ada…."

Tapi, menjadi muda juga bukan tanpa masalah. Salah satu iklan yang mengisahkan seorang pemandu wisata yang ditinggal tidur (bahkan sampai mendengkur!) peserta wisata yang semuanya adalah para opa dan oma menjadi contoh menarik tentang masalah klasik yang dihadapi seorang muda: tidak dianggap plus tidak dipercaya. Sebutan "anak kemarin sore" pun menjelaskan pemikiran yang biasanya dimiliki senior tentang juniornya.

Sama sekali tidak mengejutkan, karenanya jika untuk - misalnya! - urusan super-penting seperti pemilihan presiden pada 2009 mendatang calon-calon yang muncul - paling tidak sampai sekarang - adalah mereka yang jelas-jelas tidak termasuk orang muda. Kelihatannya anggapan older means wiser masih berlaku hingga kini.

*

Tapi, apa memang benar bahwa yang lebih tua selalu lebih bijaksana? - Hmm… gw merasa ada sekian banyak kepala menggeleng. Tidak setuju! Buktinya, bukan sekadar satu atau dua kasus tertangkapnya pengguna narkoba yang ternyata adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang sebetulnya diharapkan menjadi teladan bagi orang-orang muda. Dan, dari siapa para muda mendapatkan contoh soal menjadi koruptor yang tega mengambil uang yang bukan hak-nya? - tentu saja dari senior mereka.

Jelas banyak excuse bagi mereka yang seharusnya menjadi para teladan. Salah satunya - yang paling gampang dan paling sering diucapkan - adalah "Yah, kami ini ‘kan manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan." Lalu ada juga alasan-alasan seperti tekanan hidup, atau tekanan pekerjaan, atau lagi tekanan ekonomi, dan berbagai tekanan serta beban lainnya.

Sekalipun tidak bermaksud menghakimi, deretan contoh tentang ketidakmampuan senior menjadi teladan bagi yuniornya seharusnya menyadarkan kita bahwa ternyata older means wiser tidak selalu bisa dibenarkan, apalagi selalu diberlakukan.

*

Gagal menemukan keteladanan di kalangan senior tentu saja tidak membuat kita berputus asa. Ya, sebab kita bisa - dan kelihatannya memang sudah waktunya - berpaling pada para yunior, alias pada orang-orang muda. Tapi, terus-terang, ini bukan perkara yang mudah. Dari kalangan muda sendiri saya melihat sekian kepala menggeleng. Ada rasa sungkan pada wajah mereka: "’Kan yang lebih tua dan lebih pantas daripada kami masih banyak." Demikian wajah-wajah itu berujar. Rupanya budaya kita yang menghargai yang lebih tua masih terasa gaungnya.

Wah, repot juga kalau begini. Yang tua "tidak menganggap" yang muda, sedangkan yang muda sendiri merasa "tidak enak hati" terhadap yang tua. Tapi, syukurlah, kita bukan satu-satunya yang menghadapi situasi seperti ini. Timotius juga mengalaminya. Sebagai orang muda yang dipercaya untuk memimpin suatu jemaat, ia kerap merasa "tidak enak hati" jika harus menegur atau menasihati warga jemaat yang lebih tua (bisa-bisa dianggap kurangajar!). Sebaliknya, para senior dalam jemaat tidak jarang memandang Timotius sebagai "anak kemarin sore" yang belum ada apa-apanya!

Menyikapi situasi seperti ini Rasul Paulus menulis surat kepada Timotius. Katanya jelas dan tegas: "Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda." (1 Timotius 4:12) Mengapa sedemikian serius Sang Rasul memandang kemudaan Timotius? Pertama, karena Paulus sangat tahu bahwa banyak kualitas bagus dalam diri Timotius sebagai orang muda. Dan kualitas bagus tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dan (lagi), mengingat Timotius masih muda, kualitas bagus itu masih akan berkembang menjadi lebih bagus dan lebih bagus lagi!

Kedua, karena Paulus tidak ingin Timotius kehilangan kewaspadaan atas kehidupan mudanya. Paulus ingin mengingatkan Timotius untuk sangat berhati-hati dengan hidupnya, sehingga tidak seorang pun mendapat kesempatan untuk menyepelekan, atau merendahkan, atau juga melecehkan Timotius. Baik pikiran, maupun perkataan atau pula tindakan Timotius harus selalu terkontrol dengan baik.

Tentu saja tidak berarti Timotius dilarang berbuat salah. Rasul Paulus tahu pasti betapa Timotius akan berkali-kali melakukan dan membuat kesalahan. Namun, harapan Paulus, kesalahan tersebut bukanlah kesalahan konyol - apalagi tolol - yang sebetulnya bisa dihindari.

**

Selanjutnya, menyadari bahwa para senior dalam jemaat tidak selalu bisa diandalkan untuk menjadi contoh bagi kehidupan berjemaat, Rasul Paulus tidak membiarkan peran para senior tak tergantikan. Itu sebabnya ia meminta Timotius untuk mengambil peran yang seharusnya dilakukan oleh para senior. Lanjut Paulus dalam suratnya: "Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu."

Jelas, Paulus tahu bahwa ini bukan soal mudah untuk Timotius. Tapi, bagi Paulus, kehidupan jemaat jauh lebih penting daripada soal ewuh-pakewuh antara yang tua dan yang muda.

Sebagai tubuh Kristus, demikian keyakinan Paulus, yang tua dan yang muda harus saling melengkapi. Jika yang tua tidak bisa menjadi teladan, maka yang muda harus tampil sebagai teladan. Sebaliknya, jika yang muda menjadi sombong dan arogan, yang tua-lah yang harus menegur serta mengingatkan!

*

Jadi, kembali ke negeri kita sendiri, jika para senior negeri ini tidak mampu menjadi teladan untuk ditiru, sudah waktunya bagi para muda untuk maju sebagai teladan. Dalam hal ini merasa "tidak enak hati" karena kita jujur padahal kalangan tua kita dengan santai korupsi, sama sekali tidak tepat. Demikian pula jika kita sungkan karena tidak menggunakan narkoba padahal senior kita menganggapnya biasa-biasa saja, jelas keliru.

Meyakini bahwa penciptaan dan keberadaan kita bukanlah sebuah kebetulan, tentu ada maksud Tuhan dengan menjadikan kita sebagai orang-orang muda pada masa kini, pada saat negeri kita seperti ini (Tuhan tidak menjadikan kita sebagai orang muda pada masa perjuangan kemerdekaan dulu, misalnya, atau pada masa sekian tahun yang akan datang!).

Jadi, siapa dari kalangan muda yang akan maju sebagai calon presiden dalam Pemilihan Umum 2009 yang akan datang?

Missing u

October 25th, 2007 by setulushati

Malam ini kau hadir lagi bersama keangkuhan diriku

Hanya senyum tanpa interupsi

Namun demi Cinta !!

Kudengar kicau riuh burung pipit surga dalam lembut suaramu

Kulihat jejak-jejak langkah kecil tertatih dalam misteri letih matamu

Kurasakan gelora semesta dalam hangat senyummu

Kaulah Malaikatku ….

Kritik Sekadar Tebar Pesona

September 11th, 2007 by setulushati

Gregetan gw. Sudah jd budaya rupanya (ato penyakit ya?) bahwa mengkritik ternyata lbh gampang dibandingkan mengerjakan sendiri sebuah tugas hingga selesai. Mungkin ini jg menjadi ciri masyarakat dan pemimpin Indonesia shgga bangsa ini nyaris tdk bs keluar dr krisis yg berkepanjangan. Jagonya cuma saling kritik, protes dan menertawakan merupakan hal yg wajar sbg oposisi dlm demokrasi dan sepanjang menyinggung hal2 yg substansial untuk membangun bangsa. Lebih bagus jk kritikan disampaikan phk yg berada pd sisi obyektif dan bukan yg prnh atau msh menjadi bagian dr sistem. Haiaah.

Ini jelas banget jd salah satu sisi yg terlihat dr Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) PDI Perjuangan. Dengan suara lantang dan terkesan mengejek, Ketua Umum PDI-P yg jg mantan Presiden ini mengkritik apa yg dicapai pemimpin bangsa skrg, tepatnya pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Dengan gaya masing2, Presiden Yudhoyono dan Wapres Kalla menanggapi kritik tsb dan berupaya membela diri.

Objektif aja nih ya, gw rasa sjk masa Megawati, bahkan jauh sebelum nya, hingga saat ini pun tdk ada perubahan berarti kok. Benarkah Megawati dan jajarannya berniat memajukan bangsa ini, apalagi dalam tingkat operasional kader PDIP menyumbangkan 12 gubernur, 4 wakil gubernur, 24 bupati, 46 wakil bupati, 12 walikota dan 4 wakil walikota. Kita lihat saja buktinya bagaimana. Walaupun di sisi lain, apa yg disampaikan Megawati terkait kedaulatan dan kepercayaan diri bangsa yg merosot, menurut gw mmg hrs diterima sbg sebuah kenyataan.

Saat ini Indonesia benar2 berada dlm bayang2 kedaulatan bangsa lain. Bahkan, lbh pantas jk kita sebenarnya telah dijajah dr segala sisi. Ya, ada benarnya jg jka Indonesia hrs dipimpin oleh pemimpin seperti Soekarno, tapi kan masalahnya adakah yg msh mewarisi nilai dan semangat Soekarno itu?

Keterpurukan dan kemunduran bangsa kita ialah kontribusi semua pemimpin bangsa. Siapapun pemimpinnya, mereka menjadi bagian yg menambah penderitaan rakyat saat ini. Isn’t right? Untuk itu, kritik sekadar menebar pesona hanya sebuah siklus yang dimainkan pemimpin bangsa untuk menarik dukungan rakyat menjelang perebutan kekuasaan. Itulah kritik tanpa solusi yg selalu berulang setiap lima tahun.

Tentu sayang sekali, jk sebuah forum seperti Rakernas II dan Rakornas PDIP ternyata tdk menyiapkan solusi alternatif atas persoalan bangsa. Pamer kekuatan dan konsolidasi partai hanya sebatas mencari pertautan dan pasangan politik merebut kekuasaan. Namum gw jg tidak mengingkari, pola2 spt itu adalah sebuah kewajaran dlm politik, tetapi harusnya diimbangi dong dgn kontribusi yg membangun. Serta sah2 jg jika forum bergengsi itu hanya utk memastikan Megawati sbg calon presiden (capres) pd Pemilu 2009. Tinggal mencari siapa yg akan menjadi pendampingnya agar terwujud ide besar sbg pemimpin yg memberi solusi kpd bangsa ini. Harapan kita sih begitu.

Alhasil melalui hasil forum besar ini lah, mesin partai pun mulai bekerja dgn sebuah laboratorium konsolidasi lebih dari 15.000 kader PDI-P yg berkumpul di Kemayoran, Jakarta Pusat. Ya harapan gw sebagai rakyat sih nggak muluk2, yaitu semoga Rakernas II dan Rakornas PDIP tidak lg hanya skdr mengambil hati rakyat tanpa arahan operasional dan kontekstual. Demikian jg agar cita2 besar tdk lg hanya mengulang kembali lagu… "janji setinggi langit tetapi hasilnya setinggi bukit…." (uraian nya Bu Mega yg kata SBY mirip lagu, hehe). Mudah-mudahan siklus harapan itu tdk terus-terusan berputar dan berulang, tetapi rakyat tetap menderita. Pemimpin boleh sj mengumbar janji dan slg kritik, tetapi rakyat perlu lbh jeli melihat komitmen tsb. Ada saatnya rakyat bosan dan tdk peduli dgn janji2 tsb.

Reflection

September 3rd, 2007 by setulushati

Sering kalo Ultah saya menulis bbrp catatan. Begitupun ultah yg
kemarin. Ultah adl hari yg tepat utk kita bs reflect back on what we
have been doing for the past one year, right?
Jadi aku ngecheck, apakah
aku udah berbuat banyak tahun ini. Biasanya setiap tahun aku buat
sedikit perjanjian dengan diri sendiri, "Saya Tulus Silalahi mulai hari
ini akan berikrar bla bla bla…"
, ya kira2 begitulah bunyinya. Dan
setiap komitmen2 yg baru bisa dikur pd hari aku ultah kembali. So I
have 1 year to correct my self n’ make a better man
. Nah, pas ultah
kemarin, aku sadar bhw hal2 yg banyak aku ingin ubah, ternyata
dampaknya nggak terlalu banyak, alias nggak berubah-ubah juga tuh.
Namun gitu aku senang juga karena ternyata di beberapa sisi kecil ada
jg perubahan didalam diriku. Memang harus begitu, kan, hidup ini
dinamis bukan statis. Jadi setiap hari, hendaknya kita terus kepengen
utk menjadi org yg lebih baik dari hari yg sebelumnya. Camkan! Life is
about t’ choice we make in our daily lives. What you choose to do today
will effect your future, ok!

Banyak anak muda bertanya, apa si rencana Tuhan dlm kehidupan mereka?
Bahkan bny yg kuatir akan masa depannya. Waktu aku masih lebih muda
(haha…masih 26, ah!), aku sering mikir "Tuhan, aku mau jadi apa 5 th
dari sekarang atau 10 th dari sekarang?"
Andai aku bisa melihat masa
depanku, gambar apa yg akan terlihat? Apa si kata Tuhan ttg masa depan
kita? (Efesus 3:20)!

Ini bukan cuma dalam hal materi lo, namun lebih lagi dalam hal2 kerajan
Allah; Kasih, sukacita, damai sejahtera, dll. Hmm begitu juga waktu
memulai kuliah dulu, aku dengar jelas Tuhan jg janji begitu. Percaya
sama janji Tuhan, minta tolong sama Tuhan, andalkan Tuhan, boleh takut
tapi kasih tau Tuhan…intinya jaga hubungan baik dgn Tuhan, masa depan
pasti gilang gemilang. AKu yakin itu.

Satu lagi! Pilihan yg kupilih hari ini, atau apa yg kukerjakan  hari
ini akan membawa dampak pd masa depanku. Tiap pilihan lho…(Kayak
milih fakultas dulu juga, hehe). Ekonomi kan mau nya jd ekonom, FK jd
dokter. Berarti kalo aku membuat pilihan yg buruk, hasilnya akan buruk
pula. Malas belajar ya IP nya jelek. Bolos kerja, bisa dapat surat
teguran, kan gitu? Tapi sebaliknya. Setiap kali aku memilih dan
melakukan yg benar, masa depanku juga akan baik, dipengaruhi oleh apa
yg aku pilih hari ini. Ini prinsip Alkitab! Apa yg kau tabur akan kau
tuai! Mungkin ada orang yg bilang "Masa depanku ditangan Tuhan" dan itu
ialah kalimat yg benar! Namun banyak anak2 muda yg mengambil kalimat
itu utk tidak berbuat apa2 dgn hidup mereka. Mikirnya, toh Tuhan akan
merawat dan menjaga kita? Lalu malas2an dan tdk mengembangkan kapasitas
atau talenta yg ada didirinya. Camkan! Meski masa depan ditangan Tuhan,
namun kita tetap harus mengerjakan keselamatan kita (Filipi 2:12). Apa
yg sudah kita capai hari ini (dan yakinlah ini hanyapermulaan dari
keseluruhan rencana Tuhan dalam hidup kita!), adalah hasil dari apa yg
kita tabur sejak dulu. Ex: Masuk kuliah karena ikut SPMB kan? Karena
dulu SMU kan? Coba gak sekolah, gak belajar, ya mana bisa! So, kalau
kita ingin menggapai sukses di masa depan, then you better start from
today! Comon!

Hmm ada banyak orang yg sering kita dengar sudah kehilangan harapan
terhadap generasi ini. Mereka bilang bahwa generasi kita sudah hancur
dan bejat. Memang, menurut statistik, generasi kita saat ini sedang
hidup dizaman yg benar2 hancur. Aborsi, narkoba, free sex, hamil luar
nikah, semua meningkat tahun demi tahun. Namun kita jangan memfokuskan
mata ke hal2 yg negatif saja donk! Lihat sekeliling kita, saat ini kita
sdg hidup di zaman yg sangat exiting! Dengan kemajuan teknologi yg luar
biasa dan mengglobal, kita bisa menjangkau orang2 dimanapun dgn
teknologi internet, satelit maupun digital. Sudah saatnya kita
mengambil posisi kita sebagai anak2Nya dan ahli waris Nya yg berada di
posisi terdepan dlm segala bidang!! Dgn Tuhan di pihak kita, kita bisa
menggapai masa depan kita dengan mengerjakan yg terbaik dari kehidupan
kita, dengan itu kita membawa dampak bagi keluarga kita, bagi kota dan
bangsa kita, serta bagi dunia! Believe that! Tapi pilihannya up to U!
You can choose not for anything or you can choose to do something untuk
kerajaan Nya!


Well
, di ultah ini aku berharap dari sekian banyak yg sudah aku lakukan selama ini, yakinlah bahwa masih ada lebih banyak lagi yg bisa aku lakukan bersama Tuhan di tahun yg akan datang. Yukz bersemangat! Mari kita sama2 mengerjakan keselamatan kita dan melebarkan kapasitas kita. Don’t look back at your past, and don’t wory to much about your future! Lakukan yg terbaik utk hari ini dan itu akan membawa dampak yg luar biasa bg masa depan kita. Amin!

Apaan sih Merdeka?

August 21st, 2007 by setulushati

Ngutak-atik definisi, drpd repot, okay
dah aku ambil sari tulisan seorang sahabatku ttg kemerdekaan (Boleh
ya, Vis). Dia sih ngutip jg, mengambil dari pidato Roosevelt’s
Freedom
. Disini arti merdeka disarikan cukup bgs. Merdeka dibagi
dan diurutkan dr bawah biar terlihat yg didasar itu pondasi dr
atasnya.

M4. Merdeka utk beribadah (Freedom Of Worship
God
)
M3. Merdeka utk berpendapat (Freedom Of Speech And
Expression
)
M2. Merdeka dr ketakutan (Freedom Of Fear)
M1.
Merdeka dr kemiskinan atau kebutuhan (Freedom From Want)

M1
dan M2 merupakan masalah dasar kebebasan terutama di negara2
berkembang temasuk Indonesia, Afrika, dll.

Dua yg berikutnya
M3 dan M4 srg diteriakkan oleh negara2 maju namun pastinya 2 teratas
ini jelas memerlukan kedua dasar dibawahnya. Nggak mungkin kita
berekspresi kl perut msh lapar kan? Menyembah Tuhan pun begitu
(rasionalitas spirituil)

M1. Merdeka dari kemiskinan/kebutuhan
(Freedom From Want)

Merdeka dr keinginan dasar (makan
dan minum) atau kemiskinan merupakan dasar dr semua tingkat
kemerdekaan. Peran pemerintah atau negara tentu sj sgt ptg dlm hal
ini. Lah mana bs org berfikir jernih dan bekerja dgn serius kalau
perut lapar? Apa kita bs konsen bekerja kalau isteri terus ngomongin
"itu lo Pak mobil tetangga itu" masih mengganggu
otak, susah la yaw.

M1 ini bs saja memang hanya dilihat
hanya scr tradisional sebagai kemerdekaan dlm artian biologis makan
minum saja.  Tp bs jg dilihat scr lbh mendalam misalnya tipe org
yg kemaruk akan kekayaan materi shg dia jg nggak akan dpt optimum
mengekspresikan diri (M3) dgn bebas, Isn’t Rite? Merdeka M1
ini jg tidak hrs diartikan kemewahan materi yg akhirnya nampak
untouchable. Jadi mikirnya relatif sih mau tradisionil
(kebutuhan dasar) atau materialistis (tersier), kan sm saja intinya
jg kebutuhan. Gue sih juga yakin kalau hanya soal menyediakan sehari
makan 3 kali bukan sesuatu yg mustahil utk dilakukan pemerintah
manapun dlm kondisi perekekonomian apapun jg. Tinggal dirantang aja
kan beres. Harga sesuap nasi tentunya jauh sekali dr harga VLCC
(kasus pak Laks), maupun Sukhoi atau Lamborghini.

Tetapi
mengapa hal ini sering terjadi? Ya mungkin sj hal ini karena mental
penguasa negara dan pengusaha itu masih dapat memanfaatkan M1 saja
sdh cukup utk mengontrol kursi empuknya. Dan payahnya lg kelemahan
dlm hal kemerdekaan yg 1 ini masuk dlm level ekonomi manapun. Tragis
ya, hanya dgn iming2 gaji naik sj bersedia utk milih si anu secara
kasarnya hanya dgn iming2 makan "indomie" saja bs berubah
deh pilihan Cagubnya… Banyak bukan di Jakarta…sedih deh gua
Btw di kantor jg gitu, hanya demi sekian dolar sdh rela
mengorbankan idealismenya.

Gue masih ingat banget peraih hadiah
nobel eknomi Amartya Sen mengemukakan bahwsa masalah kemiskinan
bukanlah terletak pd tidak adanya yg akan dimakan, juga bukan masalah
pendanaan atau pengadaan makanan. Namun lebih banyak karena masalah
distribusi atau pemerataan.

Nah kalau kebutuhan dasar makan minum
wae masih belum terpenuhi ya tentunya kriminalitas akan tetap
merajalela. Bahkan yg lebih prihatin saat ini yg jahat kan lebih
“berani” ketimbang yg baik. Coba deh kalo ada pencurian, jambret,
atau perampokan selalu si penjahat tidak lagi takut2 wajahnya
dikenali. Nyopet zaman dulu itu sembunyi2, tapi zaman sekarang “sak
karape dewe”, nodong aja berani di  muka umum. Nah kalo yg
berkeliaran di gedung DPR mah biarin, itu emang tempat nda umum sih :)

  • Nah, apakah anda, saya, kita ini
    sudah merdeka dari M1 konvensional (makan dan minum)?

  • Apakah kita sudah memerdekakan
    diri dari M1 modern (harta kekayaan)?

M2 Merdeka dari rasa takut (Freeedom of
fear)

Merdeka dr ketakutan yg merupakan,
landasan kedua tentunya sangat penting dalam mengontrol. OK, sekali
lagi mengontrol. Dimana mengontrol ini menjadikan masyarakat
feodalis. Kalo mo makan ya sowan dulu, kalo perlu nunduk2 harus cium
kaki dulu… bahkan yg lazimnya ialah sungkan sm penguasa, takut sm
boss di kantor sehingga harus nyembah atau dlm kasus sederhana anak
buah harus membawakan tas atasannya, Haiaaaah….!

Seringkali M2 ini dipakai dlm berlogika
untuk memperoleh M1. Logika2 feodal misalnya, “La kalo mo makan
nyembah dulu”, “kalo mo naik pangkat ya sowan atasan dulu”…
etc etc.

Banyak sekali cara menakut-nakuti orgf.
Sampai2 polisi yg seharusnya menjadi tameng penjaga malah menjadi
kaya “memedi sawah” utk naku2in burung. Coba apa perasaan andfa
ketika melhat banyak polisi di pinggir jalan? Apakah merasa aman atau
merasa takut berarti ada sesuatu tyerjadi sehingga polisi berkumpul?

    Manage by feear” ini kerap
    jg ada di kantor. Sering terdengar bahwa sang supervisor bilang
    bahwa pak manager minta draft design atau laporan kauangannya
    mesti selesai hari ini, dan itu kita beritahukan ke bawahan kita.
    Dlm hal ini pak manager berkata biasa saja menanyakan kesiapannya,
    namun kita sebagai supervisor memberitahukan pak manager “marah”
    karena draftnya blm selesai. Dengan cara ini sengaja atau tidak kita
    menempatkan next level supervisor sebagai “memedi sawah” bagi
    anak buah.

Tidak mudah memperoleh kemerdakaan M2
ini. Masih banyak di antara negara2 berkembang yg memanfaatkan M2 ini
utk berkuasa. Tentunya kita jg harus dpt membedakan antara orang yg
berani dgn seseorang yg memiliki M2, karena keberanian berbeda dgn
kenekatan dlm bertindak.

M3 Merdeka berpendapat dan berekpresi
(Freedom of speeech and expression)

Di level ini arti kemerdekaan sudah
memasuki ruang publik dr ruang privat. Karena akan terjadi konflik
antara hak pribadi dgn hak publik. Gue ambil contoh kasus film yg
cukup kotroversial BCG (Buruan Cium Gue). Disini akan rumit
membedakan mana yg merupakan hak pribadi dan mana yg merupakan hak
publik, dan apakah hak publik telah menginfiltrasi hak privat. Anda
pun bebas berpendapat soal ini. Whatever u say lah…

Akhirnya yg muncul ialah relativitas.
Sesuatu menjadi benar dlm situasi dan kondisi serta waktu tertentu
untuk si anu. Ndak mungkin seseorang menjadi benar melulu dlm segala
situasi, dlm segala suasana dan dimana saja.

Nah bgmn mungkin seseorang bisa
mengekpresikan kemampuan dirinya secara optimum kalo M1 dan M2 nya
blm diperoleh. Seseorang akan berani mengeluarkan ide kalo saja M1
dan M2 bukan menjadi kendala baginya. Dan sekali lagi, memperoleh M1
tidak harus mewah dan memiliki M2 tidak harus berani nekat.

Yg cukup penting dalam hal ini ialah
ungkapan “Shoot the message not the messanger”. Serang
saja pendapatnya tapi jgn lukai orangnya.

M4 Merdeka dl beribadah (Freedom of
every peerson to worship God)

M4 ini merupakan the ultimate
freedom
. Beribadah di sini ndapat juga diartikan bebas
berhubungan dengan yg sifatnya transendental dan berupa
spiritualitas. Jd bebas dgn yg diper”Tuhankan”. Yg mudah adalah
kebebasan dlm menjalankan ibdh tanpa hrs diatur oleh negara.

Kalo gue sih paling seneng sm ungkapan
“bagiku agamku, bagimu agamamu” titik!

Yg sulit disini ialah bahwa kita hrs
mengerti bahwa hak kebebasan ini dimiliki oleh siapa saja. Dan
besarnya (magnitude) kebebasan ini sm persis antara saya,
Anda, dan dia serta mereka. Sm antara bakul jamu, tukang sapu,
presiden, pengusaha, supervisor, tukang becak maupun karyawan/bawahan
kita dimanapun adanya.

M3 dan M4 ini sering merupakan inti
dari visi misi LSM2 dukungan negara2 maju. M3 dan M4 ini diberikan
(dicekokin) ke LSM2 Indonesia. Nah coba bayangkan apa yg terjadi
seandainya org yg blm memiliki M1 dan M2 mau memperjuangkan M3 danM4?
Pasti deh, amburadul cape dech…maaf nich bukannya gue
anti sm LSM ya ;)


Konsep kemerdekaannya Roosevelt ini
tentu bukan satu2nya konsep merdeka yg harus diikuti, namun gue yakin
aja dapat dipakai seagai wacana bagi kita untuk dapat mengerti makan
sebuah kemerdakaan. Dan harapan gue sederhana sich, tentunya
kita tdk lg berpendapat bahwa kemerdekaan sbg “Kemerdekaan
anak2 kecil”
yg bebas ngompol dimana2. Kemerdekaan ternyata
bukan hal yg sederhana ya?


O ya, pesen temen gue (Davis) ini salah
satunya: “Jin halnya jika cuma ‘demi diriku’ atau ‘demi
keluargaku’
→ itu mah
sekarep-kare
ika kau mau memakai kata2 besar ‘demi
negara’, atau ‘demi bangsa’

berfikirlah dulu tentang artinya. La
p
ndasmu sempal ;)”
,
asal nggak ketangkap polis ya
 :p.

Salam
Merdeka!